Home OPINI Menutup ‘GAP’ Produksi Migas Nasional
OPINI

Menutup ‘GAP’ Produksi Migas Nasional

Share
Menutup 'GAP' Produksi Migas Nasional
Share

Oleh: Salis Aprilian
Anggota Dewan Kehormatan IATMI (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia)

Ada optimisme yang cukup kuat ketika melihat peta potensi hulu migas Indonesia. Tetapi pada saat yang sama, ada ironi yang sulit diabaikan. Produksi migas nasional masih memerlukan kerja keras untuk mencapai angka yang ditargetkan. Hal ini disampaikan oleh Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, pada acara Simposium IATMI di Jakarta, 15 September 2026 yang lalu,

Dalam paparannya, dikatakan bahwa Indonesia memiliki 128 cekungan sedimen, namun baru 20 cekungan yang berproduksi. Sebanyak 65 cekungan bahkan belum dieksplorasi, sedangkan 27 cekungan telah memiliki discovery. Sisanya, sebanyak 16 cekungan, masih memerlukan data kajian lebih lanjut.

Artinya, setelah lebih dari satu abad industri minyak dan gas bumi berkembang di negeri ini, sebagian besar “dapur” hidrokarbon Indonesia sesungguhnya masih menunggu untuk dibuka.

Potensinya juga tidak kecil. Berdasarkan data yang disampaikan, potensi minyak Indonesia diperkirakan sekitar 2,10 miliar barel, dengan cadangan terbukti sekitar 2,33 miliar barel. Untuk gas, potensinya sekitar 21,07 TCF, sementara cadangan terbukti mencapai 34,78 TCF.

Pada sisi wilayah kerja, per 31 Agustus 2026 terdapat 165 Wilayah Kerja, terdiri dari 107 WK eksploitasi, 55 WK eksplorasi aktif, serta 3 WK eksplorasi dalam proses terminasi. Industri ini ditopang sekitar 3.199 lapangan dalam status eksplorasi dan pengembangan, lebih dari 44.700 sumur, dan 126 “proven play.”

Angka-angka itu menunjukkan satu hal, bahwa persoalan migas Indonesia bukan semata-mata soal sumber daya (resources). Persoalan terbesarnya adalah bagaimana mengubah sumberdaya menjadi cadangan (reserves), reserves menjadi proyek, proyek menjadi produksi, dan produksi menjadi “value.”
Di situlah tantangan sesungguhnya dimulai.

Dari Discovery Menuju Produksi

Beberapa tahun terakhir kegiatan hulu migas sebenarnya memberikan sinyal yang menggembirakan. Aktivitas eksplorasi menghasilkan sekitar 99 discoveries, dengan success ratio yang dipaparkan mencapai sekitar 50 persen.

Peta discovery tersebut membentang dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Indonesia Timur. Nama-nama seperti Layaran, Tangkulo, Timpan, Geng North, Geliga, Parang, Julang Emas, Tedong, Keke-Keke, dan berbagai temuan lainnya menunjukkan bahwa cerita eksplorasi Indonesia belum selesai. Bahkan pusat gravitasi eksplorasi secara perlahan mulai bergeser.

Lapangan-lapangan mature di Indonesia Barat tetap penting, tetapi masa depan penambahan cadangan besar semakin mengarah kepada frontier area, deepwater, serta kawasan Indonesia Tengah dan Timur.

Masalahnya, discovery tidak otomatis menjadi produksi. Di antara discovery dan first gas atau first oil terdapat perjalanan panjang, yakni harus melalui appraisal, POD, FEED, komersialisasi, perizinan, pembiayaan, EPC, pengeboran development well, pembangunan fasilitas hingga akhirnya hidrokarbon benar-benar mengalir.

Karena itu, ukuran keberhasilan eksplorasi tidak boleh berhenti pada pertanyaan “Berapa TCF atau berapa juta barel yang ditemukan?”
Pertanyaan berikutnya justru lebih penting, yaitu “Kapan temuan itu bisa diproduksikan?”

Realitas Produksi Hari Ini

Di tengah besarnya potensi tersebut, angka produksi menunjukkan tantangan yang lebih konkret. Realisasi liquid lifting YTD Agustus 2026 sebesar 578,5 ribu barel per hari, atau sekitar 94,8 persen dari target APBN sebesar 610 ribu barel per hari.

