Jakarta, situsenergi.com
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pemerintah akan mempercepat pemanfaatan bahan bakar nabati untuk menekan ketergantungan impor energi. Program mandatori Biodiesel B50 disebut mampu mengurangi defisit sektor minyak dan gas (migas) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Airlangga mengakui neraca perdagangan migas masih defisit, namun secara keseluruhan perdagangan nasional tetap positif. “Ya, kita akan terus tekan, tetapi per semester neraca perdagangan kan masih positif (surplus),” ujarnya, Kamis (6/8/2026).
Defisit neraca dagang RI kembali terjadi pada Juni 2026 sebesar USD0,45 miliar, melanjutkan defisit Mei 2026 sebesar USD1,61 miliar. Tekanan terbesar berasal dari impor minyak mentah dan hasil olahan migas yang mencatat minus USD3,49 miliar. Padahal sebelumnya neraca perdagangan barang RI sempat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Untuk menutup celah defisit, pemerintah mengandalkan akselerasi program biodiesel. Campuran minyak sawit dalam bahan bakar solar dinilai mampu menghemat devisa hingga Rp177 triliun.

“Energi kan sudah bertahun-tahun neracanya negatif. Nah ini kita akan dorong dengan adanya biodiesel seperti B50, itu akan kita turunkan defisitnya,” kata Airlangga. (DIN/GIT)
Leave a comment