Home OPINI Belajar Tata Kelola Gas dan LNG: Peluang dan Tantangan di Asia
OPINI

Belajar Tata Kelola Gas dan LNG: Peluang dan Tantangan di Asia

Share
Belajar Tata Kelola Gas dan LNG: Peluang dan Tantangan di Asia
Indonesia berpeluang memperkuat posisi strategis dalam pasar LNG Asia.
Share

Oleh: Salis Aprilian
Senior Advisor to GS (Indonesian Gas Society)

Di tengah berbagai ketidakpastian geopolitik dunia, perang dagang, serta transisi energi global, satu pesan yang paling kuat saya tangkap dari presentasi Sam Chua (Partner, Rystad Energy Advisory Asia-Pacific) pada The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 di Bali adalah bahwa dekade berikutnya akan menjadi “dekade LNG Asia Berkembang (Emerging Asia)”.

Namun, peluang besar tersebut hanya akan dinikmati oleh negara yang mampu menyediakan LNG yang murah (affordable), tepat waktu (deliverable), dan memiliki strategi investasi yang lebih cepat dibanding pesaingnya.

Pergeseran Besar Pusat Permintaan LNG Dunia

Selama dua dekade terakhir, pertumbuhan LNG dunia didominasi oleh Jepang, Korea Selatan, dan China. Kini kondisinya berubah.

Menurut proyeksi Rystad Energy, sekitar 85% pertumbuhan permintaan LNG global hingga 2035 berasal dari Emerging Asia, terutama: India, Bangladesh, Pakistan, Vietnam, Filipina, Thailand, dan Indonesia

Sementara permintaan Jepang dan Korea cenderung stagnan bahkan menurun akibat efisiensi energi dan dekarbonisasi.

China sendiri masih tumbuh, tetapi laju pertumbuhannya mulai melambat dibanding beberapa tahun lalu, seiring meningkatnya produksi gas domestik, impor gas pipa, dan energi terbarukan.

Artinya, pusat gravitasi pasar LNG dunia perlahan bergeser dari Asia Timur menuju Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Permintaan Diperkirakan Mencapai Puncak Sekitar Tahun 2039

Materi presentasi Rystad menunjukkan permintaan LNG dunia terus meningkat hingga sekitar tahun 2039 sebelum mulai relatif mendatar.

Yang menarik bukan sekadar kenaikan volumenya, tetapi siapa yang menjadi motor pertumbuhan.

Jika sebelumnya China menjadi mesin utama pertumbuhan LNG, maka pada dekade berikutnya tongkat estafet tersebut berpindah kepada negara-negara berkembang yang masih membutuhkan energi murah untuk mendukung industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi.

Gelombang Pasokan Baru Akan Mengubah Peta Persaingan

Di sisi lain, pasar akan menghadapi gelombang pasokan LNG baru mulai sekitar tahun 2028, terutama berasal dari Amerika Serikat dan Qatar

Dua negara tersebut diperkirakan menyumbang sekitar 80% tambahan pasokan LNG dunia pada fase awal ekspansi.

Akibatnya, pasar diperkirakan memasuki periode “temporary oversupply.”

Konsekuensinya cukup jelas. Harga LNG Asia diperkirakan mengalami tekanan turun beberapa tahun sebelum kembali naik setelah pertengahan dekade 2030-an.

Bagi pembeli LNG, periode ini merupakan kesempatan memperoleh kontrak jangka panjang dengan harga kompetitif. Namun bagi produsen, inilah masa ketika efisiensi biaya menjadi penentu hidup-mati proyek LNG.

Harga Menjadi Faktor Penentu

Salah satu informasi yang paling menarik menunjukkan bahwa permintaan LNG di Emerging Asia ternyata sangat sensitif terhadap harga.

Menurut analisis Rystad, permintaan tambahan baru benar-benar muncul apabila harga LNG mendarat di kisaran sekitar US$7/MMBtu atau lebih rendah.

Apabila harga berada jauh di atas angka tersebut, banyak negara berkembang memilih tetap menggunakan batubara, BBM, atau menunda konversi menuju gas.

Dengan kata lain, gas bukan hanya harus tersedia. Gas juga harus terjangkau.

Di sinilah tantangan besar proyek-proyek LNG berbiaya tinggi.

Asia Tenggara Akan Semakin Bergantung pada LNG

Hampir seluruh negara Asia Tenggara mengalami pola yang sama. Produksi gas domestik terus menurun, sementara kebutuhan listrik dan industri terus meningkat. Akibatnya, impor LNG menjadi semakin besar.

Thailand

Thailand diproyeksikan akan melipatgandakan bahkan hampir tiga kali lipat impor LNG karena penurunan produksi domestik di Teluk Thailand.

