Oleh : Andi N Sommeng
Di negeri yang tanahnya mengandung minyak dan rapatnya mengandung banyak kepentingan, insinyur adalah makhluk yang paling percaya pada hukum, bukan hukum pidana, melainkan hukum termodinamika.
Ia percaya bahwa tekanan tinggi akan mencari jalan keluar.
Ia percaya bahwa sistem tanpa faktor keamanan akan runtuh.
Ia percaya bahwa setiap sebab memiliki akibat.
Yang tidak pernah ia pelajari di bangku teknik adalah: sebab bisa dipilih, akibat bisa diarahkan, dan kesalahan bisa dicari.
Ketika badai perkara menyentuh tubuh PT Pertamina (Persero), publik menyaksikan drama klasik: negara, minyak, dan nama-nama yang tiba-tiba akrab di layar televisi. Dan di antara nama itu, ada insinyur, yang biasanya hanya dikenal oleh pompa, pipa, dan panel kontrol.
Rekayasa yang Mana?
Di kampus, kita diajarkan tentang process engineering .
Di lapangan, kita bertemu power engineering.
Yang pertama menghitung yield dan sulfur content.
Yang kedua menghitung momentum dan risiko politik.
Masalahnya, keduanya sering bertemu di meja yang sama.
Insinyur mempresentasikan opsi paling efisien.
Manajemen mempertimbangkan implikasi fiskal.
Negara mempertimbangkan stabilitas harga.
Semua terlihat rasional, hingga suatu hari, rasionalitas itu diuji bukan oleh auditor teknis, tetapi oleh jaksa.
Di situlah perbedaan menjadi tipis:
antara keputusan kolektif dan tanggung jawab individual.
Tanda Tangan yang Lebih Berat dari Baja
Dalam dunia teknik, tanda tangan adalah konfirmasi bahwa perhitungan sudah benar.
Dalam dunia hukum, tanda tangan adalah pintu masuk perkara.
Siapa yang menyetujui?
Siapa yang merekomendasikan?
Siapa yang hadir dalam rapat?
Insinyur sering berada di situ karena ia memahami detail teknis.
Ironinya, semakin ia kompeten, semakin ia dekat dengan dokumen.
Dan semakin dekat dengan dokumen, semakin dekat dengan risiko.
Kita menyebutnya profesionalisme.
Sistem kadang menyebutnya bukti.
Negeri yang Gemar Mencampur
Minyak bisa diblending untuk mencapai RON tertentu.
Tetapi di negeri ini, yang sering diblending adalah batas antara teknik dan kebijakan.
Harga BBM bukan sekadar angka ekonomi; ia adalah angka politik.
Impor bukan sekadar keputusan logistik; ia adalah keputusan makro.
Namun ketika sesuatu dianggap menyimpang, yang pertama dicari adalah jejak teknis.
Seolah-olah setiap kebijakan lahir murni dari spreadsheet insinyur.
Seolah-olah rapat-rapat panjang tidak pernah terjadi.
Luka yang Tidak Dramatis.
Duka insinyur bukan duka yang berslogan.
Ia tidak turun ke jalan.
Ia tidak berorasi.
Ia hanya duduk, membaca kembali keputusan-keputusan lama, dan bertanya:
di mana tepatnya garis itu kabur?
Reputasi yang dibangun puluhan tahun bisa tergerus dalam satu siklus berita.
Kolega, teman dan sahabat membaca namanya dengan nada berbeda.
Keluarga belajar memahami bahwa integritas pribadi tidak selalu sejalan dengan persepsi publik.
Catatan untuk Tata Kelola.
Mungkin masalahnya bukan pada satu orang.
Mungkin masalahnya pada sistem yang terlalu lentur ketika harus membedakan:
engineering judgment, business decision, public policy directive.
Jika tiga hal itu tidak dipisahkan secara tegas, maka ketika badai datang, semua akan berdiri di garis yang sama.
Dan dalam badai, yang paling mudah terlihat adalah mereka yang namanya tertulis jelas di dokumen teknis.

Flare di Sudut Kilang
Flare tetap menyala setiap malam. Pompa tetap berputar. Tanker tetap datang dan pergi.
Industri energi tidak berhenti oleh satu perkara. Tetapi di sudut kilang, mungkin ada seorang insinyur yang berpikir dengan getir; aku belajar hukum Newton dan hukum termodinamika.
Yang tak pernah kupelajari adalah hukum momentum opini.
Di negeri minyak, kita pandai menghitung cadangan dan kapasitas. Yang belum sepenuhnya kita hitung adalah risiko sistemik dari tata kelola yang kabur .
Dan selama kabur itu dibiarkan, duka insinyur akan terus menjadi catatan kaki,
di bawah flare yang menyala, dan di bawah palu yang kadang lebih keras dari baja. [•]
|A||N||S|
Dosen-GBUI
Buittenzorg,
28Februari2026
Verba volant, scripta manent
Leave a comment