Home OPINI OUTRUNNING DECLINE:Berlari Lebih Cepat Dari Laju Penurunan Produksi
OPINI

OUTRUNNING DECLINE:Berlari Lebih Cepat Dari Laju Penurunan Produksi

Share
OUTRUNNING DECLINE: Berlari Lebih Cepat Dari Laju Penurunan Produksi
Salis Aprilian
Share

Oleh: Salis Aprilian
Anggota Dewan Kehormatan IATMI (Ikatan Ahli Perminyakan Indonesia)*

Industri hulu migas mempunyai hukum alam yang tidak bisa ditawar, yakni setiap lapangan minyak pada akhirnya akan mengalami decline. Tekanan reservoir turun, water cut meningkat, produktivitas sumur melemah, dan produksi berangsur menurun. Karena itu, persoalan terbesar industri hulu sesungguhnya bukan sekadar menemukan minyak, melainkan bagaimana menambah produksi baru lebih cepat daripada hilangnya produksi akibat natural decline.

Inilah pesan yang saya tangkap dari presentasi Oki Muraza, Wakil Direktur Utama/Deputy CEO PT Pertamina (Persero), pada IATMI XVIII Symposium 2026 di Jakarta, 15 September 2026 yang lalu. Presentasinya diberi judul yang sangat tepat: “Outrunning Decline: Pertamina’s Role in Strengthening National Energy Security.”

Bukan sekadar managing decline. Bukan pula menerima penurunan produksi sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan. Tetapi berusaha berlari lebih cepat daripada decline itu sendiri.

.
Ketika Demand Belum Mau Ikut Turun

Persoalannya menjadi semakin penting karena penurunan produksi domestik terjadi ketika kebutuhan minyak Indonesia masih tinggi.

Data yang ditampilkan Pertamina memperlihatkan perjalanan demand minyak Indonesia dari sekitar 1,266 juta barel per hari pada 2005, meningkat menjadi sekitar 1,340 juta barel per hari, kemudian mencapai sekitar 1,616 juta barel per hari pada awal dekade 2010-an. Setelah sempat turun—termasuk menjadi sekitar 1,406 juta barel per hari pada periode pandemi—demand kembali meningkat hingga sekitar 1,699 juta barel per hari pada 2025.

Pertanyaan yang kemudian diajukan dalam presentasi itu cukup provokatif, yakni “Demand for Oil in Indonesia Future, a myth?”

Pertamina membuat beberapa skenario hingga 2035. Tanpa biofuel dan penetrasi kendaraan listrik, gross oil demand dapat mencapai sekitar 1,977 juta barel per hari. Dalam skenario slow transition sekitar 1,845 juta, realistic case sekitar 1,779 juta, accelerated transition sekitar 1,702 juta, dan bahkan dalam skenario very aggressive transition masih sekitar 1,425 juta barel per hari.

Artinya, bahkan dengan B50, E10, Sustainable Aviation Fuel (SAF), dan penetrasi kendaraan listrik yang cepat, Indonesia dalam proyeksi Pertamina masih membutuhkan sekitar 1,7–1,8 juta barel per hari hydrocarbon oil sampai 2035 dalam skenario yang mereka soroti. Di sinilah masalah ketahanan energi menjadi sangat nyata.

Kapasitas kilang domestik yang ditampilkan dalam presentasi berada di kisaran 1,2 juta barel per hari. Dengan demikian, persoalan Indonesia bukan hanya bagaimana memenuhi kebutuhan BBM, tetapi juga bagaimana mengurangi ketergantungan terhadap impor crude maupun produk BBM.

Setiap tambahan satu barel yang dapat diproduksi dari reservoir Indonesia mempunyai arti lebih luas daripada sekadar tambahan produksi hulu. Ia berpotensi mengurangi kebutuhan impor, memperbaiki ketahanan energi, dan mempertahankan lebih banyak nilai ekonomi di dalam negeri.

