Home LISTRIK RUPTL 2025-2034 Dinilai “Berpihak ke Swasta”, EWI Desak Revisi Segera!
LISTRIK

RUPTL 2025-2034 Dinilai “Berpihak ke Swasta”, EWI Desak Revisi Segera!

Share
RUPTL 2025-2034 Dinilai “Berpihak ke Swasta”, EWI Desak Revisi Segera!
RUPTL 2025-2034 dikritik EWI karena terlalu berpihak ke swasta, Ferdinand Hutahaean desak revisi signifikan agar listrik tetap dikuasai negara.
Share

Jakarta, situsenergi.com

Pernahkah Anda bertanya-tanya siapa yang sebenarnya menguasai bisnis listrik di Indonesia? RUPTL 2025-2034 kini menuai kritik tajam karena dinilai terlalu mengutamakan kepentingan swasta, bukan negara, dalam pengelolaan listrik yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean menyatakan, kondisi ini melanggar konstitusi dan harus segera diperbaiki.

Agenda Swasta Menguasai Listrik

“Ya saya melihat RUPTL sekarang ini terlalu berpihak kepada swasta ya. Ada agenda membawa bisnis listrik menjadi domain swasta. Ini melanggar konstitusi karena listrik adalah hajat hidup orang banyak,” ujar Ferdinand kepada Situsenergi.com, seperti dikutip hari ini, 27 Agustus 2025. Menurutnya, listrik harus dibangun dan dikelola oleh negara, bukan hanya untuk keuntungan pihak swasta.

Take or Pay, “Penyakit” bagi PLN

Ferdinand juga menyoroti sistem take or pay yang diatur dalam RUPTL. Menurutnya, sistem ini membuat PLN terbebani terus-menerus, sementara pembangkit swasta menikmati keuntungan dari kerja keras PLN. “Sistem take or pay ini harus dihapuskan, harus diganti. PLN diperalat menjadi pekerja rodi bagi pembangkit swasta,” tegasnya. Ia menekankan, bisnis listrik seharusnya dijalankan dengan prinsip keadilan, misalnya membayar sesuai listrik yang digunakan, kecuali cadangan listrik.

Privatisasi Terselubung?

Jika melihat komposisi RUPTL 2025-2034, sekitar 73 persen dialokasikan untuk Independent Power Producer (IPP). Hal ini menimbulkan kekhawatiran adanya privatisasi terselubung, yang berpotensi bertentangan dengan putusan Mahkamah Konstitusi. Ferdinand menekankan, agar tudingan privatisasi dapat dihindari, RUPTL 2025-2034 harus direvisi signifikan.

Revisi sebagai Solusi

Menurut Ferdinand, revisi RUPTL penting untuk memastikan listrik tetap berada di bawah kontrol negara, melindungi kepentingan publik, dan menghindari beban yang memberatkan PLN. Dengan penyesuaian ini, pengelolaan listrik dapat lebih adil, transparan, dan sesuai konstitusi.

Seiring kritik terhadap RUPTL 2025-2034 yang menguat, pemerintah dan PLN diharapkan segera menanggapi masukan ini demi menjaga kedaulatan energi nasional dan kepentingan rakyat. (GIT)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Blackout Listrik Jadi Alarm Ketahanan Energi Nasional

Jakarta, situsenergi.com Terjadinya blackout atau padam listrik massal di sejumlah wilayah Indonesia...

Blackout Listrik Mengancam Dunia! RI Bukan Satu-satunya, Negara Ini Pernah Kena Dampak 620 Juta Orang

Jakarta, Situsenergi.com Siapa yang menyangka bahwa pemadaman listrik total atau blackout bukan...

PLN Pastikan Sistem Listrik Sumatra Stabil, Pasokan 5.579 MW Sudah Kembali Mengalir

Jakarta, Situsenergi.com PT PLN (Persero) terus mempercepat pemulihan sistem kelistrikan Sumatra usai...

Sofyano Puskepi Nilai PLN Responsif Sampaikan Progres Pemulihan Kelistrikan Sumatra

JAKARTA,situsenergi.com Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI) Sofyano Zakaria menilai PLN proaktif...