Jakarta, Situsenergi.com
PT PLN (Persero) merombak struktur bisnisnya dengan menggabungkan dua anak usaha, PT PLN Electricity Services (PLN ES) dan PT PLN Nusa Daya (PLN ND), menjadi subholding PLN Services. Langkah ini bukan sekadar mengurangi jumlah perusahaan, tetapi juga menjadi strategi untuk memperkuat layanan kelistrikan dan meningkatkan efisiensi operasional.
Penggabungan yang berlangsung pada Jumat (23/10) di Kantor Pusat PLN, Jakarta, mengikuti arahan Presiden Republik Indonesia melalui Danantara Asset Management (DAM). Integrasi tersebut menyatukan pengalaman, tenaga kerja, kompetensi, dan jaringan kedua perusahaan yang selama ini bergerak di bidang operasi dan pemeliharaan atau Operation & Maintenance (O&M).
Bukan Sekadar Merger, PLN Bidik Efisiensi dan Keandalan
Senior Director Business Performance & Asset Optimization DAM, Bhimo Aryanto, menegaskan bahwa penyatuan perusahaan harus menghasilkan nilai tambah, bukan hanya perubahan struktur organisasi.

“Merger hari ini adalah fondasi pertama menuju supporting O&M services PLN. Namun, di sini saya ingin menekankan satu hal sejak awal, merger bukan tujuan akhir. Merger adalah instrumen untuk menciptakan value yang lebih besar,” ujar Bhimo.
Menurutnya, penataan BUMN dan anak usahanya mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2026 tentang Percepatan Program Penataan BUMN dan/atau Anak Usaha BUMN. Program tersebut menyasar penyederhanaan struktur korporasi, efisiensi operasional, peningkatan daya saing, serta optimalisasi alokasi modal.
Bhimo juga menekankan bahwa transformasi BUMN harus memberikan dampak yang lebih luas daripada kepentingan perusahaan. Pengelolaan aset negara, menurut dia, perlu menghasilkan manfaat ekonomi jangka panjang bagi Indonesia.
PLN Services Gabungkan Pengalaman 38 Tahun
Direktur Utama PLN, Suroso Isnandar, menyebut penggabungan PLN ES dan PLN ND sebagai upaya memperkuat sinergi bisnis O&M di lingkungan PLN Group.
PLN ES telah melayani wilayah Sumatera, Jawa, dan Bali selama 15 tahun. Sementara itu, PLN ND memiliki pengalaman 23 tahun melayani kawasan Indonesia timur, mulai dari Kalimantan hingga Papua.
“Kita akan melakukan streamlining dengan harapan, dapat membangun organisasi yang lebih lean, lebih kokoh, dan juga efisien. Bisnis yang sejenis kita satukan, kompetensi yang ada kita perkuat, dan sumber daya yang kita optimalkan untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar,” tegas Suroso.
Ia memastikan merger ini tidak menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK). Seluruh pegawai tetap beralih tanpa pengurangan status maupun hak.
Dua Pilar Layanan Jadi Andalan Baru
PLN Services akan menjalankan dua bidang utama. Pertama, Generation Services yang menangani operasi, pemeliharaan, perbaikan pembangkit, serta penyediaan suku cadang.
Kedua, Business Enablement Services yang menyediakan dukungan operasional, termasuk tenaga kerja, pengamanan, dan fasilitas. Perusahaan juga akan mengembangkan pasar di sektor industri, pembangkit non-PLN, energi baru terbarukan, serta pasar nasional dan regional.
Selain itu, PLN Services berencana memperkuat layanan berbasis teknologi, seperti digitalisasi, pemeliharaan prediktif, dan manajemen aset.

Melalui konsolidasi ini, PLN menargetkan organisasi yang lebih efisien sekaligus layanan kelistrikan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Keberhasilan langkah tersebut pada akhirnya akan bergantung pada kemampuan perusahaan menerjemahkan sinergi menjadi peningkatan kualitas layanan dan keandalan listrik. (*)
Leave a comment