Home OPINI Thorium Indonesia: Antara Potensi dan Keberanian yang Tertunda
OPINI

Thorium Indonesia: Antara Potensi dan Keberanian yang Tertunda

Share
Thorium Indonesia: Antara Potensi dan Keberanian yang Tertunda
Share

Oleh : Andi N Sommeng

Di negeri ini, energi selalu datang sebagai janji. Ia jarang hadir sebagai kenyataan (kejayaan negara). Dulu minyak, lalu gas, kini thorium. Nama boleh berganti, tetapi nadanya sama: kita kaya, kita berpotensi, kita tinggal selangkah lagi menjadi besar. Selebihnya, seperti biasa, ditunda oleh waktu, oleh regulasi, oleh kehati-hatian yang seringkali menyamar sebagai kebijakan.

Thorium, kata para insinyur, adalah masa depan. Ia lebih bersih, lebih aman, lebih melimpah. Tidak seperti uranium yang membawa bayang-bayang bom, thorium datang dengan wajah yang lebih bersahabat. Ia tidak langsung menyala, tetapi harus “dibujuk” menjadi uranium-233 terlebih dahulu. Sebuah proses yang terdengar seperti metafora, bahkan energi masa depan pun harus melalui jalan berliku sebelum bisa memberi terang.

Namun negeri ini tidak kekurangan metafora. Ia kekurangan keputusan. Indonesia disebut-sebut memiliki cadangan thorium yang besar. Angka-angka beredar, peta-peta ditunjukkan, presentasi dibuat rapi. Di Bangka, di Kalimantan, di Sulawesi—thorium tersimpan seperti janji yang belum ditagih. Kita melihatnya dengan bangga, seperti melihat warisan keluarga yang tak pernah benar-benar digunakan.

Ada ironi di sini. Kita hidup di atas energi, tetapi tetap mengimpor energi. Kita berdiri di atas potensi, tetapi bergantung pada pasokan. Seolah-olah bumi kita kaya, tetapi sistem kita miskin.

Barangkali masalahnya bukan pada apa yang kita miliki, tetapi pada bagaimana kita memperlakukan apa yang kita miliki.

Thorium menjanjikan kedaulatan. Ia tidak tergantung pada selat yang bisa ditutup oleh perang, tidak terikat pada harga yang ditentukan oleh pasar jauh di luar kendali kita. Dalam dunia yang semakin gaduh oleh konflik geopolitik, thorium tampak seperti jalan sunyi menuju kemerdekaan energi.

Tetapi setiap jalan sunyi memiliki ongkosnya sendiri.

Teknologi thorium belum matang. Reaktor garam cair (Molten Salt Reactor-MSR) masih lebih banyak hidup dalam jurnal dan prototipe daripada dalam jaringan listrik nasional. Biayanya besar, risikonya nyata, dan kepastiannya belum ada. Ia seperti jembatan yang sudah dirancang dengan indah, tetapi belum pernah dilewati oleh banyak orang.

Maka pertanyaannya bukan lagi teknis, melainkan politis: apakah kita berani menjadi yang pertama, atau kita memilih menunggu hingga yang lain membuktikan?

Di negeri ini, menunggu sering dianggap sebagai kebijakan. Padahal, dalam energi, menunggu adalah bentuk lain dari ketergantungan. Setiap tahun kita menunda keputusan, kita membayar harga—dalam bentuk impor, dalam bentuk subsidi, dalam bentuk kerentanan.

Thorium menawarkan kemungkinan untuk memutus lingkaran itu. Tetapi kemungkinan bukanlah kepastian. Ia hanya menjadi nyata ketika diikuti oleh keberanian.

Dan keberanian, di republik ini, sering kali kalah oleh kalkulasi jangka pendek.

Mungkin kita terlalu terbiasa dengan energi sebagai komoditas, bukan sebagai strategi. Kita memperlakukannya seperti barang dagangan, bukan sebagai fondasi peradaban. Padahal negara-negara besar memahami energi sebagai alat kekuasaan, bukan sekadar sumber listrik, tetapi sumber posisi tawar.

Jika thorium benar-benar dikembangkan, Indonesia tidak hanya menghasilkan listrik. Ia menghasilkan pilihan. Ia bisa memilih untuk tidak tergantung. Ia bisa memilih untuk berdiri lebih tegak dalam percaturan global.

Tetapi pilihan itu harus dibuat hari ini, bukan besok.

Pada akhirnya, thorium hanyalah bahan. Ia tidak membawa takdir. Ia tidak menjamin masa depan. Seperti minyak, seperti gas, seperti semua sumber daya lainnya—ia hanya akan berarti sejauh manusia yang mengelolanya memiliki visi.

Dan di situlah persoalan kita yang sesungguhnya.

Bukan pada kurangnya energi, tetapi pada kurangnya keberanian untuk menjadikannya sebagai arah.
[•]

|A||N||S|
Dosen-GBUI
Buittenzorg,
17 April 2026

Verba volant, scripta manent

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Menata Ulang Subsidi BBM untuk Pemerataan Akses Energi Nasional

Oleh : Dina Nurul FitriaAnggota Dewan Energi Nasional Unsur Konsumen 2020–2025 Subsidi...

Menyelesaikan Masalah Masela

Oleh: Salis S. Aprilian Banyak media menyoroti keberhasilan kunjungan kerja Presiden Prabowo...

Nozzle Tenang, Negara Menahan Napas

Oleh : Andi N Sommeng Di SPBU, semuanya berjalan normal.Motor antre. Mobil...

Puskepi: Poltical Will Presiden Harus Bisa Mewujudkan Ketahanan dan Kedaulatan Energi Nasional

Jakarta, situsenergi.com Pengamat kebijakan energi yang juga Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik...