Logo SitusEnergi
SAUDI ARAMCO Vs PERTAMINA SAUDI ARAMCO Vs PERTAMINA
Oleh : M. Kholid Syeirazi* Anda tahu Saudi Aramco? Yang pasti saya yakin Anda tahu Pertamina. Dua-duanya sama-sama perusahaan minyak milik negara (NOC). Saudi... SAUDI ARAMCO Vs PERTAMINA

Oleh : M. Kholid Syeirazi*

Anda tahu Saudi Aramco? Yang pasti saya yakin Anda tahu Pertamina. Dua-duanya sama-sama perusahaan minyak milik negara (NOC).

Saudi Aramco adalah mesin utama ekonomi Kerajaan Saudi Arabia (KSA), Pertamina BUMN Indonesia dengan aset terbesar. Keduanya punya riwayat kerja sama yang panjang.

Tahun 1974, Pertamina selesai membangun kilang Cilacap. Feedstock (pasokan) minyaknya dari Saudi Aramco.  Kilang itu didisain untuk mengolah sour crude (minyak kasar dengan kandungan sulfur tinggi) dari Timur Tengah.

Hasilnya adalah BBM oktan rendah seperti premium (RON 88). Dari kilang Cilacap, 60 persen kebutuhan BBM di Pulau Jawa disuplai. Kerja sama pasokan minyak bersama Saudi Aramco masih berlangsung sampai sekarang.

Dalam lawatan Raja Salman dan rombongan jumbonya, KSA akan investasi untuk upgrading dan perluasan (Refinery Development Master Plan) Kilang Cilacap senilai US$6 miliar.

Dari sekian komitmen investasi, pembangunan kilang Cilacap nampaknya proyek investasi yang paling material. Saudi Arabia bukan investor yang mudah percaya kepada orang.  Jika ditimbang, investor Saudi lebih senang menempatkan dananya di portofolio saham dan pasar uang.

Kandasnya rencana pembangunan kilang Balongan dan Dumai kerja sama Pertamina dan Saudi Aramco menunjukkan tidak mudahnya menggandeng investor KSA.

Kedatangan Raja Salman diharapkan membuat rencana investasi itu terealisasi. Selain proyek RDMP Cilacap, Pemerintah tidak perlu berharap lebih bahwa investasi KSA dapat tembus US$25 miliar.

Sudah jadi rahasia umum, KSA sendiri lagi kesulitan uang. Salah satu agenda lawatan akbar Raja Salman adalah mencari investor untuk melepas 5% saham Saudi Aramco dalam sebuah rencana IPO terbesar dalam sejarah.

Riwayat Aramco

Ekonomi KSA adalah ekonomi minyak.  Lebih dua pertiga pundi kekayaan KSA dipasok dari uang minyak, karena itu disebut sebagai negeri Petrodollar. Mesin uangnya adalah Saudi Aramco, perusahaan terkaya di dunia.

Sejarah Saudi Aramco bermula dari Standard Oil of California (Socal), anak perusahaan Standard Oil yang didirikan konglomerat terkaya di dunia, John Davidson Rockefeller. Siapa Rockefeller? Dia adalah pebisnis dan king maker.

Pada 10 januari 1870, Rockefeller mendirikan Standard Oil di Pittsburgh, Pennsylvania.
Selepas itu, menurut Marshall Douglas Smith, semua presiden Amerika Serikat, terkecuali Jimmy Carter, terafiliasi dengan Standard Oil.

Undang-Undang Anti-Monopoli (Antitrust Act) tahun 1911 memaksa Standard Oil membelah diri menjadi 34 perusahaan, kebanyakan berawalan SO (Standard Oil) seperti Standard Oil of New Jersey—kelak menjadi Exxon dan merger dengan Mobil menjadi ExxonMobil; Standard Oil of California (Socal)—kelak menjadi Chevron dan merger dengan Texas Company menjadi ChevronTexaco; Standard Oil of Indiana—kelak menjadi Amoco dan merger dengan British Petroleum menjadi BP-Amoco; Standard’s Atlantic—kelak merger dengan Richfield menjadi Atlantic Richfield Company (Arco); dan Continental Oil Company (Conoco)—kelak merger dengan Phillips menjadi ConocoPhillips.

BACA JUGA   Harga Batubara Belum Jelas, Produsen Pilih Tahan Jumlah Produksi

Jadi, dulu yang terkenal dengan “Seven Sisters” itu memang berasal dari satu ibu, Standard Oil. Berkat minyak, Rockefeller menjadi orang terkaya sejagat. Bahkan, jika dihitung dengan memasukan faktor inflasi dan daya beli, kekayaan Bill Gates dua tingkat di bawahnya. Keluarganya mendirikan Rockefeller Foundation. Yayasan ini menyumbang lahan dan dana untuk markas besar PBB serta memberikan beasiswa untuk siswa-siswa terbaik di dunia.