Gas menghadapi kondisi serupa. Realisasi gas lifting berada di sekitar 5.212 MMSCFD, atau 94,6 persen dari target APBN sekitar 5.508 MMSCFD.

Sekilas gap-nya tidak terlalu besar. Tetapi, dalam industri migas, menutup beberapa persen gap terakhir justru sering menjadi pekerjaan paling sulit. Lapangan-lapangan mature mengalami natural decline, fasilitas produksi menua, well integrity harus dijaga, sementara proyek-proyek baru membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum menghasilkan produksi.

Data SKK Migas menggambarkan persoalan itu dengan cukup jelas. Produksi migas Indonesia pernah berada di kisaran 831 ribu BOPD pada tahun 2016, kemudian turun menjadi sekitar 801, 772, 745, 708, hingga bergerak di kisaran 600 ribuan dan sekarang realisasi 2026 berada di 578,5 ribu BOPD.

Artinya, industri sebenarnya sedang berlomba melawan decline. Setiap tambahan produksi baru tidak seluruhnya menjadi ‘net additional production.’ Sebagiannya hanya digunakan untuk menggantikan produksi yang hilang akibat penurunan alamiah reservoir.

Inilah yang sering tidak terlihat ketika kita sekadar membicarakan target produksi.

Mengejar 610 Ribu Barel

Menariknya, SKK Migas masih melihat kemungkinan target 610 ribu BOPD dapat dikejar.

Dari realisasi Agustus sebesar 578,5 ribu BOPD, outlook 2026 without FTG (fill the gap) berada sekitar 591,1 ribu BOPD. Artinya, masih terdapat gap sekitar 18,9 ribu BOPD terhadap target APBN.

Gap itu hendak ditutup melalui beberapa sumber tambahan produksi, antara lain: Program NGL Hilir Jan–Feb 2026 memberikan kontribusi sekitar 2,0 ribu BOPD. Pengurasan dead stock sekitar 6,8 ribu BOPD. Optimasi sumur masyarakat sekitar 5,0 ribu BOPD, optimasi KKKS idle sekitar 0,6 ribu BOPD, serta hasil produksi kegiatan Bor/WO/WS di atas target dan potensi lainnya sekitar 4,5 ribu BOPD.

Jika semuanya terealisasi, outlook produksi dapat mendekati 610 ribu BOPD. Tetapi kata kuncinya adalah “jika semuanya terealisasi.”

Nyatanya, industri migas tidak hidup di dalam spreadsheet. Target produksi pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan mengeksekusi pekerjaan di lapangan.

Lima Jalan Mengejar Produksi

Strategi yang disampaikan SKK Migas menarik karena memperlihatkan bahwa peningkatan produksi tidak lagi dapat mengandalkan satu resep, tapi setidaknya ada 5 resep.

Pertama, Multi-Stage Fracturing (MSF). Teknologi hydraulic fracturing bertahap digunakan untuk meningkatkan produktivitas reservoir yang secara konvensional tidak ekonomis atau memiliki permeabilitas rendah.

Kedua, optimasi produksi melalui penerapan teknologi, termasuk Enhanced Oil Recovery (EOR) dan pengeboran horizontal. Pada lapangan mature, tambahan produksi tidak selalu harus berasal dari discovery baru. Molekul yang masih tertinggal di reservoir existing bisa sama berharganya dengan discovery baru apabila dapat diproduksikan secara ekonomis.

Ketiga, reaktivasi sumur tidak aktif atau idle wells.
Data yang dipaparkan menunjukkan terdapat sekitar 16.990 sumur tidak aktif, dan sekitar 4.495 sumur di antaranya berpotensi diaktifkan kembali untuk mendukung peningkatan produksi.

Angka tersebut sangat menarik. Kalau sebuah sumur baru membutuhkan kegiatan subsurface, drilling, completion hingga pembangunan fasilitas, idle well pada kondisi tertentu sudah memiliki sebagian infrastrukturnya. Dengan screening yang benar, workover yang tepat, serta keekonomian yang memadai, idle wells bisa menjadi salah satu sumber quick wins.

Keempat, mempercepat eksplorasi minyak dan gas di kawasan Indonesia Timur. Kawasan ini menyimpan potensi besar, tetapi membutuhkan kebijakan fiskal, infrastruktur dan skema kerja sama yang mampu mengkompensasi risiko geologi, kedalaman laut, jarak dari pasar dan besarnya investasi.

Kelima, sumur masyarakat, melalui implementasi Permen ESDM No. 14 Tahun 2025. Kebijakan ini membuka ruang bagi BUMD, koperasi dan UMKM (BKU) untuk mengelola sumur masyarakat dalam kerangka legal, keselamatan dan tata kelola yang lebih baik.

Dengan demikian, strategi peningkatan produksi bergerak pada dua horizon sekaligus, yakni short-term production optimisation dan long-term reserve replacement. Keduanya disinergikan, bukan dipertentangkan.

Triple 100: Dari Slogan Menjadi Mesin Eksekusi

Salah satu instrumen yang menarik adalah Program ‘Triple 100’. Targetnya sederhana untuk diingat, yakni 100 exploration wells, 100 multistage fracturing, dan 100 development wells.

Status Agustus 2026 menunjukkan development well telah mencapai 100, sehingga target tercapai. Exploration well berada di angka 93, menyisakan 7. Sedangkan multistage fracturing mencapai 82, sehingga masih tersisa 18.

Secara komunikasi, Triple 100 memang mudah menjadi slogan, namun nilainya bukan pada angka seratus. Nilainya adalah ketika program tersebut membentuk sebuah “manufacturing mindset” dalam industri hulu migas, yakni pengeboran dan intervensi sumur tidak lagi dipandang sebagai proyek individual yang berdiri sendiri, tetapi sebagai portofolio pekerjaan berulang yang dapat distandardisasi, dipercepat, dan diturunkan biayanya.
Semakin cepat cycle time, semakin cepat pula first oil atau first gas.

Musuh yang Sering Terlupakan: ‘Aging Facilities’

Ada persoalan lain yang tidak kalah serius, yakni fasilitas yang menua. Banyak fasilitas produksi Indonesia sudah beroperasi selama puluhan tahun. SKK Migas secara spesifik menyebut perlunya peningkatan keandalan fasilitas di Tempino–Plaju Trunkline, pipa OSES dan ONWJ, serta fasilitas di Duri Steamflood.

Ini adalah isu strategis. Kita bisa mengebor lebih banyak sumur, melakukan EOR, menemukan reservoir baru dan mengoptimalkan sumur lama. Tetapi apabila flowline, trunkline, compressor, processing facility, gathering station atau export system tidak memiliki reliability yang memadai, tambahan produksi tersebut tetap tidak akan sampai ke titik serah.
Dengan kata lain, “production capacity without facility reliability is only theoretical production.”

Maka, investasi untuk asset integrity seharusnya tidak dipandang sebagai biaya pemeliharaan semata. Ia merupakan bagian dari strategi ketahanan produksi nasional.

Dari Hulu ke Hilir

Yang menurut saya paling menarik justru muncul pada bagian pathforward presentasi tersebut, yakni “Upstream & Downstream Integration.”

Kalimat ini sangat penting. Selama ini diskusi produksi migas sering terlalu upstream-centric. Kita sibuk membicarakan lifting, drilling, EOR dan discovery. Padahal hidrokarbon baru mempunyai nilai ketika bisa diproses, diangkut, dijual dan digunakan oleh konsumen.

Gas merupakan contoh paling jelas. Menemukan gas tidak berarti gas tersebut otomatis memiliki pasar. Harus ada pipeline, LNG plant, FSRU, receiving terminal, jaringan distribusi, pembangkit listrik, industri, pupuk, petrokimia atau anchor buyer lainnya.

Karena itu proyek-proyek strategis seperti WNT–Pemping maupun Duri–Sei Mangke menjadi bagian dari mata rantai yang sama.

Ini membawa kita kepada paradigma yang lebih luas, yakni hulu tidak boleh berjalan sendiri. Hilir pun tidak dapat berkembang tanpa kepastian hulu. Keduanya harus dirancang sebagai satu value chain.

Tiga Pilar Eksekusi

Pada akhirnya, SKK Migas menggambarkan strategi percepatan melalui tiga aktor, yakni SKK Migas, KKKS, dan Pemerintah.

SKK Migas berperan sebagai ‘Orchestrate & Accelerate,’ yaitu meningkatkan perencanaan dan penyelarasan WP&B, mempercepat pengambilan keputusan, memantau delivery KKKS, memfasilitasi eksekusi proyek dan mendorong monetisasi penemuan.

