Home OPINI Tender Jabatan dan Bibit Deep State
OPINI

Tender Jabatan dan Bibit Deep State

Share
Share

Oleh : Andi N Sommeng

Misteri Warung Kopi Birokrasi

Ada misteri kecil dalam birokrasi: seleksi jabatan belum dimulai, tetapi warung kopi sudah tahu siapa pemenangnya. Di atas kertas, semua tampak sah: ada panitia seleksi, makalah, wawancara, asesmen, skor, dan berita acara. Republik terlihat modern. Tetapi di balik panggung, sering kali keputusan sudah lebih dulu matang daripada kopinya.

Jabatan sebagai Tender Kekuasaan

Inilah gejala ketika jabatan publik berubah menjadi tender kekuasaan. Bedanya, dalam tender proyek yang diperebutkan adalah jalan, gedung, atau pengadaan barang. Dalam tender jabatan, yang diperebutkan adalah kursi yang kelak menentukan proyek, izin, anggaran, promosi, dan arah kebijakan. Kursi menjadi komoditas. Negara menjadi meja lelang. Meritokrasi menjadi dekorasi.

Negara Resmi dan Negara Informal

Secara akademik, deep state adalah jaringan kekuasaan informal yang bekerja di balik institusi formal negara. Negara resmi bertanya, “Apa dasar hukumnya?” Negara informal bertanya, “Ini maunya siapa?” Negara resmi menunggu nota dinas. Negara informal cukup mengirim pesan pendek: “Tolong dibantu.”🫣

Penyalahgunaan Kewenangan yang Rapi

Di titik itulah penyalahgunaan kewenangan mulai bekerja. Jabatan yang seharusnya menjadi alat pelayanan publik berubah menjadi instrumen kepentingan privat. Lelang tampak terbuka, tetapi pemenangnya sudah diarahkan. Kajian tampak ilmiah, tetapi kesimpulannya sudah dipesan. Seleksi tampak objektif, tetapi hasilnya sudah beredar sebelum peserta lain selesai menyiapkan CV.

Korupsi Berbatik dan Ber-Executive Summary

Korupsi modern tidak selalu datang dengan amplop cokelat. Ia sering datang memakai batik, membawa executive summary, lalu ditutup dengan kalimat: Sesuai arahan. Ia tidak selalu membobol kas negara secara kasar, tetapi masuk melalui pasal, izin, konsesi, rekomendasi, pengadaan, dan regulasi yang tampak sangat legal.

Rekrutmen sebagai Akar Masalah

Masalah terbesarnya ada di sistem rekrutmen. Dalam meritokrasi, pejabat dipilih karena kompetensi, integritas, pengalaman, dan keberanian menjaga kepentingan publik. Dalam patronase, pejabat dipilih karena kedekatan, loyalitas, kelenturan moral, dan kemampuan membaca kehendak patron. Jabatan lalu menjadi investasi politik; setelah menang, ada modal yang harus dikembalikan.

Birokrat Karier sebagai Korban Pertama

Korban paling getir dari sistem ini adalah birokrat karier. Mereka meniti pangkat dari bawah, memahami prosedur, menyimpan memori kelembagaan, dan tahu mengapa suatu kebijakan pernah berhasil atau gagal. Tetapi ketika rekrutmen berubah menjadi tender, mereka sering kalah bukan karena tidak mampu, melainkan karena tidak punya sponsor.

Kekecewaan yang Menjadi Energi Gelap

Di sinilah kekecewaan menjadi berbahaya. Birokrat karier yang kecewa tetap berada di dalam sistem, tetapi tidak lagi sepenuhnya percaya pada sistem. Mereka hadir di rapat, tetapi batinnya sudah menulis catatan: “Ini sudah diatur.” Mereka menjalankan prosedur, tetapi tahu cara memperlambat, menahan, menafsirkan, atau mengalihkan arus informasi.

Bibit Sunyi Deep State

Maka birokrat karier yang kecewa dapat menjadi bibit sunyi terbentuknya deep state. Bukan karena sejak awal ingin membajak negara, tetapi karena negara formal berkali-kali mempermalukan meritokrasi. Ketika jalur resmi tertutup oleh patronase, mereka membangun kanal informal. Awalnya untuk bertahan, lalu untuk menjaga pengaruh, akhirnya untuk mengendalikan keputusan dari balik meja.