.
Pertamina Menjadi Semakin Penting

Data berikutnya justru lebih menarik. Dalam periode 2021–2025, produksi minyak Pertamina yang ditampilkan meningkat dari sekitar 349 ribu barel per hari pada 2021 menjadi 417 ribu pada 2022, kemudian sekitar 415 ribu pada 2023, 400 ribu pada 2024, dan 396 ribu barel per hari pada 2025.

Sementara itu, produksi operator lainnya turun dari sekitar 311 ribu barel per hari pada 2021 menjadi 195 ribu pada 2022, 191 ribu pada 2023, 180 ribu pada 2024, sebelum meningkat menjadi sekitar 209 ribu barel per hari pada 2025.
Sebagai catatan, bahwa pada rentang tahun tersebut ada beberapa Wilayah Kerja yang berpindah operatornya ke Pertamina.

Pesannya jelas, bahwa dalam beberapa tahun terakhir, porsi Pertamina dalam produksi minyak nasional menjadi semakin dominan. Namun, dominasi itu sekaligus membawa konsekuensi.

Ketika Pertamina mengelola semakin banyak lapangan mature, perusahaan ini tidak hanya menerima aset dan produksinya, tetapi juga menerima decline-nya. Dan, decline tidak pernah menunggu.

.
Dari “Easy Oil” Menuju “Difficult Barrels”

Era ‘minyak mudah dan murah’ semakin jauh di belakang kita. Karena itu, slide presentasi yang menurut saya paling strategis justru bukan mengenai target produksi, melainkan slide berjudul:
“What’s in our Table as of now?”

Pesannya bahkan lebih menarik, yakni “Technology is available — execution is the constraint.”

Pertamina memetakan beberapa sumber pertumbuhan produksi berdasarkan besarnya potensi tambahan produksi dan waktu yang diperlukan menuju produksi.

Yang paling cepat adalah idle wells, workover dan artificial lift. Dampaknya relatif lebih kecil, tetapi waktu menuju produksi juga pendek.

Berikutnya terdapat infill drilling, horizontal wells dan stimulation, kemudian waterflood optimization/brownfield redevelopment.

Setelah itu kita memasuki kelompok yang membutuhkan waktu lebih panjang tetapi memberikan potensi produksi lebih besar: CEOR/EOR scale-up, unconventional/MNK, dan new field development.

Paling panjang adalah ‘exploration-to-production,’ yang dalam grafik berada pada kisaran delapan tahun atau lebih.

Pesan strategis dari grafik tersebut sederhana, yaitu tidak semua barrel mempunyai ‘clock’ yang sama.

Kalau Indonesia ingin meningkatkan produksi sebelum 2030, kita tidak mungkin hanya mengandalkan discovery baru. Eksplorasi tetap mutlak diperlukan untuk sustainability jangka panjang, tetapi untuk mengejar produksi dalam beberapa tahun mendatang, portofolio harus diisi oleh proyek-proyek dengan time-to-production lebih pendek.

Maka idle wells, workover, artificial lift, infill drilling, stimulation, waterflood optimization, brownfield redevelopment dan EOR menjadi sangat penting.

Ini bukan pilihan antara eksplorasi atau optimasi lapangan tua.
Kita membutuhkan keduanya.

.
Seberapa Tinggi Kita Bisa Pergi?

Pertamina kemudian memperlihatkan sebuah grafik yang lebih menantang: “How high can we go (UNCONSTRAINED)”.

Produksi minyak Pertamina diperlihatkan sekitar 173 ribu barel per hari pada 2020, kemudian meningkat hingga sekitar 389 ribu, dan berada di kisaran 400 ribu barel per hari sebagai titik awal proyeksi.

Dari titik tersebut terdapat beberapa lintasan menuju 2035, antara lain:
Tanpa terobosan besar—’No Major Breakthrough’—produksi dapat turun hingga sekitar 260 ribu barel per hari.

Skenario ‘Risk Adjusted Long Term Plan’ berada di sekitar 500 ribu barel per hari. Skenario berikutnya meningkat menjadi sekitar 600 ribu barel per hari.

