Lampung, Situsenergi.com
Pengembangan bioetanol di Indonesia memasuki babak baru. Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) resmi meluncurkan Bioethanol Development Center di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Senin (14/9).
Fasilitas ini menjadi pusat pengembangan dan pengujian bioetanol berskala pilot. Pertamina NRE akan menguji berbagai bahan baku, teknologi, hingga proses produksi untuk mendorong pengembangan ekosistem bioetanol nasional.
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menjelaskan pusat tersebut mengusung pendekatan multi-feedstock dan multi-generation. Artinya, pengembangan tidak hanya memanfaatkan beragam bahan baku, tetapi juga menguji teknologi bioetanol generasi pertama (1G) dan generasi kedua (2G).

Sorgum Jadi Andalan Baru
Salah satu bahan baku yang mendapat perhatian adalah sorgum. Tanaman ini dinilai menarik karena memiliki potensi produktivitas sekaligus siklus panen yang kompetitif.
“Yang menarik dari sorgum ini, selain produktivitasnya, siklusnya juga bisa tiga kali panen dalam setahun,” ujar John.
Pertamina NRE mengembangkan sorgum dengan pendekatan multi-generation. Nira dapat menjadi bahan baku bioetanol generasi pertama, sedangkan batang atau sisa biomassa setelah pengambilan nira dapat dikembangkan untuk bioetanol generasi kedua.
Target Produksi Bioetanol 1 Juta KL
Bioethanol Development Center memiliki kapasitas produksi hingga 60 kiloliter per tahun pada skala pilot. Fasilitas tersebut akan menguji rangkaian proses mulai dari pre-treatment, hidrolisis, fermentasi, distilasi, hingga dehidrasi.
Pengujian juga mencakup teknologi pre-treatment untuk mengolah bahan baku bioetanol generasi kedua.

John menegaskan Pertamina NRE ingin mendukung target besar pengembangan bioetanol nasional.
“Pertamina NRE sangat berkomitmen dalam mendukung program Presiden dan cita-cita besar untuk mencapai produksi 1 juta kiloliter bioetanol per tahun dengan sistem multi-generation,” kata John Anis.
Lampung Dibidik Jadi Pusat Bioetanol
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengatakan pengembangan bioetanol dapat mempertemukan sektor pertanian, industri, teknologi, investasi, dan masyarakat dalam satu rantai ekonomi berbasis energi terbarukan.
“Lampung memiliki 430 ribu KL, dengan strategi utama reaktivasi, sinergi dengan PTPN, pengembangan sorgum terintegrasi generasi pertama (1G) dan generasi kedua (2G), pilot Bioethanol Development Center atau pusat pengembangan percontohan biomassa, hilirisasi singkong, hilirisasi jagung serta konversi pabrik, sehingga dapat mendukung ketahanan energi,” ujar Todotua.
Peluncuran fasilitas ini juga menghasilkan dua nota kesepahaman. Pertama, Pertamina NRE dan Pemerintah Provinsi Lampung sepakat mengembangkan agribisnis, ketahanan energi, dan pangan.
Kedua, Pertamina NRE, TMMIN, TTI, dan raBit menjajaki potensi teknis serta komersial produksi dan pemanfaatan bioetanol berkelanjutan di Indonesia.
Ke depan, hasil uji skala pilot akan menjadi dasar penilaian teknis, ekonomi, dan komersial sebelum pengembangan menuju skala demonstrasi dan komersial. (*)
Leave a comment