Dari Ruang Arsip ke Ruang Bayangan

Deep state tidak selalu lahir dari ruang gelap penuh konspirasi . Ia bisa lahir dari ruang arsip, meja eselon yang tersingkir, staf ahli yang tidak pernah didengar, dan profesional negara yang berkali-kali dilangkahi oleh pejabat titipan . Bila orang kompeten terlalu lama dipinggirkan, ia bisa berubah dari penjaga sistem menjadi pengendali celah sistem.

Negara Dua Lapis

Akibatnya, negara memiliki dua lapis administrasi. Lapis pertama adalah struktur resmi: bagan organisasi, surat keputusan, regulasi, dan pidato reformasi birokrasi. Lapis kedua adalah struktur sebenarnya : siapa dekat siapa, siapa titipan siapa, siapa bisa menelepon siapa, dan siapa yang cukup mengernyit untuk membuat kebijakan berubah arah.

Reformasi Rekrutmen sebagai Vaksin Institusional

Karena itu, reformasi rekrutmen bukan sekadar memperbaiki seleksi jabatan. Ia adalah upaya mencegah negara menjadi pasar gelap kekuasaan. Seleksi harus benar-benar meritokratik, transparan, terlacak, diaudit, dan bebas konflik kepentingan. Rekam jejak harus lebih penting daripada rekomendasi. Integritas harus lebih mahal daripada kedekatan. Kompetensi harus lebih menentukan daripada loyalitas buta.

Rantai Kerusakan Negara

Kesimpulannya sederhana: rekrutmen buruk melahirkan pejabat loyalis dan birokrat kecewa. Pejabat loyalis melayani patron. Birokrat kecewa membangun kanal informal. Patron menyalahgunakan kewenangan. Korupsi tumbuh. Jaringan menguat. Lalu negara bertanya dengan polos: mengapa reformasi birokrasi gagal?

Memangkas Daun, Menyiram Akar

Jawabannya: karena kita sering memangkas daun, tetapi menyiram akar. Kita menangkap orang, tetapi membiarkan sistem yang melahirkan orang seperti itu tetap subur. Kita bicara integritas, tetapi memelihara rekrutmen yang menghukum orang berintegritas. Kita memuji meritokrasi, tetapi diam-diam merawat patronase.

Pemenang Paket, Bukan Penjaga Republik

Bila jabatan publik terus diperlakukan seperti tender, negara akan dipimpin oleh pemenang paket, bukan penjaga republik. Dan bila birokrat karier yang kompeten terus dipermalukan oleh sistem, jangan heran bila kelak mereka tidak lagi menjadi tulang punggung negara, tetapi menjadi tulang dalam tenggorokan kekuasaan.

Mohon Arahan Lebih Lanjut🫣

Republik tidak selalu runtuh karena kudeta. Kadang ia keropos pelan-pelan, dengan stempel basah, notulen lengkap, disposisi rapi, dan kalimat paling sakti dalam birokrasi: “Mohon arahan lebih lanjut.”[•]

|A||N||S|
Dosen-GBUI
Buittenzorg,
07Mai2026

Verba volant, scripta manent

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Menjinakkan Paradoks Danantara: Ketika Pertamina dan PLN Terjebak Logika Kapitalis

Oleh : Arie Gumilar(Presiden Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu/FSPPB) Pada Februari 2025...

Selat Hormuz dan Perpres 26/2026 : Ketika Negara Belajar Membeli Minyak dalam Keadaan Darurat

Oleh : Andi N Sommeng Ada saat ketika negara tidak cukup hanya...

Turbin CO₂ Superkritis: Ketika Zaman Uap Mulai Berkeringat

Oleh : Andi N Sommeng Peradaban Modern yang Masih Memasak Air. Ada...

Bea Cukai Mulai Serius! Puskepi Bongkar Sinyal Keras Purbaya soal Rokok Ilegal

Jakarta, situsenergi.com Direktur Pusat Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria menilai lonjakan penindakan...