Dan dalam kondisi ‘unconstrained,’ potensinya digambarkan dapat mencapai sekitar 760 ribu barel per hari pada 2035.

Kata unconstrained di sini sangat penting. Ia bukan berarti produksi sebesar itu otomatis akan terjadi. Justru sebaliknya, yakni grafik tersebut menunjukkan berapa besar potensi yang mungkin dikejar apabila berbagai constraint dapat dilepaskan.

Pesan pada materi presentasi itu tegas, yakni “Align the whole ecosystem to maximize barrels — government, Pertamina and providers move as one.”

Dengan kata lain, persoalan produksi minyak Indonesia tidak lagi dapat diselesaikan oleh operator sendirian.

.
Rokan: Laboratorium Besar Mature Field Indonesia

Tidak ada contoh yang lebih menarik mengenai persoalan ini daripada Blok Rokan.

Rokan pernah mencapai produksi sekitar 1 juta barel per hari. Tetapi setelah puluhan tahun berproduksi, produksinya secara alamiah menurun. Presentasi Pertamina menyebut wilayah ini telah menghasilkan lebih dari 11 miliar barel sejak mulai dikembangkan.

Apakah mature field sebesar itu sudah selesai? Ternyata belum.

Justru Rokan dapat menjadi laboratorium terbesar Indonesia mengenai bagaimana mature asset diberi kehidupan kedua.

Dalam presentasinya, Pertamina memperlihatkan beberapa jalur.
Pertama, ‘Unconventional Oil.’ Pertamina menyebut potensi world-class Pematang Brown Shale sekitar 700 MMBOE pada materi simposium. Secara lebih luas, Oki Muraza kemudian menyebut potensi unconventional Rokan yang dapat menjadi mesin pertumbuhan baru, dengan aspirasi kontribusi hingga 150 ribu barel per hari atau bahkan lebih.

Kedua, ‘Chemical EOR’, dengan kebutuhan CAPEX dan OPEX yang besar melalui penggunaan surfactant, polymer maupun ASP.

Ketiga, ‘Thermal EOR Expansion,’ terutama untuk heavy oil, yang membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk menghasilkan steam maupun listrik.

Keempat, ‘Low Quality Reservoir (LQR)’, yang dapat dikembangkan melalui multi-stage fracturing dengan syarat tercipta ekosistem berbiaya rendah.

Kelima, ‘Infill Program Optimization,’ termasuk pemanfaatan AI untuk optimasi drilling dan well intervention.

Dengan kata lain, mature field tidak identik dengan lapangan yang telah kehilangan masa depan. Yang menurun adalah ‘natural production’-nya. Bukan ‘necessarily opportunity’-nya.

.
Lima “Pain Points” yang Harus Dibongkar

Di bagian akhir presentasi, Pertamina justru tidak menempatkan teknologi sebagai hambatan terbesar. Mereka mengidentifikasi lima pain points.

Pertama, ‘Slow Decisions & Long Cycle Time,’ termasuk di internal Pertamina. Solusinya antara lain menyederhanakan stage-gates, menyesuaikan threshold dan approval, mengoptimalkan contracting, serta memperbaiki proses keputusan investasi.

Kedua, ‘Permits & Land Delay Production.’ Pembebasan lahan, izin lingkungan, tata ruang dan pemerintah daerah dapat berjalan paralel dan membutuhkan pendekatan one-gate permit process.

Ketiga, ‘Economics Not Fitting Mature Barrels’. Ini persoalan fundamental. Mature field, EOR dan marginal barrels tidak selalu bisa diperlakukan dengan parameter keekonomian yang sama dengan lapangan konvensional berproduktivitas tinggi. Pertamina mengusulkan pendekatan fiskal yang fit-for-purpose, termasuk untuk EOR serta proyek marginal dan kompleks, sekaligus fleksibilitas seperti cross-ring fencing concept.

Keempat, ‘Execution Capacity Is Still Constrained.’ Percuma mempunyai ratusan kandidat sumur jika rig, services, material, infrastructure dan tenaga profesional tidak tersedia tepat waktu. Karena itu, service providers harus mempunyai insentif untuk berinvestasi dalam fleet dan SDM.