Kontrak LNG dari Qatar, Amerika Serikat, Malaysia, hingga pembelian spot akan menjadi penopang utama kebutuhan energi mereka.

Vietnam

Vietnam memiliki target sangat ambisius membangun pembangkit listrik berbahan bakar LNG. Namun implementasinya masih menghadapi hambatan berupa keterlambatan pembangunan terminal, dan keterbatasan turbin, serta belum selesainya berbagai Power Purchase Agreement (PPA).

Artinya, permintaan sebenarnya sudah ada, tetapi infrastrukturnya belum siap.

Indonesia

Yang mungkin paling mengejutkan justru Indonesia.

Rystad memperkirakan bahwa Indonesia juga mulai memasuki fase ketika produksi lapangan-lapangan gas tua menurun, sementara kebutuhan domestik meningkat. Akhirnya membutuhkan tambahan LNG.

Grafik yang ditampilkan memperlihatkan kesenjangan antara pasokan domestik dan permintaan mulai melebar setelah pertengahan dekade 2030-an.

Ironisnya, sejak lama Indonesia menjadi salah satu produsen LNG terbesar dunia. Namun tanpa penemuan lapangan besar baru dan percepatan pengembangan proyek-proyek strategis seperti: Lapangan Abadi di Blok Masela, Indonesia Deepwater Development (IDD), Blok Andaman, maupun berbagai lapangan gas lainnya, Indonesia dapat berubah dari eksportir menjadi importir LNG dalam jumlah yang semakin besar.

Jepang Bergerak Lebih Cepat

Mungkin materi presentasi Rystad paling penting justru bukan mengenai harga maupun permintaan. Melainkan peta investasi Jepang di Asia.

Perusahaan-perusahaan Jepang seperti: Tokyo Gas, Mitsubishi, Mitsui, Marubeni, JERA, JBIC, ternyata sudah mengambil posisi strategis di hampir seluruh rantai nilai LNG Asia.

Mereka tidak hanya membeli LNG. Mereka berinvestasi pada terminal impor, FSRU, pembangkit listrik, jaringan gas, bahkan kepemilikan saham proyek-proyek LNG di berbagai negara.

Dengan kata lain, Jepang sedang membeli masa depan pasar LNG Asia.

Ketika permintaan benar-benar melonjak beberapa tahun lagi, mereka sudah berada di dalam ekosistem tersebut.

Pelajaran bagi Indonesia

Bagi Indonesia, pesan dari presentasi ini sangat jelas. Kita tidak cukup hanya memiliki cadangan gas besar.

Cadangan gas belum tentu menjadi kesejahteraan. Yang menentukan adalah seberapa cepat proyek dikembangkan; seberapa kompetitif biaya produksinya; seberapa pasti regulasinya; serta seberapa menarik proyek tersebut bagi investor global.

Momentum temporary oversupply mulai tahun 2028 justru harus dimanfaatkan untuk menyelesaikan proyek-proyek LNG nasional sebelum pasar kembali mengetat setelah pertengahan dekade 2030-an.

Presentasi Rystad Energy menutup paparannya dengan kalimat yang sangat menarik:
“Affordability and early strategic positioning will decide who captures Emerging Asia’s LNG decade.”

Saya melihat kalimat tersebut bukan sekadar prediksi pasar. Ini adalah peringatan bahwa negara yang bergerak lebih cepat akan menguasai rantai nilai LNG Asia.

Sebaliknya, negara yang lambat mengambil keputusan hanya akan menjadi pasar bagi LNG dari negara lain.

Indonesia masih memiliki peluang besar melalui Masela, IDD, Andaman, serta berbagai proyek gas lainnya. Namun, peluang tersebut tidak akan menunggu.

Dalam industri energi, waktu sering kali lebih mahal daripada cadangan gas itu sendiri. [•]

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Musim Kemarau Jangan Sampai Berubah Menjadi Krisis Distribusi BBM di Wilayah Sungai

Oleh : Sofyano ZakariaPengamat Kebijakan Energi Musim kemarau yang menyebabkan penurunan debit...

MASELA di Pusaran Geopolitik Energi Global

Oleh: Salis Aprilian Indonesian Gas Society (IGS) kembali menyelanggarakan IndoPacific LNG Summit...

PRABOWO DAN GROUNDBREAKING PROYEK BESAR ENERGI MASELA

Oleh: Denny JA Di sebuah desa di Kepulauan Tanimbar, Maluku, seorang nelayan...

Masela: Raksasa yang Lama Tidur dan Mulai Terbangun

Oleh : Andi N Sommeng Di sebuah laut yang jauh dari hiruk-pikuk...