Home ENERGI Industri Baja Minta Pemerintah Turunkan Harga Gas dan Listrik
ENERGI

Industri Baja Minta Pemerintah Turunkan Harga Gas dan Listrik

Share
Share

Jakarta, situsenergy.com

Tingginya harga gas dan listrik di Indonesia membuat sejumlah industri baja dan turunannya resah. Salah satunya adalah  industri baja lapis ringan.

“Kita tidak senang dengan adanya kenaikan harga gas dan listrik ini. Kita tidak menikmati kenaikan energi. Walaupun demikian kami tetap bekerja keras dan tingkatkan efisiensi,” kata Simon Linge, President Director PT NS BLUEScope pada sejumlah media, Selasa (30/1/2018) di Cilegon, Banten.

Harga energi (gas dan listrik) Indonesia, diakui Simon lebih tinggi dari negara-negara Asean lain. Akibat tingginya harga listrik dan gas, mau tidak mau turut  berpengaruh pada harga produksi. “Kami tahu pemerintah sedang berusaha menangani ini,” ujar Simon.

Menghadapi persoalan tersebut, pihak perusahaan melakukan berbagai langkah. Diantaranya berkoordinasi dengan bagian manufaktur untuk melakukan efisiensi di berbagai komponen.

Disamping efisiensi energi, efisiensi juga dilakukan di sektor-sektor lainnya. “Efisien di proyek-proyek dan hal-halkecil,” katanya. Bahkan setiap karyawan bisa mengusulkan ide-ide efisiensi.

Tantangan lainnya adalah membanjirnya produk lapis baja ringan dari luar negeri, yaitu Cina dan Vietnam. “Kita bukan takut berkompetisi tapi mereka melakukan dumping. Perdagangan Bebas Asean, kita tidak takut karena kita mempunyai SDM berkualitas untuk bisa menghasilkan produk berkualitas,” katanya.

Dia juga menambahkan, “Pertumbuhan industri lapis baja ringan naik tapi dipenuhi dengan baja impor yang murah dari Cina dan Vietnam”.

Simon juga menyatakan bahwa pertumbuhan lapis baja ringan pada 2017 lambat serta belum sesuai harapan.

Oleh sebab itu, dia berharap agar pemerintah segera mengeluarkan kebijakan yang efisien, baik untuk hulu, tengah dan hilir.

Sementara itu, Vicky Senior Eksternal Communication PT Krakatau Steel mengatakan harga gas domestik sebesar 6 USD per MMBTU (million metric British thermal unit). Hal ini karena mata rantainya terlalu panjang. “Di Malaysia 4  USD per MMBTU. Kita menginginkan harga gas seperti di Malaysia,” kata Vicky. Bila harga gas industri kompetitif, tentu industri dalam negeri pun tumbuh dan bisa berkompetisi di dunia global. (Fyan)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sudah Saatnya Prabowo Juga Pecah Kementerian ESDM Menjadi Kementerian Energi Dan Kementerian Sumber Daya Mineral

Jakarta, situsenergi.com Sudah saatnya pemerintahan Prabowo mempertimbangkan secara serius pemisahan Kementerian Energi...

Sofyano: Danantara Perlu Lanjutkan Merger BUMN Atau Subholding atau Anak Perusahaan BUMN

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan merger subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) patut diapresiasi...

Opini: Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Keberadaan Danantara harus dimaknai...

KAI Perkuat Ketahanan Energi Lewat Angkutan Barang Non-Batubara

Jakarta, Situsenergi.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja solid pada awal...