Kelima, ‘Too Many Opportunities Stay as Opportunities.’
Kalimat terakhir ini mungkin justru yang paling penting, bahwa Indonesia tidak kekurangan opportunity. Yang sering kurang adalah kemampuan mengubah opportunity menjadi project, project menjadi well, well menjadi production, dan production menjadi barrels yang benar-benar masuk ke tanki.

.
Bukan Persoalan Teknologi Saja

Selama ini diskusi peningkatan produksi minyak sering berakhir pada teknologi.

Horizontal drilling. Hydraulic fracturing. Chemical EOR. Steamflood. Artificial lift. Digitalization. Artificial intelligence. Semuanya penting!

Tetapi presentasi ini menyampaikan perspektif yang berbeda, yakni teknologinya sebagian besar sudah tersedia.

Yang menentukan adalah execution.

  • Apakah keputusan investasi dapat dibuat cepat?
  • Apakah POD, perizinan dan pengadaan dapat dipersingkat?
  • Apakah fiscal terms cukup menarik untuk marginal barrels?
  • Apakah rig tersedia?
  • Apakah chemicals dan equipment tersedia?
  • Apakah service company berani menambah kapasitas?
  • Apakah pemerintah, regulator, operator dan kontraktor mempunyai sense of urgency yang sama?

Karena reservoir mempunyai jamnya sendiri.

Setiap tahun keputusan tertunda bukan hanya kehilangan waktu. Dalam mature field, ia dapat berarti kehilangan barrels yang tidak pernah kembali.

.
Outrunning Decline

Pada akhirnya, saya melihat Outrunning Decline bukan sekadar judul presentasi Pertamina. Ia menggambarkan persoalan fundamental industri hulu migas Indonesia.

Kita mempunyai lapangan-lapangan mature yang terus mengalami decline. Pada saat bersamaan, demand minyak masih besar dan kemampuan produksi domestik jauh di bawah kebutuhan.

Karena itu, strategi kita harus berjalan dalam beberapa horizon sekaligus: mengejar quick barrels dari idle wells, workover, artificial lift dan infill drilling; mengembangkan medium-term barrels melalui waterflood, brownfield redevelopment dan EOR; sekaligus menyiapkan future barrels dari unconventional resources, new field development dan exploration.

Tidak ada satu cara yang dapat menyelesaikan semuanya.

Dan mungkin di sinilah pesan paling penting dari presentasi Oki Muraza, yakni “Opportunity is there. The real challenge is shortening the path from resource to first oil.”

Indonesia bukan tidak mempunyai minyak. Kita masih mempunyai resources, mature fields, technology, engineers, service companies dan berbagai peluang yang tersimpan di bawah permukaan.

Tantangannya adalah seberapa cepat kita dapat mengubah semuanya menjadi produksi. Sebab decline tidak pernah berhenti untuk menunggu keputusan rapat berikutnya.

Kalau produksi ingin tumbuh, kita tidak cukup hanya berjalan. Kita harus berlari—dan berlari lebih cepat daripada decline.[•]

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

MENYOAL RENCANA PEMBENTUKAN BLU SEKTOR ENERGI (1)

Marwan Batubara, IRESS Bulan Agustus 2026 lalu beredar naskah Rancangan Peraturan Presiden...

Menutup ‘GAP’ Produksi Migas Nasional

Oleh: Salis AprilianAnggota Dewan Kehormatan IATMI (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia) Ada...

Sofyano: Antrean BBM Bukan Sekadar Soal Pasokan, Kuota dan Pengawasan Harus Dibenahi

Jakarta, Situsenergi.com Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria mengapresiasi langkah Pertamina Patra Niaga...

Salis Aprilian: Jangan Bentuk BUK Baru yang Tumpang Tindih dengan Pertamina

Jakarta, situsenergi.com Rencana pembentukan Badan Usaha Khusus Minyak dan Gas Bumi (BUK...