Jakarta, situsenergi.com
PT Pertamina (Persero) memperkuat langkah menuju ketahanan energi nasional dengan mengoptimalkan pemanfaatan kelapa sawit beserta limbahnya sebagai sumber bioenergi. Strategi ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza mengatakan sumber daya Crude Palm Oil (CPO) dan tandan kosong sawit memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

“Jawabannya ada di depan mata kita. Dengan sumber daya CPO dan Tandan Kosong Sawit, kita harus mampu mengubahnya menjadi energi,” ujar Oki dalam Pekan Riset Sawit Indonesia 2026.
Menurut Oki, bioenergi menawarkan tiga keunggulan utama, yakni ketersediaan biomassa yang melimpah, dukungan terhadap dekarbonisasi sektor transportasi, serta penguatan ekonomi sirkular. Karena itu, Pertamina terus membangun ekosistem biofuel mulai dari penyediaan bahan baku, pengembangan teknologi kilang, hingga distribusi ke masyarakat.
Saat ini Pertamina telah menjalankan program biodiesel B50 dengan jaringan distribusi yang menjangkau 86 dari 121 Terminal BBM di Indonesia. Perusahaan juga mengembangkan fasilitas bioetanol di Glenmore berkapasitas 30 ribu kiloliter per tahun untuk mendukung target pencampuran E10.
Selain itu, Pertamina mulai mengembangkan pemanfaatan tandan kosong sawit (TKS) yang volumenya mencapai sekitar 25 juta ton per tahun sebagai bahan baku bioetanol.
“Kalau inisiatif ini berhasil, maka tidak ada lagi limbah yang sia-sia,” kata Oki.

Pertamina juga mendukung pembangunan Dedicated Green Refinery di Cilacap serta mengembangkan teknologi coprocessing di Kilang Cilacap, Balongan, dan Dumai guna mempercepat transisi menuju kemandirian energi. (*)
Leave a comment