Home ENERGI Ekonom Bilang Tata Kelola SDA Oleh Pemerintah Semrawut
ENERGI

Ekonom Bilang Tata Kelola SDA Oleh Pemerintah Semrawut

Share
Share

Jakarta, situsenergy.com

Ekonom Senior UI, Faisal Basri, menuding sengkarut pengelolaan sumber daya alam (SDA) oleh pemerintah ugal-ugalan. Pemerintah terus mengekspoiltasi SDA secara besar-besaran, namun hanya sebagian kecil yang digunakan untuk keperluan dalam negeri terutama komoditas yang masih mentah. Pemerintah lebih banyak melakukan ekspor komoditi tersebut ke berbagai negara tujuan utama.

Sebagai contoh adalah komoditas batubara. Menurutnya cadangan terbukti batubara di Indonesia sekitar 2,2 persen dari total cadangan batubara dunia. Namun produksinya mencapai 7,2 persen dari produksi dunia dan ekspornya mencapai 16,1 persen. Tidak seiimbangnya antara produksi dan ekspor dinilai menjadi persoalan lantaran ada eksploitasi besar-besaran.

Faisal mengatakan komoditas SDA ini selalu dijadikan bamper bagi pertumbuhan ekonomi. Akibatnya ketika produksinya turun ataupun harga turun, komoditas-komoditas akan memberikan sumbangsih yang cukup besar terhadap terjadinya inflasi termasuk untuk komoditi pangan.

“Batubara cadangan kita tidak besar-besar amat, makanya jangan tiru China. SDA ini selalu jadi bamper ekonomi. SDA dijadikan sebagai pemburuan rente, padahal harusnya SDA dijadikan ujung tombak pembangunan nasional,” ujar Faisal dalam konferensi pers di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (14/2).

Di sektor migas, Faisal juga menuding tidak ada niatan serius dari pemerintah untuk membangun sistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Sebagai contoh adalah produksi minyak mentah yang diolah menjadi BBM oleh PT Pertamina (Persero) namun side produknya yaitu naftha cracker tidak dioptimalkan diolah dalam negeri. Justru PT Pertamina malah mengekspor side produk tersebut ke luar negeri padahal ada industri petrokimia, PT Chandra Asri Tbk (TPIA) yang sangat membutuhkan bahan baku untuk berbagai produk tersebut untuk jadi produk turunan naftha.

“Kita lalai kalau kita punya minyak mentah), lalu kita bawa ke kilang hasilkan BBM dan side produknya dikirim ke petrokimia, tapi sampai sekarang Pertamina tidak punya pabrik Petrokimia hanya akan akan terus, lalu Chandra Asri punya petrokimia tapi tidak punya kilang.  Naftanya Pertamina dijual ke luar negeri dan Chandra beli dari luar negeri, jadi tidak terintegrasi secara total,” pungkas Faisal. (DIN)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Indonesia Ubah Peta Harga Nikel Global, HPM Baru Dorong Lonjakan di LME

Jakarta, situsenergi.com Indonesia mulai memainkan peran kunci dalam penentuan harga nikel dunia...

Ekspansi Energi 2026, Sigma Energy Bidik SPBU Baru hingga Infrastruktur SPKLU

Jakarta, situsenergi.com PT Sigma Energy Compressindo Tbk menyiapkan langkah ekspansi agresif pada...

Verifikasi Emisi Listrik Diperketat, Kemenperin Dorong Industri Menuju NZE 2060

Jakarta, Situsenergi.com Kementerian Perindustrian memperkuat langkah menuju Net Zero Emission (NZE) 2060...

Anggaran Subsidi BBM Aman Hingga Akhir 2026, Menkeu: Dana Kita Cukup!

Jakarta, situsenergi.com Pemerintah memberikan kepastian segar bagi masyarakat terkait keberlanjutan bantuan energi...