Home ENERGI Minyak Melambung 5 Persen, Imbas Arab Saudi Pangkas Produksi
ENERGI

Minyak Melambung 5 Persen, Imbas Arab Saudi Pangkas Produksi

Share
Share

New York, Situsenergy.com

Harga minyak melambung hampir 5 persen di pasar dunia pada penutupan, Selasa, paska tersiar kabar bahwa Arab Saudi akan melakukan pemangkasan produksi secara  sukarela. Sementara itu, ketegangan justru memuncak setelah penyitaan Iran atas sebuah kapal tanker Korea Selatan.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melonjak USD2,51 atau 4,9 persen, menjadi USD53,60 per barel, demikian dikutip dari laporan  Reuters, Selasa (5/1/2021) atau Rabu (6/1/2021) pagi WIB.

Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, melesat USD2,31 atau 4,9 persen, menjadi USD49,93 per barel.

Arab Saudi sendiri rencananya akan melakukan pengurangan produksi minyak secara sukarela sebesar satu juta barel per hari (bph) pada Februari dan Maret. Pemotongan tersebut merupakan bagian dari kesepakatan untuk membujuk sebagian besar produsen dari grup yang terdiri dari Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya guna mempertahankan output tetap stabil di tengah kekhawatiran bahwa penguncian virus corona akan menekan permintaan.

“Arab Saudi membuat akhir yang sempurna, dan jika ada satu cara untuk menggambarkan apa arti pemotongan sukarela itu bagi pasar, ‘happy hour’ adalah istilah yang cukup pas,” kata Bjornar Tonhaugen, Kepala Pasar Minyak Rystad Energy.

OPEC Plus melanjutkan perundingan, Selasa, setelah menemui kebuntuan seputar tingkat output minyak untuk periode Februari, pekan ini.

Dokumen internal OPEC Plus tertanggal 4 Januari yang dilihat  Reuters  menyoroti risiko  bearish  dan menekankan bahwa “implementasi ulang tindakan untuk menahan penyebaran Covid-19 di seluruh benua, termasuk penguncian penuh, meredam rebound permintaan minyak pada 2021”.

Ketegangan seputar anggota OPEC , Iran, terkait penyitaan kapal Korea Selatan terus berlanjut, karena Teheran mengatakan negara Asia itu berutang USD7 miliar.

Namun, elemen  bearish  membayangi pasar. Inggris memulai penguncian baru pada Senin ketika kasus virus corona melonjak. Penguncian virus corona membebani permintaan bahan bakar sejak awal tahun lalu.

Investor menunggu data industri tentang stok minyak mentah Amerika yang akan dirilis Selasa. Stok minyak mentah Amerika diprediksi lebih rendah pekan lalu, untuk minggu keempat berturut-turut, sementara persediaan produk pengilangan kemungkinan naik, menurut jajak pendapat  Reuters,  Selasa. (SNU/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Solusi Percepat Transisi Energi

Jakarta, situsenergi.com Pengembangan Bio-Compressed Natural Gas (Bio-CNG) berbasis limbah kelapa sawit kini...

Rig PDSI Temukan Minyak 3.176 Barel per Hari, Sumur Baru di Prabumulih Bikin Optimistis

Jakarta, situsenergi.com Kinerja pengeboran PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) kembali mencuri...

Bioenergi Disebut Mampu Pangkas 12 Juta Ton Emisi dan Ciptakan 150 Ribu Lapangan Kerja

Jakarta, situsenergi.com Pengembangan bioenergi nasional dinilai mampu memberikan manfaat ganda, mulai dari...

Selat Hormuz dan Perpres 26/2026 : Ketika Negara Belajar Membeli Minyak dalam Keadaan Darurat

Oleh : Andi N Sommeng Ada saat ketika negara tidak cukup hanya...