Home ENERGI Harga Minyak WTI Anjlok Ke Level Negatif, Energy Watch : Ini Bersejarah
ENERGI

Harga Minyak WTI Anjlok Ke Level Negatif, Energy Watch : Ini Bersejarah

Share
Share

Jakarta, situsenergy.com

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level negatif untuk pertama kali dalam sejarah pada, Senin (20/4/2020) waktu America Serikat atau Selasa (21/4/2020) Waktu Indonesia Barat. Dikutip dari Reuters, harga minyak berjangka AS itu mengakhiri hari di minus US$37,63 per barel, sebagai akibat dari ruang penyimpanan di Cushing, Oklahoma penuh dan tak bisa lagi menampung cadangan minyak.

Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan mengatakan, hal ini sangat luar biasa dan baru pertama kali di dunia. Harga energi Fossil minus tersebut seakan-akan menunjukkan bahwa energi sudah tidak ada lagi harganya di dunia.

“Tapi saya kira ini hanya sementara saja, ini sebagai reaksi pasar akibat kontrak untuk pembelian minyak WTI kontrak bulan Mei akan berakhir minggu ini, dan akan melanjutkan ke kontrak bulan Juni. Dengan demikian, trader memberikan diskon agar bisa menjual stock mereka. Saya kira harga akan kembali ke level US$20/barel,” ujar Mamit Setiawan kepada SitusEnergy saat dihubungi pada Selasa (21/4/2020).

Terkait dengan bisnis migas Pertamina, Mamit berpendapat bahwa dengan melihat situasi terkini, memang sebaiknya Pertamina melakukan shutdown terlebih dahulu terhadap salah satu kilang mereka. Menurutnya, sembari menunggu perkembangan lebih baik, BUMN migas itu bisa memanfaatkan waktu untuk melakukan over haul dan proses maintenance.

“Dengan situasi sekarang,Pertamina saya kira memang harus shutdown dulu kilang mereka, yang kalau tidak salah Balikpapan ya, sekalian mereka melakukan over haul dan maintenance selama proses shut down ini. Setidaknya jika harga sudah lumayan membaik, bisa mereka gunakan kembali,” tuturnya.

Dengan kondisi harga minyak seperti saat ini, menurut Mamit akan jauh lebih menguntungkan jika Pertamina melakukan impor. Sebab, jika memaksakan produksi maka hal itu akan menimbulkan kerugian saja.

“Saat ini, impor sepertinya akan lebih menguntungkan jika di bandingkan dengan produksi sendiri. Ini akan membantu efisiensi dari dalam Pertamina sendiri,” pungkasnya. (SNU/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sudah Saatnya Prabowo Juga Pecah Kementerian ESDM Menjadi Kementerian Energi Dan Kementerian Sumber Daya Mineral

Jakarta, situsenergi.com Sudah saatnya pemerintahan Prabowo mempertimbangkan secara serius pemisahan Kementerian Energi...

Sofyano: Danantara Perlu Lanjutkan Merger BUMN Atau Subholding atau Anak Perusahaan BUMN

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan merger subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) patut diapresiasi...

Opini: Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Keberadaan Danantara harus dimaknai...

KAI Perkuat Ketahanan Energi Lewat Angkutan Barang Non-Batubara

Jakarta, Situsenergi.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja solid pada awal...