Logo SitusEnergi
Pertamina Tidak Boleh Untung? Pertamina Tidak Boleh Untung?
Pertamina Tidak Boleh Untung ? Opini Sofyano Zakaria SitusEnergy.com Keberhasilan Pertamina disektor hilir dalam meraih laba yang cukup besar di Tahun 2015, sangat mungkin... Pertamina Tidak Boleh Untung?

Pertamina Tidak Boleh Untung ?
Opini Sofyano Zakaria

SitusEnergy.com

Keberhasilan Pertamina disektor hilir dalam meraih laba yang cukup besar di Tahun 2015, sangat mungkin menjadi perhatian dari pihak pihak tertentu.

Hal ini tentu saja sangat menarik perhatian karena disaat harga minyak dunia yang sedang turun tajam dan perekonomian dunia juga ikut terpuruk, ternyata Pertamina di Tahun 2015 mampu membukukan laba yang cukup besar sekitar 2,6M usdol dan lebih separuhnya ternyata dihasilkan dari sektor hilir atau di sektor Pemasaran dan Niaga.

‎Keberhasilan Pertamina tersebut tentu saja akan dan “bisa”  dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Ada yang akan menilai sebagai prestasi yang membanggakan tetapi juga akan ada yang memandang dan menilai dari sudut sebaliknya.

Bagi pihak tertentu  yang punya sentimen negatif terhadap keberhasilan Pertamina ,  akan  sangat bisa menyikapi keberhasilan pertamina dengan  upaya-upaya  yg mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda dan menyorot dari arah yang negatif.

Keberhasilan Pertamina meraih laba bagus  di sektor hilir  bisa saja  dinilainya misalnya  karena  mengorbankan masyarakat demi untuk mencapai keuntungan korporasi semata .

Bahkan sangat mungkin ada sementara orang yang berusaha keras menyoroti keberhasilan itu dengan tujuan mengkerdilkan BUMN energi ini dengan cara yang akan terkesan “ilmiah” misalnya mengumpulkan dan mengolah data atas harga jual BBM yang masih dianggap tinggi dibanding harga pasar.

BACA JUGA   Audit BPK Adalah Benteng Terakhir Pertamina Untuk Wujudkan GCG

Pertamina akan dinilai-nya selalu tidak transparan dan merekayasa mengambil keuntungan tinggi yang membuat Pertamina bisa tetap membukukan laba ditengah terpuruknya bisnis minyak. Sorotan tersebut bahkan akan meluas dan melebar pula ke bisnis lain di Pertamina khususnya disektor Pemasaran dan niaga. Sorotan negatif tersebut biasanya akan dipublikasikan untuk menegejar simpati dan reaksi publik.

Sejatinya, keberhasilan Pertamina tetap membukukan laba di tengah terpuruknya perusahaan migas internasional, akan sangat mudah disorot kebenarannya dengan berbagai data yang telah terpublikasikan baik oleh Pertamina maupun oleh Pemerintah.

Bahkan sangat mudah untuk mencari tahu  kenapa Pertamina khususnya disektor hilir,   dulu rugi dan kenapa sekarang bisa untung tanpa mengorbankan kepen tingan masyarakat.

Bahkan secara mudah orang awam bisa membuat analisa sederhana yang dengan cepat bisa dipahami  bahwa sektor hilir Pertamina  bisa untung besar  karena volume produk yang dijual Pertamina  secara keseluruhan baik BBM, LPG, Pelumas, Petrokimia dan lain lain ,  jika itu seluruhnya disetarakan dalam jumlah liter, maka itu mencapai 100 juta KL atau 100 Milyar liter.

Kalau  untuk setiap liter dari produk itu Pertamina memperoleh untung rata rata sebesar Rp 100/liter saja , maka itu berarti Pertamina sudah memperoleh keuntungan sebesar 10 Trilyun Rupiah.

BACA JUGA   Energy Watch : Terbakarnya Kilang Balongan Tak Bikin Lonjakan Harga BBM

Jadi, secara mudah bisa disimpulkan bahwa besarnya profit Pertamina  itu lebih diutamakan akibat volume dari jumlah volume produk yang dijual  serta kemampuan Pertamina melakukan efisiensi yang ini pernah dipublikasikan Pertamina ke publik yang   mencapai 280 juta us dollar  hanya untuk efisiensi di sektor Pemasaran dan Niaga Pertamina saja.

Sebagaimana diketahui, pada dasarnya Gross Margin BBM PSO yang dilaksanakan Pertamina adalah  sebesar 1.4%, sedangkan untuk  BBM Non-PSO adalah sebesar 2.8%. Dan publik juga dapat mudah mengetahui dari ketentuan yang dibuat Pemerintah terkait BBM PSO bahwa tidak ada komponen laba dalam penjualan  BBM PSO (subsidi maupun penugasan, atau Premium dan Solar). Komponen laba terlihat jelas  hanya ada dalam BBM non-PSO yang besarnya 5% – 10%.

Para ekonom tentunya dengan mudah pula bisa mengetahui bahwa jika Pertamina memperoleh untung di penjualan BBM  PSO, maka itu disebabkan  lebih karena akibat terjadinya penurunan harga minyak di pasar dunia juga hingga harga disesuaikan lagi oleh Pemerintah.

Masyarakat juga sudah sangat tahu bahwa  harga jual  Premium dan Solar penetapannya bukanlah wewenang Pertamina tetapi adalah keputusan dan ditetapkan oleh  Pemerintah dan harga itupun sudah ditetapkan  dievaluasi dalam periode 3 bulan.

Sangat aneh jika masih ada sementara orang yang mempermasalahkan sektor Hilir Pertamina membukukan keuntungan padahal dan seharusnya sebagaimana disyaratkan dalam UU BUMN bahwa BUMN harus memberi keuntungan bagi Pemerintah dan Negara tentunya.

BACA JUGA   Peneliti: Intesitas Cuaca Saat Kebakaran Tangki di Kilang Cilacap Sangat Ekstrim

Perlakuan dan sikap “memandang” terhadap Pertamina sebagai sebuah BUMN juga sangat beda bila misalnya dibandingkan dengan sikap memperlakukan bumn seperti Garuda misalnya. Nyaris tidak ada yang mempersoalkan BUMN Garuda menetapkan harga jual tiket pesawat udara nya lebih mahal dari penerbangan swasta lainnya.

Tetapi tidak demikian terhadap bumn Pertamina bukan. Pertamina dipahami publik sangat terkesan diposisikan sebagai bumn yang hanya melayani dan dipaksa untuk menjadi bumn yang mensubsidi masyarakat saja. Ingat, ketika Pertamina dipaksa menjual rugi elpiji 12kg yang terpaksa rugi sebesar Rp.5T/tahun. Nyaris tidak ada yang ‎mempermasalahkan kerugian itu.

Bahkan pada sektor penjualan bbm subsidi pun ‎”Kenapa ketika Pertamina rugi 15 Trilyun dari penjualan  premium dan solar kok tidak ada yg bersuara dan memprihatinkan itu ?
(red/sz)

Sumber Foto : www.frontroll.com

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *