Bekasi, Situsenergi.com
Musim kemarau tak lagi menjadi momok bagi petani di Desa Cicau, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Program Electrifying Agriculture PLN membuat lahan pertanian sekitar 40 hektare tetap mendapatkan pasokan air meski memasuki puncak musim kering.
Program tersebut membantu Kelompok Tani Berkah Sakabeh mengubah sistem pengairan dari pompa berbahan bakar minyak (BBM) menjadi berbasis listrik. Perubahan ini membuat petani lebih leluasa mengatur irigasi sekaligus meningkatkan intensitas tanam.
Salah satu petani sekaligus local hero, Masum, mengatakan sebelumnya petani harus mengeluarkan biaya untuk membeli BBM setiap kali mengoperasikan pompa air.
“Dulu kami harus membeli BBM untuk menjalankan pompa air dan tetap bergantung pada musim. Sekarang air tersedia kapan saja karena menggunakan listrik. Biaya operasional jauh lebih hemat, pekerjaan lebih cepat, dan kami bisa menanam tiga kali dalam setahun,” tutur Masum.

Tanam Naik, Pendapatan Ikut Terdongkrak
PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah (UIT JBT) menghadirkan sambungan listrik baru berkapasitas 10.600 volt ampere (VA). Sambungan tersebut terintegrasi dengan pompa irigasi dan instalasi kelistrikan di area pertanian sekitar jalur transmisi SUTET 500 kV Cibatu–Deltamas.
Kehadiran listrik membuat kelompok tani meningkatkan intensitas tanam dari sebelumnya dua kali menjadi tiga kali dalam setahun. Masum menyebut perubahan tersebut turut meningkatkan pendapatan petani sekitar Rp12 juta setiap tahun.
Tak berhenti pada pengairan, PLN juga memberikan dukungan dari proses budidaya hingga pascapanen. Petani mendapat dua unit traktor listrik, mesin perontok padi, mesin pemotong rumput listrik, serta saung petani yang memiliki panel listrik.
PLN juga mendukung penyediaan bibit padi dan cabai serta memberikan pelatihan pengolahan hasil panen dan pemasaran produk.
Pemakaian BBM Turun 2.560 Liter
Sepanjang setahun, Kelompok Tani Berkah Sakabeh mencatat konsumsi listrik sebesar 11.994 kilowatt hour (kWh). Pada saat yang sama, pemanfaatan listrik tersebut membantu mengurangi penggunaan BBM sekitar 2.560 liter per tahun.
Direktur Retail dan Niaga PLN M. Fahrur Rozy mengatakan pemanfaatan listrik untuk pertanian dapat memberikan nilai tambah bagi kegiatan produktif masyarakat.
“Ketika akses energi mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan memperkuat pendapatan petani, maka listrik menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujar Rozy.
Secara nasional, pelanggan Electrifying Agriculture dan Electrifying Marine (EA-EM) PLN hingga Agustus 2026 mencapai 450.654 pelanggan. Total daya terpasang mencapai 5.646 MVA dengan konsumsi listrik sebesar 4.970,98 GWh.
General Manager PLN UIT JBT Amiruddin menegaskan PLN ingin memastikan manfaat program terus berkembang.

“Kami ingin memastikan dukungan yang diberikan mampu mendorong kemandirian, meningkatkan produktivitas, dan membuka peluang bagi petani untuk mengembangkan usaha pertaniannya,” pungkas Amiruddin. (*)
Leave a comment