Home MIGAS Impor Garam Masih 64%, KPI–PT Garam Tancap Gas Bangun Pabrik di Balikpapan
MIGAS

Impor Garam Masih 64%, KPI–PT Garam Tancap Gas Bangun Pabrik di Balikpapan

Share
Impor Garam Masih 64%, KPI–PT Garam Tancap Gas Bangun Pabrik di Balikpapan
Share

Jakarta, situsenergi.com

Ketergantungan Indonesia pada impor garam industri masih tinggi. Sekitar 64% kebutuhan nasional saat ini masih berasal dari luar negeri. Kondisi itu mendorong PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) bergerak cepat. Anak usaha Pertamina ini resmi menjajaki kerja sama strategis dengan PT Garam untuk membangun pabrik pengolahan garam di Balikpapan.

Langkah ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman dan Direktur Utama PT Garam Abraham Mose, Rabu (28/1/2026). Proyek ini menyasar langsung agenda besar pemerintah: hilirisasi industri dan substitusi impor.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono menyebut kolaborasi ini sebagai momentum penting. Menurutnya, sinergi KPI dan PT Garam bukan sekadar bisnis, tetapi strategi menciptakan kemandirian ganda.

“Kolaborasi KPI dan PT Garam ibarat double gardan kemandirian. Bukan hanya energi, tetapi juga pangan,” ujar Agung.

Agung mengungkapkan, pabrik garam di Balikpapan dengan kapasitas sekitar 1.000 KTA berpotensi memangkas impor hingga USD 150 juta atau setara Rp2,5 triliun. Selain itu, proyek ini diyakini memicu efek berganda, mulai dari tumbuhnya kawasan industri hingga penciptaan lapangan kerja baru.

Dari sisi produksi, PT Garam melihat peluang besar. Abraham Mose menjelaskan, pabrik ini akan memanfaatkan air buangan desalinasi (brine water) dari kilang RDMP Balikpapan yang dinilai sangat potensial. Berdasarkan kajian awal, fasilitas tersebut bisa menghasilkan sekitar 1 juta ton garam per tahun.

“Kebutuhan garam nasional mencapai 5,7 juta ton per tahun dan akan naik menjadi 7,3 juta ton seiring pembangunan chlor alkali plant. Saat ini, produksi kami baru sekitar 500 ribu ton,” tegas Abraham. “Ini tugas bersama agar Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” lanjutnya.

Dukungan juga datang dari Danantara. Managing Director 2 Danantara Setyo Hantoro menegaskan, hilirisasi garam masuk dalam prioritas nasional. Saat ini, Danantara menyiapkan 41 program strategis, dengan 20 di antaranya fokus pada hilirisasi energi dan pangan.

“Sinergi antar-BUMN diharapkan memperkuat ketahanan pangan dan energi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8%,” pungkas Setyo.

Kerja sama KPI dan PT Garam sejalan dengan Perpres No. 17 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan pergaraman nasional, yang menargetkan pemenuhan garam industri dari produksi dalam negeri secara bertahap hingga 2027. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Hulu Migas Masih Jadi Andalan! Bos PDSI Ungkap Strategi Bertahan di Era Transisi Energi

Jakarta, Situsenergi.com Di tengah gencarnya dorongan energi bersih, sektor hulu migas ternyata...

Saham Elnusa Ngebut! Jadi Top Performer BUMN di Best Stock Awards 2026

Jakarta, situsenergi.com Emiten jasa energi PT Elnusa Tbk kembali bikin pasar melirik....

Optimalkan Sumur HPPO, PHM Pacu Produksi Minyak Lapangan Handil

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) membuka 2026 dengan kinerja produksi...

Akses Air Bersih Akhirnya Masuk! Pertamina Gandeng ESDM dan SERUNI Bangun Sumur di Merauke

Merauke, situsenergi.com Kabar baik datang dari Merauke, Papua Selatan. PT Pertamina (Persero)...