BELITUNG, situsenergi.com
Warga Pulau Rengit, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, kini menikmati listrik selama 24 jam. Perubahan ini terjadi setelah PLN mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 78 kilowatt peak (KWp).
Sebelumnya, warga mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang hanya menyala sekitar 12 jam sehari. Kini, sebanyak 44 kepala keluarga atau sekitar 200 jiwa menikmati pasokan listrik sepanjang hari.
PLTS Buka Peluang Ekonomi Baru
Kehadiran listrik 24 jam tidak hanya membuat rumah warga lebih terang. Pasokan energi yang stabil juga membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan aktivitas ekonomi.
Hendra, nelayan kepiting rajungan, misalnya, kini bisa menyimpan hasil tangkapan lebih lama. Ia berencana menggunakan freezer setelah listrik tersedia sepanjang hari.
“Sekarang listrik sudah menyala 24 jam, sehingga saya bisa beli freezer supaya hasil tangkapan bisa lebih awet,” ujar Hendra.
Pembuat kapal kayu, Itam Ali, juga merasakan manfaat serupa. Ia kini dapat menggunakan peralatan listrik pada siang hari sehingga pekerjaannya menjadi lebih produktif.

Sementara itu, Sofyan mengaku bersyukur karena listrik kini mengalir tanpa putus. “Sekarang kami bisa menikmati listrik 24 jam. Alhamdulillah, masyarakat di sini semua senang,” katanya.
PLN Pangkas Biaya Listrik dan Emisi
PLTS Pulau Rengit menjadi bagian dari Program PLTS 100 gigawatt peak (GWp) yang Presiden Prabowo Subianto luncurkan pada 25 Agustus 2026. Tahap awal program tersebut mencakup 14 proyek dengan total kapasitas 5.300 megawatt peak (MWp).
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan perusahaan siap mempercepat pengembangan energi surya, termasuk di wilayah kepulauan dan daerah 3T.
“PLN akan all out agar pengembangan energi surya dapat terintegrasi dengan sistem kelistrikan secara andal, aman, dan berkelanjutan,” ujar Darmawan.
PLN juga mengintegrasikan panel surya dengan Battery Energy Storage System (BESS), turbin angin, dan fuel cell hidrogen melalui Green Energy Ecosystem Technopark (GEET).

Integrasi tersebut memangkas Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik dari Rp16.700 menjadi Rp12.300 per kWh. Selain itu, sistem tersebut berpotensi mengurangi emisi karbon hingga 99,5 ton karbon dioksida per tahun. (*)
Leave a comment