Home ENERGI Harga Komoditas Fluktuatif Picu Defisit Perdagangan
ENERGI

Harga Komoditas Fluktuatif Picu Defisit Perdagangan

Share
Share

Jakarta, Situsenergy.com

Anjloknya harga komoditas unggulan ekspor nasional membuat kinerja ekspor pada Juli 2019 turun 5,12 persen secara tahunan menjadi USD15,45 miliar. Meski secara ekspor naik 31,02 persen, namun neraca perdagangan tetap defisit secara bulanan atau tahunan yaitu USD63,5 juta dan USD1,90 miliar.

Menghadapi harga komoditas yang naik turun ini patut menjadi perhatian pemerintah agar kedepannya ada upaya diversifikasi produk komoditas agar tercipta nilai tambah. Ini penting dilakukan agar ketika harga komoditas jatuh tidak serta merta langsung memukul kinerja ekspor.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, mengatakan beberapa komoditas yang anjlok nilai ekspornya seperti Crude Palm Oil (CPO), batubara dan karet atau barang dari karet. Tercatat bahan bakar mineral termasuk batubara nilai ekspor turun 8,33 persen pada Januari – Juli 2019 dibandingkan periode yang sama tahun 2018.

Kemudian lemak dan minyak hewan nabati, termasuk CPO anjlok 18,74 persen year on year. Selanjutnya karet dan barang dari karet nilai ekspor turun 6,83 persen. Penurunan harga ini membuat catatan defisit perdagangan kembali terjadi.

“Jadi ada beberapa barang utama secara volume naik tapi karena harga komoditas turun atau fluktuasi, jadi nilai ekspor turun. Ini disayangkan karena yang turun harga komoditas itu justru adalah yang menjadi andalan ekspor kita,” kata Suhariyanto di Jakarta, Kamis (15/8).

Dikatakan Suhariyanto, bahwa tantangan Indonesia untuk membalikkan neraca perdagangan yang defisit di bulan – bulan mendatang tidak mudah. Pasalnya tantangan global masih belum reda terlebih perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) masih berlanjut. Selain itu perlambatan ekonomi dunia khususnya negara-negara mitra dagang Indonesia masih terjadi. Hal ini bisa berdampak pada kinerja ekspor nasional di periode berikutnya.

“Perekonomian ke depan tidak gampang, sebab pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat, di Amerika juga, di Singapura bahkan jauh lebih curam. Perlambatan ekonomi ini masih terjadi terlebih perang dagang juga masih bergejolak meski sudah ada perundingan tapi belum sesuai harapan,” pungkas Suhariyanto. (DIN)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sudah Saatnya Prabowo Juga Pecah Kementerian ESDM Menjadi Kementerian Energi Dan Kementerian Sumber Daya Mineral

Jakarta, situsenergi.com Sudah saatnya pemerintahan Prabowo mempertimbangkan secara serius pemisahan Kementerian Energi...

Sofyano: Danantara Perlu Lanjutkan Merger BUMN Atau Subholding atau Anak Perusahaan BUMN

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan merger subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) patut diapresiasi...

Opini: Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Keberadaan Danantara harus dimaknai...

KAI Perkuat Ketahanan Energi Lewat Angkutan Barang Non-Batubara

Jakarta, Situsenergi.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja solid pada awal...