Home MIGAS Pakar: Sudah Saatnya Harga BBM Nonsubsidi Jenis Pertamax Dinaikkan
MIGAS

Pakar: Sudah Saatnya Harga BBM Nonsubsidi Jenis Pertamax Dinaikkan

Share
Pakar: Sudah Saatnya Harga BBM Nonsubsidi Jenis Pertamax Dinaikkan
Share

Jakarta, situsenergi.com

PT Pertamina (Persero) dinilai perlu menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax. Pasalnya, jika tidak dinaikkan bisa berdampak serius pada keuangan BUMN tersebut.

Hal ini disampaikan Pakar ekonomi bisnis Profesor Hamid Paddu dalam pernyataannya yang dikutip di Jakarta, Jumat (08/7).

“Mandat pertama yaitu korporasi. Dalam hal ini, Pertamina harus menyelamatkan juga korporasinya untuk negara. Kalau tidak dinaikkan, bisa berdampak serius pada keuangan BUMN tersebut,” katanya.

“Sejak Maret 2024 BBM nonsubsidi RON 92 tersebut belum disesuaikan, sementara itu pada awal Agustus lalu SPBU swasta kembali menaikkan harga BBM sejenis,” lanjut Hamid.

Ia menyatakan, Pertamina sebagai BUMN tidak hanya menjalankan mandat dari pemerintah tetapi juga merupakan korporasi yang memiliki kewajiban mendapatkan keuntungan.

“Itu sebabnya, dalam kondisi harga minyak berfluktuasi serta nilai tukar mata uang yang tertekan seperti sekarang, mau tidak mau Pertamina harus menyesuaikan harga Pertamax agar tidak merugi,” ujarnya.

Disebutkan, pengelolaan BBM nonsubsidi seperti Pertamax, menjadi kewenangan Pertamina karena Pertamax mengacu kepada pasar. Dalam kondisi demikian, tambahnya, jika perusahaan terus menahan harga Pertamax, tentu akan berdampak langsung kepada Pertamina, oleh karena itu harus dinaikkan sesuai mekanisme pasar.

“Dibandingkan harga BBM RON 92 SPBU lain, Pertamax di DKI Jakarta yang saat ini djiual Rp12.950/liter memang jauh lebih rendah. Revvo 92 dari Vivo misalnya, sudah dibanderol Rp14.320/liter dan Super dari Shell Rp 14.520 per liter. Bahkan dibandingkan BP 92 (BP AKR) yang dijual Rp 13.850/liter, Pertamax juga jauh lebih murah,” paparnya.

Hamid menambakan keyakinannya kalau pun Pertamina menaikkan Pertamax, tentu harga yang dibanderol masih kompetitif sesuai dengan hasil penghitungan cost-nya.

“Pertamina tidak mungkin menaikkan harga semaunya,” ucapnya.

Sementara itu, guna mencegah migrasi pengguna Pertamax ke Pertalite, dia berharap agar BUMN migas itu terus meningkatkan sistem targeting.

“Sekarang kalau mau isi Pertalite kan dipantau dengan alat digital. Dari situ akan ketahuan setiap penggunaan Pertalite pada setiap mobil itu. Tetapi, sistem tersebut harus terus di-improve, diperbaiki terus karena berkaitan dengan informasi data yang dinamis,” pungkasnya.(Ert/SL)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Pertamina Bongkar Jurus Baru! Bisnis Energi Lama dan Hijau Digenjot Bareng

JAKARTA, Situsenergi.com Pertamina membawa strategi besar menghadapi tantangan energi Indonesia ke IdeaFest...

PHR Sabet Gold Award EPSA 2026! Teknologi Hijau Jadi Senjata Pulihkan Lahan Tercemar

JAKARTA, Situsenergi.con PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sukses mencuri perhatian di ajang...

PHE Sabet Impact Masters Awards 2026, Komitmen ESG Makin Ngebut

JAKARTA, Situsenergi.com PT Pertamina Hulu Energi (PHE) kembali mencuri perhatian lewat kiprahnya...

Jerami Jadi Cuan! Pertamina Sulap Limbah Karawang Jadi Mesin Ekonomi Warga

KARAWANG, Situsenergi.com Jerami yang dulu kerap dibakar kini punya nilai ekonomi di...