Home ENERGI Penerapan Standar EURO IV Pada Kendaraan Bermesin Diesel Diundur, Ini Penyebabnya
ENERGI

Penerapan Standar EURO IV Pada Kendaraan Bermesin Diesel Diundur, Ini Penyebabnya

Share
Share

Jakarta, Situsenergy.com

Penerapan standar EURO IV pada kendaraan bermesin diesel yang sedianya dilakukan pada awal April 2021, terpaksa diundur satu tahun, menjadi 2022. Hal itu seiring dengan kesiapan produsen kendaraan, khususnya karena saat ini masih terimbas oleh pandemi covid-19.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK Dasrul Chaniago, dalam diskusi soal BBM Berkualitas yang diselenggarakan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Jumat (11/12/2020).

“Akibat pandemi covid-19 yang melanda dunia dan Indonesia, persiapan pemberlakuan Euro 4 untuk kendaraan diesel akan ditunda sampai April 2022 yang semula dijadwalkan berlaku April 2021,” ujar Dasrul.

Penerapan standar emisi gas buang EURO IV tersebut, kata Dasrul, merupakan bagian dari pengendalian emisi sumber bergerak, yakni menurunkan emisi per kilometer perjalanan kendaraan melalui efisiensi penggunaan teknologi untuk kendaraan bermotor, termasuk didalamnya penggunaan energi bersih.

“Ini perlu didukung semua sektor, karena urusan BBM bersih berkaitan dengan Kementerian dan Lembaga lain, termasuk juga menurunkan panjang perjalanan melalui pembangunan transportasi massal, serta membangun pedestrian ramah pejalan kaki,” tuturnya.

Dasrul menambahkan, acuan dari pemberlakuan standar emisi gas buang kendaraan EURO IV sendiri yakni Peraturan Menteri KLHK Nomor 20 Tahun 2017 tentang baku mutu gas buang emisi kendaraan tipe baru, kategori M, N dan O.

“Nah, penerapan standar emisi EURO IV ini tergantung pada kualitas BBM yang kita miliki. BBM yang digunakan harus sesuai dengan standar EURO IV,” tuturnya.

Diakui Dasrul, penggunaan BBM berstandar rendah masih dominan di Indonesia. Ia mengungkap, harga BBM berkualitas yang masih cukup tinggi, menjadi faktor utama yang menjadikan BBM berkualitas rendah masih jadi favorit warga Indonesia.

“BBM ramah lingkungan seperti Pertamax 92, Pertamax Turbo atau Pertamina Dex, masih jauh lebih mahal ketimbang BBM berkualitas rendah seperti Premium, Pertalite dan Solar. Padahal, kendaraan yang digunakan saat ini, teknologinya sudah tidak sesuai dengan Premium, Pertelite atau Solar. Tahun 2019 persentase penjualan Pertamax Turbo hanya mencapai 0,6 Persen, Pertamax 92 11,3 persen, sementara Pertalite 55 persen dan Premium 33 persen,” pungkasnya. (SNU/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Indonesia Ubah Peta Harga Nikel Global, HPM Baru Dorong Lonjakan di LME

Jakarta, situsenergi.com Indonesia mulai memainkan peran kunci dalam penentuan harga nikel dunia...

Ekspansi Energi 2026, Sigma Energy Bidik SPBU Baru hingga Infrastruktur SPKLU

Jakarta, situsenergi.com PT Sigma Energy Compressindo Tbk menyiapkan langkah ekspansi agresif pada...

Verifikasi Emisi Listrik Diperketat, Kemenperin Dorong Industri Menuju NZE 2060

Jakarta, Situsenergi.com Kementerian Perindustrian memperkuat langkah menuju Net Zero Emission (NZE) 2060...

Anggaran Subsidi BBM Aman Hingga Akhir 2026, Menkeu: Dana Kita Cukup!

Jakarta, situsenergi.com Pemerintah memberikan kepastian segar bagi masyarakat terkait keberlanjutan bantuan energi...