Jakarta, Situsenergi.com
PT PLN (Persero) memperluas kerja sama dengan Pemerintah Australia untuk memperkuat sistem ketenagalistrikan nasional. Kolaborasi ini mencakup pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, pembiayaan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia demi mendukung target Net Zero Emissions (NZE) 2060.
Kedua pihak menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 29 Oktober 2026. Melalui kesepakatan tersebut, PLN membuka peluang untuk mengakses teknologi, pengetahuan, dan dukungan investasi dari Australia.
Wakil Direktur Utama PLN, Yusuf Didi Setiarto, mengatakan kemitraan ini menjadi langkah penting untuk mempercepat transformasi perusahaan menjadi penyedia solusi energi.

“Dukungan Pemerintah Australia memiliki arti penting bagi PLN, baik dalam pengembangan talenta, pertukaran pengetahuan dan teknologi, maupun penjajakan peluang pembiayaan,” ujar Didi.
Salah satu agenda utama kerja sama ini adalah penjajakan pembiayaan dari Export Finance Australia (EFA) untuk proyek Eastern Java & Bali Grid Strengthening. Proyek tersebut bertujuan meningkatkan keandalan pasokan listrik di Jawa Timur dan Bali melalui pembangunan serta peningkatan jaringan transmisi, gardu induk, dan distribusi.
PLN juga menjajaki kolaborasi teknologi dengan lembaga riset dan pemerintah Australia, termasuk CSIRO. Fokusnya meliputi pengembangan fleksibilitas jaringan, Battery Energy Storage System (BESS), serta fleksibilitas operasi pembangkit agar sistem listrik lebih siap mengintegrasikan energi baru terbarukan (EBT).
Selain teknologi, PLN memperkuat kesiapan menghadapi risiko perubahan iklim melalui program Capacity Building Skenario Iklim dan Ketahanan Sistem. Di sisi lain, PLN dan Australia menyusun peta jalan pengembangan SDM periode 2027–2030 melalui program KINETIK.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, menyebut PLN sebagai mitra penting dalam perjalanan transisi energi Indonesia.
“Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan transisi energi Indonesia dan memahami bahwa PLN akan memainkan peran sentral dalam elektrifikasi tersebut,” ungkap Brazier.
Kerja sama ini diharapkan memperkuat infrastruktur, memperluas pemanfaatan teknologi, membuka akses pembiayaan, dan menyiapkan talenta kelistrikan untuk mendukung sistem energi Indonesia yang lebih andal serta rendah emisi. (*)
Leave a comment