Atas bantuan lobi seorang agen lepas bernama John Philby, Socal berhasil mendapat konsesi 60 tahun untuk mengembangkan minyak di Provinsi al-Hasa, sebelah Timur Arabia, seluas 360 ribu mil persegi dan membentuk California-Arabia Standard Oil Company (Casoc) pada 1933. Ketika Socal merger dengan Texaco pada 1936, Casoc diubah namanya menjadi Arab-American Oil Company (Aramco) pada 1944.

Menyusul Perang Arab-Israel 1973, Pemerintah Arab Saudi menasionalisasi Aramco secara bertahap dan mengontrol penuh perusahaan ini pada 1980. Pada November 1988, nama Aramco diubah menjadi Saudi Arabian Oil Company (Saudi Aramco).

Moral dari cerita ini adalah jalinan bisnis Paman Sam dan Dinasti Saud sudah lama terbina. Terlepas dari dinamika hubungan dua negara yang pasang-surut, tidak bisa bisa diingkari fakta bahwa KSA adalah sekutu abadi USA.

Saudi Aramco memonopoli seluruh rantai pengusahaan migas dari hulu hingga hilir. Dia menguasai 99 persen cadangan dan produksi migas KSA. Artinya, hanya 1% persen keterlibatan asing dalam pengusahaan migas domestik. Itupun dalam bentuk kontrak jasa (SC), bukan kontrak bagi hasil (PSC).

Monopoli mungkin terjadi karena faktor teknis dan politis.  Secara teknis, prospek geologis KSA tinggi sekali. Menurut data BP Statistical Review of World Energy 2016, cadangan minyak Arab Saudi pada 2015 sebesar 266,6 miliar barel, peringkat kedua di dunia setelah Venezuela (300,9 miliar barel).

Cadangan gasnya mencapai 294,0 TCF, peringkat kelima setelah Iran (1.201,4 TCF), Rusia (1.139.6 TCF), Qatar (866.2 TCF), dan Amerika Serikat (368.7 TCF). Dengan prospek geologis yang menjanjikan, KSA tidak perlu melibatkan asing untuk membagi risiko dalam mencari dan menemukan minyak. Minyak dapat diperoleh dengan cara mudah dan murah.

Beda Aramco dan Pertamina

Situasi ini berbeda dengan Indonesia. Ibarat gadis, Indonesia bukanlah gadis cantik bertubuh sintal. Ia bahkan telah uzur. Minyaknya harus dicari dengan uang dan tenaga ekstra, karena itu perlu melibatkan orang lain.

BACA JUGA   Proyek Pipa Distribusi Gas Bumi PGN di Dumai Capai 40%

Sejak 1966, Indonesia menggunakan kontrak bagi hasil (PSC). Orang lain mencari dan menemukan minyak dengan ongkos sendiri. Begitu ketemu, hasilnya dibagi setelah dipotong biaya produksi (cost recovery). Sejak 1971 hingga 2001, asing adalah kontraktornya Pertamina.
Produksi yang telah dibagihasilkan (equity to be split) dibukukan sebagai produksi Pertamina dan dimonetisasi sebagai kekayaan perusahaan.

Setelah UU Migas No. 22/2001 berlaku, Pertamina bukan lagi prinsipal kontrak. Produksi yang dapat dimonetisasi hanya produksi dari operasinya sendiri sebagai kontraktornya Pemerintah (BP Migas/SKK Migas).

Jika Saudi Aramco menguasai 99 persen cadangan dan produksi migas KSA, Pertamina hanya menguasai 10 persen cadangan dan 21 persen produksi migas nasional. Cadangan dan produksi migas nasional mayoritas dikuasai operator asing.

Ini sekaligus menjelaskan faktor politis yang menyebabkan kenapa Saudi Aramco menjadi pemain tunggal sementara Pertamina pemain pinggiran. Kerajaan mendukung penuh operasi Saudi Aramco sebagai pemain tunggal.

Setelah resmi mengambil alih perusahaan pada 1988, KSA membiarkan tenaga-tenaga terampil asing sebagai pendamping orang sendiri dalam teknis dan manajemen perusahaan.

Begitu transfer of knowledge terjadi, pribumi telah siap mengisi pos-pos yang ditinggalkan asing.
Dari sekitar 62 ribu pegawai Aramco, sebagian besar top management telah dipagang orang Saudi sendiri. KSA juga mendukung penuh pembiayaan perusahaan untuk menggarap lapangan-lapangan jumbo seperti Ghawar, Safaniya, Khurais, Manifa, dan Shaybah. Hasilnya, dalam dua setengah dekade, produksi Aramco bisa dipertahankan dengan baik. Pada 1991, produksi minyak KSA adalah 8,82 juta BOPD minyak dan 1,24 TCF gas. Pada 2015, produksinya naik menjadi 12,01 juta BOPD minyak (13,0% dunia) dan 3,7 TCF gas (3,0% dunia).

Sekarang kita lihat Pertamina.

Sejak Orde Baru, Pertamina menjadi pemasok keuangan segar bagi pejabat pemerintah dan tentara.

Atas saran teknokrat, Presiden Soeharto menerbitkan Inpres No. 12 Tahun 1975 yang berisi instruksi kepada kontraktor asing dan Pertamina untuk menyetorkan seluruh bagian penerimaan negara ke rekening Departemen Keuangan. Inpres ini membuat Pertamina seperti ‘talang kering’ karena seluruh bagian penerimaan negara, baik dari kontraktor asing maupun dari Pertamina sendiri, harus langsung disetorkan ke Pemerintah.

Pertamina akhirnya lumpuh di sisi hulu. Dia tidak bisa menghimpun modal untuk mencari dan menemukan minyak karena bagi hasil dari operasi produksi langsung disetor ke Pemerintah.

Pada periode 1971 hingga 2000-an, profit pemerintah yang direinvestasikan ke Pertamina hanya 5 persen. Itu pun masih dikenai pajak. Pertamina akhirnya terpuruk sebagai penjual eceran BBM. Tugas Pertamina mengilang minyak, menjual BBM ke konsumen, dan mendistribusikannya ke seluruh negeri.

BACA JUGA   Pemerintah Fokus Tingkatkan Ekspor Manufaktur

Pada era reformasi, Pertamina semakin diperlemah oleh UU No. 22 Tahun 2001. Ia bukan lagi pemegang Kuasa Pertambangan yang berhak memonetisasi cadangan migas nasional. Pertamina hanya berhak membukukan cadangan dari bagi hasil minyaknya sendiri. Sejarah panjang pengerdilan Pertamina ini membuat ambisi menjadikannya sebagai World Oil Class Company masih jauh panggang dari api. Pendapatan Pertamina 90 persen diperoleh dari bisnis hilir, kendatipun 89% labanya disumbang dari sektor hulu. Padahal, hulu adalah nyawa dari bisnis minyak.

Kemampuan investasi Pertamina juga kalah dibandingkan dengan pemain kawasan. Petronas, misalnya, 70% profit Pemerintah direinvestasikan ke Petronas sehingga kemampuan investasi NOC Malaysia mencapai US$10-15 miliar.

Sementara sepanjang 2010-2014, realisasi investasi Pertamina hanya berkisar US$2-7 miliar. Jika disandingkan dengan Petronas saja timpang, lebih-lebih dengan Saudi Aramco. Berapa kemampuan investasi dan kapasitas finansial perusahaan? Tidak terkira!

Saudi Aramco tengah menyewa konsultan ahli untuk menilai persis market value perusahaan. Estimasi kasar sementara nilainya sekitar US$2 triliun. Nilai itu setara dengan Rp 26,6 ribu triliun.

Angka itu jauh di atas market value Apple (US$719 miliar), Google (US$581 miliar), Microsoft (US$497 miliar), Facebook (US$393 miliar), dan ExxonMobil (US$336 miliar). Jika angka itu dijadikan patokan, 5% saham Saudi Aramco berarti senilai US$100 miliar atau setara dengan Rp 1.330 triliun. Siapa punya uang sebanyak itu?

Tidak heran kalau Raja Salman menggelar lawatan khusus untuk mencari calon pembeli saham minoritas perusahaan. Jika rencana pelepasan saham itu terjadi, ini akan menjadi IPO terbesar dalam sejarah. Uang yang dihimpun dapat menutup defisit APBN dan menyelamatkan fiskal Kerajaan.

*Sekjen PP ISNU
Direktur Eksekutif Center for Energy Policy

Sumber foto : www.saudiaramco.com

—–***—–

*SitusEnergy.com adalah media online bagi masyarakat umum. Bagi pembaca/netter yang ingin berbagi informasi/berita/artikel/opini/pendapat/ide atau gagasan melalui SitusEnergy.com dapat mengirimkan tulisannya melalui email : redaksi@situsenergy.com. Setiap tulisan yang terbit di SitusEnergy.com menjadi tanggung jawab dari Penulis.

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *