Home MIGAS Bahlil: Kebutuhan CPO untuk Biodiesel Tak Akan Ganggu Alokasi Sektor Pangan
MIGAS

Bahlil: Kebutuhan CPO untuk Biodiesel Tak Akan Ganggu Alokasi Sektor Pangan

Share
Soal Penyelidikan KPPU Terkait Proyek Pipa Cisem Tahap II, Menteri ESDM: Silahkan Saja Kalau Mau Buktikan
Share

Jakarta, situsenergi.com

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menegaskan, kebutuhan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) untuk sektor energi dalam memproduksi  biodiesel  tidak akan mengurangi alokasi CPO untuk pangan, khususnya minyak goreng.

“Palingan kapasitas ekspor kita yang akan kita kurangi untuk alokasinya dipakai sebagian ke biodiesel di dalam negeri,” kata Bahlil dikutip Jumat (29/11). 

Menurutnya, pemerintah akan mengedepankan kepentingan dalam negeri, dan tidak menghiraukan kepentingan negara lain jika kekurangan pasokan CPO.

“Kita berencana mengurangi ekspor minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan biodiesel domestik,” ucapnya.

Bahlil juga mengatakan, Indonesia akan membangun pabrik bahan baku biodiesel  dengan nilai investasi US$ 1,2 miliar (sekitar Rp19,02 triliun) untuk menekan impor metanol.

“Pabrik tersebut, akan berlokasi di Bojonegoro, Jawa Timur. Menurut berbai sumber, pabrik tersebut kapasitas produksi 800.000 ton metanol per tahun,” ungkapnya.

Fasilitas tersebut, lanjut dia, sekaligus dirancang untuk menopang rencana pemerintah mengebut pengembangan  biodiesel B50 dalam beberapa tahun ke depan, agar Indonesia bisa terbebas dari impor solar.

“Karena 80% metanol sebagai campuran daripada biodiesel itu kita impor. Jadi kita akan bangun satunya di Bojonegoro dengan industri kurang lebih sekitar US$1,2 miliar investasinya,” kata Bahlil.

Menurut dia, langkah ini dilakukan untuk memenuhi target ambisius Presiden Prabowo Subianto dalam swasembada energi; yang mencakup akselerasi produksi biodiesel dan bioetanol, serta mengatrol kinerja produksi siap jual atau lifting minyak.

“Tidak hanya metanol, hingga saat ini Indonesia masih mengimpor etanol sebagai bahan baku bioetanol. Dengan membangun pabrik etanol di dalam negeri, dia berharap produksi bioetanol bisa dipercepat,” tukasnya.

Saat ini, lanjut dia, pihaknya terus dorong untuk membangun pabrik etanol, baik dari tebu maupun dari singkong, karena biodiesel campurannya kan CPO etanol atau metanol dan sebagian dari solar. 

“Nah, kalau kita dorong ke depan B50, kita memakai solar dari produksi dalam negeri. Jadi selisihnya enggak lagi kita impor. Sudah cukup,” jelasnya.

Sebelumnya, Bahlil mengatakan implementasi program 
biodiesel B50 ditargetkan terealisasi pada 2026. Saat ini B50 masih melalui serangkaian tahapan uji coba teknis. Adapun, B40 akan diterapkan per 1 Januari 2025.(Ert/SL)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Pertalite dan Biosolar Tetap

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga menyesuaikan harga bahan...

Dividen Elnusa Naik 13 Persen, RUPST Setujui Pembagian Rp323 Miliar

Jakarta, Situsenergi.com PT Elnusa Tbk menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp323 miliar...

PDSI Perkuat Komitmen Anti-Fraud, Tegaskan Zero Tolerance terhadap Korupsi

Jakarta, Situsenergi.com PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) mempertegas komitmennya memperkuat tata...

Wadirut Pertamina Tinjau Kilang Balongan, Tekankan Sinergi One Pertamina dan Keandalan Operasi

Jakarta, Situsenergi.com Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza mengunjungi Kilang...