Logo SitusEnergi
DEhN Dorong EBT dalam Komposisi Energi Nasional DEhN Dorong EBT dalam Komposisi Energi Nasional
Jakarta, situsenergy.com Ketua Dewan Energi Nasional (DEN) Prof. Tumiran mengatakan, bahwa pihaknya terus mendorong energi baru terbarukan (EBT) dalam komposisi energi nasional. Pasalnya, untuk... DEhN Dorong EBT dalam Komposisi Energi Nasional

Jakarta, situsenergy.com

Ketua Dewan Energi Nasional (DEN) Prof. Tumiran mengatakan, bahwa pihaknya terus mendorong energi baru terbarukan (EBT) dalam komposisi energi nasional. Pasalnya, untuk jangka panjang EBT sangat kompetitif.

Hal ini disampaikan Tumiran dalam paparannya pada Seminar National Energy Summit (NES) 2017 terkait ketenagalistrikan yang digagas oleh BEM UI dan BEM FTUI bekerjasama dengan SP PLN di Jakarta awal pekan ini.

“Memang pada awalnya EBT itu lebih mahal dari energi fosil karena biaya investasi awalnya yang sangat besar seperti PLTA yang harus membangun bendungan atau PLTP yang harus melakukan pengeboran mencari sumber uap, namun untuk jangka panjang sangat kompetitif,” katanya.

Sementara Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik dan Kawasan Kementrian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah mengatakan untuk menghadirkan energi murah dan listrik murah, maka kerjasama bidang terkait sangat diperlukan, sepertì misalnya dengan kementerian teknis ESDM serta sinergi antara BUMN energi seperti Pertamina, PGN dan PLN.

Terkait dengan reserve margin pembangkit listrik, ia mengatakan bahwa untuk Indonesia sebaiknya reserve margin sekitar 30%. “Reserve margin tidak boleh terlalu berlebih demikian juga tidak boleh terlalu kecil karena sangat beresiko terhadap biaya dan keandalan. Kita harus mencari reserve margin yang tepat,” katanya.

BACA JUGA   Medco E&P Malaka dan Pemkab Aceh Berdayakan Masyarakat

“Jangan seperti Singapura yang reserve marginnya sampai 100% sehingga mengakibatkan tarif listrik lebih mahal padahal biaya energi primer yang diterima mereka lebih murah,” tambah dia.

Sebelumnya akademisi UI, Prof. Iwa Garniwa yang tampil sebagai pembicara pertama menyoroti soal listrik swasta yang katanya membuat pola operasi sistem kelistrikan tidak efisien. Saya sepakat bahwa keberadaan pembangkit listrik swasta harus dibatasi. Saya orang yang menolak pembangunan pembangkit listrik swasta yang lebih besar dari yang dibangun oleh PLN”, katanya.

Menurut Iwa, jika alasannya karena PLN tidak punya pendanaan untuk membangun, maka hal itu sangat tidak tepat. “Seharusnya setelah revaluasi aset maka PLN punya kemampuan untuk mendapatkan pendanaan 3x lebih besar dari equity nya,” tukas Profesor yang juga dikenal sebagai pengamat energi ini.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Serikat Pekerja (SP) PLN, Jumadis Abda mengatakan, Seminar National Energy Summit (NES) 2017 terkait ketenagalistrikan yang digagas puhaknya bekewja sama dengan BEM UI dan BEM FTUI yang juga didukung oleh Iluni FTUI dan Iluni UI itu akan menjadi gerakan bersama seluruh komponen pemangku kepentingan di dalam negeri untuk menghadirkan energi dan listrik murah untuk masyarakat. “Kami berharap seminar ini akan menghadirkan energi dan listrik yang murah untuk kita semua,” pungkasnya.(adi)

BACA JUGA   Pertamina Beri Pendampingan CSR dan Pelatihan Manajemen Keuangan ke Warga Tuban

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *