Logo SitusEnergi
BBM Ron 89 Vivo Berpotensi Timbulkan Persaingan Tidak Sehat BBM Ron 89 Vivo Berpotensi Timbulkan Persaingan Tidak Sehat
Jakarta, situsenergy.com Kehadiran Stasiun Penqisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik PT Vivo Energy masih menjadi pro kontra terutama terkait dengan keputusannya menjual Bahan Bakar... BBM Ron 89 Vivo Berpotensi Timbulkan Persaingan Tidak Sehat

Jakarta, situsenergy.com

Kehadiran Stasiun Penqisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik PT Vivo Energy masih menjadi pro kontra terutama terkait dengan keputusannya menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) Ron 89.

Menurut Anggota Komisi VII DPR RI, Rofi Munawar, BBM milik Vivo itu berpotensi memunculkan persaingan tidak sehat. “Disisi lain kebijakan ini semakin menegaskan bahwa tata niaga yang berorientasi liberalisasi telah terjadi di sektor hilir migas,” kata Rofi dalam keterangan tertulisnya yang diterima situsenergy.com di Jakarta, Kamis (02/11).

Ia juga mempertanyakan alasan Pemerintah membolehkan PT Vivo Energi menjual BBM ron 89 yang katanya untuk mewujudkan BBM satu harga dengan menyediakan bensin murah untuk rakyat.

“Dengan keberadaan BBM Vivo ron 89 persaingan BBM tidak hanya di level ‘atas’, namun juga di level ‘bawah’ yang selama ini ditugaskan kepada Pertamina untuk menyalurkan BBM yang murah kepada rakyat. Tentu saja ini terasa tidak adil, karena beban yang dimiliki oleh Pertamina lebih besar namun kompetitornya semakin banyak,” tukasnya.

Ironisnya, kata legislator asal Jawa Timur ini, Pemerintah selama ini terus mendorong PT. Pertamina (Persero) mempromosikan penjualan BBM Ron 90 (Pertalite) agar mengurangi konsumsi publik terhadap BBM ron 88 (Premium). “Tapi dengan keberadaan BBM Ron 89 Vivo menunjukan bahwa kampanye tersebut akan bertolak belakang dengan usaha yang telah dilakukan selama ini,” tukasnya.

BACA JUGA   Minyak Dunia Anjlok, Tapi Harga BBM tak Kunjung Turun, Ini Penjelasannya

Rofi juga mendesak komitmen Kementerian ESDM, agar segera memberikan tenggat waktu dan tempat yang pasti kepada PT Vivo Energy untuk segera membuka SPBU miliknya di daerah-daerah yang memiliki karakteristik 3T (tertinggal, terdepan dan terluar).

“Sebagai bentuk komitmen terhadap kebijakan BBM satu harga maka sudah seharusnya program pendirian SPBU vivo di luar jawa segera terealisasi paling lambat tahun 2017. Tentu saja dengan kualitas harga dan layanan yang sama seperti di Jakarta. Jika mampu terealisasi akan menjadi sebuah bukti konkrit keberpihakan pemerintah dalam memberikan layanan terbaik kepada konsumen diseluruh wilayah Indonesia,” papar Rofi.

Anggota Panitia Kerja (Panja) migas ini juga mengingatkan PT Vivo Energy agar dalam melakukan penjualan BBM RON 89 bukan hanya sebagai sebuah strategi marketing dan terobosan pemasaran, tapi sebagai bentuk keseriusan dalam membangun infrastruktur distribusi yang terjangkau bagi masyarakat. Karena sebelum ini Vivo energy sudah pernah beroperasi dan terhenti.

“Pada awalnya Vivo berencana membangun kembali 6-7 SPBU. Pengembangan ini keliatannya memang sedikit, tapi jangan lupa bahwa dapat berlaku hukum pasar. Bila ada barang lebih murah, maka konsumen akan berpindah. Bukan tidak mungkin justru menggeser SPBU Pertamina yang lain (di Jabodetabek)” pungkas Rofi.

BACA JUGA   Jajaki Bisnis Emas, Indika Energy Akan Akuisisi Nusantara Resources Limited

Sebagaimana diketahui, Vivo memasarkan harga Revvo 89 (ron 89) hanya sebesar Rp. 6.100 per liter, lebih rendah dari harga premium (ron 88) yang berada di angka Rp 6.450 per liter untuk kawasan Jawa-Madura-Bali. Tidak hanya jenis Revvo 89, SPBU Vivo juga menjual BBM jenis Revvo 90 (setara dengan pertalite) per liternya Rp 7.500, dan Revvo 92 (setara dengan pertamax) Rp 8.250 per liter.(adi)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *