Home ENERGI Harga Minyak Berbalik Arah Setelah Mengalami Koreksi Lebih Dari Lima Persen
ENERGI

Harga Minyak Berbalik Arah Setelah Mengalami Koreksi Lebih Dari Lima Persen

Share
Share

Tokyo, SitusEnergy.com

Harga minyak menguat, Kamis pagi, setelah anjlok lebih dari 5% pada sesi sebelumnya di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan cepat kasus Covid-19 dapat menghambat pemulihan permintaan bahan bakar. Tetapi volume perdagangan hari ini relatif tipis dengan pasar China ditutup untuk libur nasional hingga Jumat.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika Serikat, naik 12 sen, atau 0,3%, menjadi USD38,13 per barel pada pukul 08.29 WIB, setelah merosot USD2,36 pada penutupan Rabu, demikian dikutip dari Reuters, Kamis (25/6/2020).

Sementara itu, patokan internasional, minyak mentah berjangka Brent, meningkat 5 sen, atau 0,1%, menjadi USD40,36 per barel, setelah jatuh USD2,32 pada sesi Rabu.

Sehari sebelumnya, kontrak patokan itu menembus harga tertinggi sejak awal Maret, tepat sebelum penguncian akibat pandemi virus corona dan perang harga Saudi-Rusia menghantam pasar.

Aksi jual Rabu terjadi setelah data pemerintah Amerika menunjukkan stok minyak mentah melonjak 1,4 juta barel, mendorong persediaan ke rekor tertinggi untuk minggu ketiga berturut-turut, pekan lalu.

Namun analis mengatakan itu sebagian besar disebabkan kargo Saudi yang dipesan Amerika meningkat ketika harga merosot pada periode Maret. Pengiriman tersebut akan segera menyusut.

Di sisi positif, data Amerika menunjukkan peningkatan yang sehat dalam permintaan tersirat untuk bensin, kata Kepala Riset Komoditas National Australia Bank, Lachlan Shaw.

Pasokan bensin, proksi untuk permintaan, melonjak 9% dari pekan sebelumnya, dan stok bensin Amerika turun 1,7 juta barel, tutur Badan Informasi Energi, penarikan yang lebih besar dari estimasi para analis.

Tetapi kekhawatiran tentang gelombang kedua kasus Covid-19 di beberapa negara bagian AS, di mana penguncian dilonggarkan, dan penyebaran infeksi yang cepat di Amerika Selatan serta Asia Selatan diperkirakan menekan permintaan bahan bakar.

Kekhawatirannya adalah bahkan jika penguncian dilonggarkan, orang akan tetap di rumah karena risiko kesehatan yang dirasakan.

“Tren terbaru di sana tidak menggembirakan,” kata Shaw.

Stephen Innes, analis AxiCorp juga mengatakan data mobilitas dari Google menunjukkan  driving  di Texas, Florida dan sampai batas tertentu California terlihat mendatar.

Dalam pengingat lain dari masalah permintaan bahan bakar, maskapai Australia, Qantas Airways, Kamis, memperkirakan sedikit kebangkitan dalam perjalanan internasional hingga setidaknya Juli 2021, ketika memangkas seperlima dari tenaga kerjanya dan mengandangkan 100 pesawat.

“Ini menyoroti kenyataan bahwa kita berbicara bertahun-tahun sebelum penerbangan internasional pulih kembali – mungkin tiga hingga empat tahun,” kata Shaw. (SNU/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sudah Saatnya Prabowo Juga Pecah Kementerian ESDM Menjadi Kementerian Energi Dan Kementerian Sumber Daya Mineral

Jakarta, situsenergi.com Sudah saatnya pemerintahan Prabowo mempertimbangkan secara serius pemisahan Kementerian Energi...

Sofyano: Danantara Perlu Lanjutkan Merger BUMN Atau Subholding atau Anak Perusahaan BUMN

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan merger subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) patut diapresiasi...

Opini: Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Keberadaan Danantara harus dimaknai...

KAI Perkuat Ketahanan Energi Lewat Angkutan Barang Non-Batubara

Jakarta, Situsenergi.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja solid pada awal...