Jakarta, situsenergi.com
Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menyambut baik pernyataan Presiden Prabowo soal rencana pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS). Hal ini dianggap sebagai momentum terwujudnya gagasan Indonesia Metal Exchange (IMEX) yang diperjuangkan sejak 2023.
“Selama tiga tahun terakhir, APNI konsisten mendorong gagasan Indonesia Metal Exchange. Indonesia tidak boleh terus menjadi price taker atas komoditas yang kami produksi sendiri dalam jumlah terbesar di dunia,” ujar Ketua Umum APNI, Nanan Soekarna dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).
Sekretaris Jenderal APNI, Meidy Katrin Lengkey menambahkan BMKS akan menghadirkan kedaulatan harga, optimalisasi penerimaan negara melalui basis data transaksi yang akurat, serta pengawasan perdagangan yang lebih transparan.
Bursa ini juga menjanjikan transparansi harga, instrumen lindung nilai domestik, serta kepastian pasokan bahan baku. Penambang akan memperoleh posisi negosiasi lebih kuat, sedangkan smelter dan industri hilir dapat mengunci biaya produksi dengan risiko volatilitas lebih rendah.
“Keberhasilan bursa akan ditentukan oleh integritas data, kejelasan tata kelola, dan keterlibatan penambang nasional sejak hari pertama — bukan oleh seberapa cepat fitur diluncurkan,” tegasnya.

APNI menegaskan dukungan penuh terhadap pembentukan BMKS dengan prasyarat tata kelola independen, keterlibatan produsen nasional, serta penyelarasan Harga Patokan Mineral dengan metodologi Indonesia Reference Price. (DIN/GIT)
Leave a comment