Home ENERGI PLN Sebut Listrik Jadi Solusi Defisit Perdagangan dan Kemiskinan
ENERGI

PLN Sebut Listrik Jadi Solusi Defisit Perdagangan dan Kemiskinan

Share
Share

Jakarta, Situsenergy.com

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN memastikan akan terus mendukung program pengembangan kendaraan listrik. Hal itu sesuai mandat dari Presiden Joko Widodo agar pemanfaatan kendaraan listrik dapat mendorong penurunan konsumsi BBM. PLN dipastikan akan mendukung program tersebut melalui penyediaan energi listrik melalui penyediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai tempat agar pengguna kendaraan listrik dapat mudah melakukan pengisian ulang.

Wakil Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, mengatakan program pengembangan kendaraan listrik yang digagas pemerintah adalah demi mengurangi impor BBM. Pasalnya selama ini impor BBM sangat tinggi sehingga mendorong defisit perdagangan.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka impor BBM sepanjang 2019 sebesar USD19,37 miliar. Apabila ditambah dengan impor gas maka total impor minyak dan gas (migas) mencapai USD21,88 miliar. Akibat tingginya impor migas tersebut defisit perdagangan pada 2019 secara total mencapai USD3,20 miliar. Oleh sebab itu perlu ada gebrakan agar pemanfaatan energi mengandalkan sumber dari dalam negeri melalui listrik sehingga angka defisit migas dan defisit perdagangan secara keseluruhan dapat ditekan.

“Kalau kita berbicara mengenai mobil listrik, kaitannya berapa konsumsi minyak kita per hari. Yaitu 1,5 juta barel per day. Nah setiap kita impor BBM misalnya sampai Rp140 triliun, maka pertumbuhan ekonomi kita berkurang satu persen,” ujar Darmawan dalam ngobrol pagi bersama awak media di Kementerian BUMN, Jumat (17/1).

Darmo, sapaan akrabnya, berharap dengan mengoptimalkan pemanfaatan energi listrik nasional, potensi pertumbuhan ekonomi nasional bisa terangkat. Terlebih saat ini secara nasional tidak ada lagi defisit listrik. Hal itu berbeda dengan tahun-tahun yang lalu sebelum proyek 35 giga watt (GW) bergulir.

“Jika persoalan impor BBM ini bisa diselesaikan, maka pertumbuhan ekonomi kita bisa sampai 7 persen. Maka marinkita gunakan sumber energi yang tadinya berbasis impor menjadi berbasis domestik,” ulasnya.

Lebih lanjut, Darmo juga menyatakan bahwa pemanfaatan listrik secara optimal juga bisa membantu mengentaskan kemiskinan. Dengan adanya jaringan dan suplai listrik, daerah yang tadinya tertinggal dipastikan secara berangsur-angsur akan berkembang. Sebab akan ada unit-unit usaha mikro di tengah masyarakat yang bermunculan. Dengan adanya geliat ekonomi tersebut maka kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat.

“Bank dunia menyatakan bahwa ketiadaan listrik menjadi salah satu sumber penyebab kemiskinan karena tanpa ada listrik mereka tidak bisa akses peradaban dunia yang sudah berkembang luar biasa. Maka dari itu PLN tidak diam, bersama komponen bangsa kita mengatasi persoalan yang lama terjadi,” pungkas dia. (DIN/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sudah Saatnya Prabowo Juga Pecah Kementerian ESDM Menjadi Kementerian Energi Dan Kementerian Sumber Daya Mineral

Jakarta, situsenergi.com Sudah saatnya pemerintahan Prabowo mempertimbangkan secara serius pemisahan Kementerian Energi...

Sofyano: Danantara Perlu Lanjutkan Merger BUMN Atau Subholding atau Anak Perusahaan BUMN

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan merger subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) patut diapresiasi...

Opini: Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Keberadaan Danantara harus dimaknai...

KAI Perkuat Ketahanan Energi Lewat Angkutan Barang Non-Batubara

Jakarta, Situsenergi.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja solid pada awal...