KKKS harus ‘Invest & Execute,’ yakni menempatkan modal, mengadopsi teknologi, mengeksekusi proyek, meningkatkan efisiensi operasional dan memastikan production delivery.

Sementara Pemerintah harus ‘Enable & De-risk’ melalui kebijakan fiskal dan pajak yang kompetitif, percepatan perizinan, penyediaan lahan dan infrastruktur, komersialisasi gas serta koordinasi lintas sektor dan regional.

Pembagian peran tersebut tampaknya sederhana. Namun, dalam praktiknya, justru di sinilah bottleneck industri migas sering terjadi.

Sebuah proyek bisa secara geologi sangat menarik, secara engineering feasible, tetapi tidak pernah mencapai FID karena persoalan fiskal, pasar, perizinan, lahan, bankability, atau keputusan yang terlalu lama.

Dengan demikian, sasaran akhirnya seharusnya bukan sekadar menambah aktivitas. Yang harus dipersingkat adalah waktu antara discovery dan first production.

Faster First Oil

Ada satu kalimat pada slide terakhir yang menurut saya merangkum persoalan hulu migas Indonesia, yakni “Siklus Waktu Lebih Singkat → Biaya Lebih Rendah → Faster First Oil.”

Saya ingin menambahkan satu mata rantai lagi, yaitu: Faster Discovery → Faster Decision → Faster Development → Faster First Oil/Gas → Faster Value.

Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan peluang geologi. Kita memiliki 128 cekungan, sementara hanya 20 yang telah berproduksi dan 65 bahkan belum dieksplorasi. Kita mempunyai puluhan discovery baru, ribuan lapangan dan puluhan ribu sumur. Kita juga memiliki hampir 17 ribu idle wells yang sebagian masih berpotensi dihidupkan kembali.

Yang kita perlukan sekarang adalah kecepatan mengubah potensi menjadi produksi. Karena dalam industri migas, waktu mempunyai harga.

Satu tahun keterlambatan proyek bukan sekadar satu tahun keterlambatan produksi. Ia berarti cash flow yang tertunda, penerimaan negara yang hilang, kebutuhan impor yang meningkat, utilisasi infrastruktur yang tertunda dan ketahanan energi yang semakin rentan.

Oleh karenanya, langkah menutup ‘gap’ produksi migas nasional atas target APBN 610 ribu BOPD sebenarnya bukan persoalan angka semata. Ia adalah ujian terhadap kemampuan kita bekerja secara terintegrasi, yakni regulator yang mempercepat, KKKS yang berinvestasi dan mengeksekusi, pemerintah yang menghilangkan hambatan, serta industri hulu dan hilir yang bekerja sama, tidak dalam silo masing-masing.

Kita memang harus terus menemukan cadangan baru. Tetapi discovery tanpa development hanyalah potensi. Development tanpa market hanyalah aset. Dan produksi tanpa deliverability belum menciptakan value.

Pada akhirnya, tantangan terbesar industri migas Indonesia mungkin bukan lagi sekadar menemukan minyak dan gas di bawah permukaan bumi.

Tantangan kita adalah seberapa cepat kita mampu membawanya ke permukaan, mengalirkannya ke pasar, dan mengubah setiap molekul menjadi nilai bagi Indonesia. [•]

*Bogor, menjelang Dhuha
Kamis, 17 September 2026

Iatmi Pusat
Igs Igs
Pertamina
#migasindonesia
#iatmi
#indonesiaoilandgas

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sofyano: Antrean BBM Bukan Sekadar Soal Pasokan, Kuota dan Pengawasan Harus Dibenahi

Jakarta, Situsenergi.com Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria mengapresiasi langkah Pertamina Patra Niaga...

Salis Aprilian: Jangan Bentuk BUK Baru yang Tumpang Tindih dengan Pertamina

Jakarta, situsenergi.com Rencana pembentukan Badan Usaha Khusus Minyak dan Gas Bumi (BUK...

SIBUK DISKUSIKAN BUK

Oleh: Salis S. AprilianSenior Advisor Indonesian Gas Society (IGS) Ada satu topik...

Dua BUMN Listrik, Jangan Mengatasnamakan EBT Tapi Membuat Lemah PLN

Sofyano ZakariaPengamat Kebijakan Energi dan Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI) Usulan...