Home ENERGI Impor Biodiesel Dikenakan Tarif Tinggi, Kemendag Protes Ke WTO
ENERGI

Impor Biodiesel Dikenakan Tarif Tinggi, Kemendag Protes Ke WTO

Share
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memberikan pemaparan terkait perkembangan ekspor impor di sela-sela peluncuran sistem aplikasi "dashboard" peningkatan ekspor, pengendalian impor (PEPI) dan peresmian Pusat Logistik Berikat di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (15/3) malam. Melalui pemanfaatan teknologi sistem informasi tersebut diharapkan mampu mendorong peningkatan ekspor dan pengendalian impor dengan mengumpulkan data ekspor impor serta mengindentifikasi masalah dan hambatan proses ekspor. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/aww/17
Share

Jakarta, Situsenergy.com

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengaku telah melayangkan surat protes atas pemberlakuan tarif bea masuk antisubsidi (BMAS) untuk produk biodiesel oleh Uni Eropa (UE) ke World Trade Organization (WTO). Keberatan pemerintah atas kebijakan UE tersebut didasarkan pada tarif BMAS Biodiesel sebesar 8 hingga 18 persen. Hal itu mengancam ekspor produk biodiesel nasional terbebani.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, menegaskan reaksi keras pemerintah Indonesia ini sebagai bentuk pembelaan terhadap tindakan sewenang-wenang pemerintah UE terhadap produk CPO dan turunannya dari Indonesia. Seperti diketahui produk CPO dan turunannya adalah salah satu komoditas utama ekspor nasional.

“Kita udah kirim surat ke WTO, juga uda kirim surat ke Menteri Perdagangannya menyampaikan masalah itu,” kata Enggar di Jakarta, Rabu (4/9).

Ditegaskannya juga bahwa apa yang dilakukan pemerintah terkait penolakan sikap UE tersebut juga telah disampaikan kepada Komisi VI DPR RI. Dalam pernyataannya DPR juga mendukung upaya pemerintah dalam menyikapi sikap UE.

Enggar juga menambahkan setelah menyampaikan nota keberatan, pihaknya akan mengundang para importir produk olahan susu. Nantinya, dia akan meminta mereka untuk mengalihkan impornya dari Uni Eropa ke Amerika Serikat atau negara-negara lain. Upaya ini juga sebagai bentuk “balas dendam” terhadap sikap UE.

“Nah, sekarang kita daripada gitu, kenapa harus dari Eropa (impor susu), kenapa tidak dari Amerika, India, Australia dan lain sebagainya. Sekarang pindah – pindahin aja,” pungkasnya. (DIN)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PTBA dan PNRE Jajaki PLTS di Lahan Pascatambang

Jakarta, Situsenergi.com PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) bersama PT Pertamina New...

KII Gandeng OMS Italia, Industri Valve Nasional Siap Naik Kelas Lewat Alih Teknologi

Cikarang, situsenergi.com PT Katup Industri Indonesia (KII) memperkuat langkahnya di industri manufaktur...

Penyesuaian Regulasi Harga LNG Diperlukan Demi Jaga Daya Saing Industri Nasional

Jakarta, situsenergi.com Lonjakan harga LNG global menekan pasar energi dunia. Kerusakan fasilitas...

PTBA Tebar Dividen Jumbo Rp1,32 Triliun, Pemegang Saham Auto Cuan!

Jakarta, situsenergi.com PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) memutuskan membagikan dividen tunai...