Home ENERGI Pendapatan PTBA Hingga Triwulan III 2019 Sebesar Rp16,3 Triliun
ENERGI

Pendapatan PTBA Hingga Triwulan III 2019 Sebesar Rp16,3 Triliun

Share
Share

Jakarya, Situsenergy.com

Sepanjang triwulan III, pendapatan usaha PT Bukit Asam (Persero) Tbk [PTBA] sebesar Rp16,3 triliun. Capaian ini dikontribusikan oleh penjualan batubara ke pasar domestik sebesar 56 persen dan pasar ekspor 42 persen. Kemudian aktifitas lainnya sebesar 2 persen seperti penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah dan jasa.

Direktur Utama PTBA, Arviyan Arifin, mengatakan untuk penjualan batubara secara total pada periode tersebut sebesar 20,6 juta ton atau naik 10,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Padahal harga batubara sepanjang tahun ini tercatat melemah dibandingkan tahun 2018. Tercatat harga batubara acuan ICE Newcastle di 2018 sekitar USD198 per ton, namun sepanjang tahun 2019 ini menjadi sekitar USD66 per ton.

“Penurunanya memang luar biasa, tapi meski dalam tekanan harga kami tetap berusaha berkontribusi dalam peningkatan produksi dan penjualan. Alhamdulillah di triwulan III perusahan masih catat keuntungan laba bersih Rp3,1 triliun dan EBITDA kita sebesar Rp5 triliun,” kata Arifin dalam konferensi pers di Ritz Carlton, Jakarta, Senin (28/10).

Dijelaskannya meningkatnya penjualan batubara dari PTBA tidak lepas dari meningkatnya produksi selama periode tersebut. Menurutnya terjadi peningkatan produksi sebesar 9,6 persen menjadi 21,6 juta ton dari periode yang sama tahun lalu. Untuk kapasitas angkutan batubara juga mengalami peningkatan 4,7 persen menjadi 17,8 juta ton.

Penjualan batubara di dalam negeri terutama difokuskan kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN untuk menopang operasional PLTUnya. Sementara untuk pasar ekspor diantaranya ke India, Hongkong, Filipina, Jepang, Korea Selatan dan sejumlah negara lainnya. Bahkan PTBA juga menjual batubata medium to high calorie ke premium market.

“Pasar domestik untuk support kebutuhan PLN dan ekspor kita lakukan secara selektif dengan mengkombinasikan antara kalori menengah dan tinggi yang diproduksi selama 2019,” lanjut Arifin.

Dia menambahkan suksesnya PTBA mempertahankan laba bersih dan juga pendapatan perusahaan meski dihadapkan situasi yang sulit lantaran perseroan mampu melakukan efisiensi usaha. Diantaranya adalah melakukan efisiensi dari sisi operasional saat melakukan penambangan. Hal ini diklaim mampu menurunkan cost produksinya. Ditegaskannya efisiensi tersebut tidak termasuk untuk pemberian gaji atau tunjangan karyawannya.

“Kalau kita lihat tahun 2016, 2015 tidak pernah laba mencapai Rp2 triliun walau harga saat itu tinggi. Ini karena langkah efisiensi yang kita lakukan. Tentu harus harus kita syukuri di tengah harga jelek dan perusahaan tambang yang hadapi chalangging yang cukup berat,” pungkas Arifin. (DIN/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Solusi Percepat Transisi Energi

Jakarta, situsenergi.com Pengembangan Bio-Compressed Natural Gas (Bio-CNG) berbasis limbah kelapa sawit kini...

Rig PDSI Temukan Minyak 3.176 Barel per Hari, Sumur Baru di Prabumulih Bikin Optimistis

Jakarta, situsenergi.com Kinerja pengeboran PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) kembali mencuri...

Bioenergi Disebut Mampu Pangkas 12 Juta Ton Emisi dan Ciptakan 150 Ribu Lapangan Kerja

Jakarta, situsenergi.com Pengembangan bioenergi nasional dinilai mampu memberikan manfaat ganda, mulai dari...

Selat Hormuz dan Perpres 26/2026 : Ketika Negara Belajar Membeli Minyak dalam Keadaan Darurat

Oleh : Andi N Sommeng Ada saat ketika negara tidak cukup hanya...