Home ENERGI Mantan Bos Pertamina: Kondisi Bisnis Hulu Migas RI Saat Ini Dalam Kondisi Tidak Baik
ENERGI

Mantan Bos Pertamina: Kondisi Bisnis Hulu Migas RI Saat Ini Dalam Kondisi Tidak Baik

Share
kondisi bisnis hulu migas ri saat ini dalam kondisi tidak baik
Share

Jakarta, Situsenergy.com – Mantan Direktur Pertamina, Ari Soemarno mengungkapkan kondisi bisnis hulu migas RI yang saat ini dalam kondisi tidak baik. Menurutnya, banyak hal yang membuat sektor hulu migas menjadi tertekan, hal itu dimulai dari perubahan skema Cost Recovery menjadi sistem bagi hasil (Gross Split).

Ari yang merupakan anggota Bimasena Energy itu mengungkapkan, “pemaksaan” yang dilakukan pemerintah dalam hal skema bisnis tersebut, telah terbukti membuat investasi di sektor hulu migas menjadi tidak menarik. Ia bahkan menyebut, kondisi saat ini investasi hulu migas merupakan yang terendah, dibandingkan dengan masa-masa sebelum kebijakan itu terbit.

“Sampai-sampai tingkat investasi di sektor hulu migas menjadi yang paling rendah, yang belum pernah kita alami sebelumnya. Dan juga iklim usahanya makin hari makin memburuk,” ujar Ari dalam diskusi daring Bimasena Energy, Jumat (13/11/2020).

Salah satu contoh lagi dimana pemerintah disebutnya memaksakan kehendak yakni terkait pengembangan Lapangan Abadi Masela, di mana awalnya pihak kontraktor berencana membangun fasilitas LNG di laut (offshore), namun kemudian direvisi menjadi kilang darat sesuai dengan kehendak pemerintah.

“Sampai sekarang saya belum yakin terus terang, saya terlibat dalam pengembangan LNG sejak tahun 1970-an. Kita miss-opportunity terus karena ada pemaksaan-pemaksaan,” tuturnya.

Menurutnya, hal-hal seperti ini yang menjadi tantangan pengembangan sektor hulu migas kedepannya. Pemerintah disebutnya harus segera mengatasi hal ini, terlebih target produksi migas RI yang kedepannya harus mencapai 1 juta BOEPD.

Ari menambahkan, di dalam Revisi UU Migas nanti, perlu dikaji secara mendasar, mulai dari segi paradigma dan pola pikir, agar Industri migas ini jangan sampai dijadikan alat optimasi penerimaan negara, melainkan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi.

“Itu harus dimulai dari situ. Banyak hal yang harus dilakukan dan dipertimbangkan,” pungkasnya. (SNU/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sengketa LNG PGN-Gunvor Memanas, Pengamat Desak PGN Buktikan Force Majeure

Jakarta, situsenergi.com Sengketa pasokan liquefied natural gas (LNG) antara PT Perusahaan Gas...

Arahan Danantara, PGN Mulai Rambah Bisnis Hilir Gas

Jakarta, situsenergi.com PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) mulai mengubah arah...

Bank Tanah Sediakan Lahan untuk PLTS 100 GWp

Jakarta, situsenergi.com Badan Bank Tanah menyiapkan lahan seluas 76 hektare di Kabupaten...

Gempa NTT Guncang Layanan Kesehatan, ESDM Kirim 48 Genset ke 7 Kabupaten

Jakarta, situsenergi.com Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengirimkan 48 genset...