Home ENERGI Mereduksi Emisi Karbon, Kementrian ESDM Siapkan Empat Strategi
ENERGI

Mereduksi Emisi Karbon, Kementrian ESDM Siapkan Empat Strategi

Share
Mereduksi Emisi Karbon, Kementrian ESDM Siapkan Empat Strategi
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan empat strategi dalam mereduksi emisi karbon yaitu pembangunan industri hilir batubara, pemanfaatan teknologi batubara bersih di pembangkit, teknologi penangkapan karbon (CCS/CCUS), dan substitusi biomassa.

“Implementasi strategi ini akan mempertimbangkan efek berganda dari proses transisi energi itu sendiri. Satu sisi menutup sejumlah kesempatan kerja dan di sisi lain akan membuka banyak peluang penciptaan lapangan kerja,” kata Menteri ESDM Arifin Tasrif saat dimulainya pertemuan High Level Advisory Group (HLAG) Coal in the Global Net Zero Transition yang dikutip di Jakarta, Rabu (22/6/2022).

Dalam pertemuan HLAG, Menteri ESDM Arifin Tasrif menjadi co-chair bersama Deputi Perdana Menteri dan Menteri Transisi Ekologis dan Demografi Spanyol Teresa Ribera.

Salah satu agenda penting yang dibahas adalah penyusunan laporan khusus mengenai kebijakan praktis untuk mengurangi emisi karbon akibat sektor batu bara. Laporan khusus itu akan menganalisa secara komprehensif dampak dari target net zero emission terhadap seluruh rantai sektor batu bara dan menjadi masukan bagi negara dalam implementasi komitmen kontribusi nasional dan target nol bersih.

“Laporan ini disusun di momentum yang tepat, di mana saat ini harga energi dunia sedang melonjak dan semakin menekankan akan pentingnya aspek ketahanan energi dan keterjangkauan,” ungkap Menteri Arifin.

Pertemuan HLAG dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari negara anggota Badan Energi Internasional (IEA), perwakilan perusahaan di sektor energi, serta organisasi pengelola pendanaan, seperti Bank Pembangunan Asia (IDB), dan Dana Investasi Iklim (CIF).

Menurut Menteri Arifin, beberapa isu yang mengemuka dalam diskusi adalah tantangan dalam menyeimbangkan strategi coal phase out dan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). Setiap negara, lanjut dia, memiliki kapasitas dan kapabilitas yang berbeda dalam proses transisi energi, dukungan pendanaan dan mekanisme pendanaan yang menarik bagi kesuksesan strategi coal phase out masing-masing negara.

“Di samping itu adalah soal keterlibatan masyarakat lokal dalam proses transisi energi untuk memastikan implementasi yang efektif dan sesuai serta urgensi dukungan aturan yang kuat dalam proses transisi energi, khususnya bagi negara-negara berkembang,” paparnya.

Lebih jauh ia mengatakan, Pemerintah Indonesia mendukung upaya strategis global dalam menekan emisi gas karbon di subsektor batubara melalui pemanfaatan teknologi dan EBT.

“Langkah ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap pencapaian target emisi nol bersih pada tahun 2060 atau lebih cepat sejalan dengan agenda Energy Transitions Working Group (ETWG) Presidensi G20 Indonesia,” ujarnya.

“Dalam beberapa tahun mendatang penggunaan batubara akan kalah pamor dengan EBT sebagai bagian dari proses transisi energi,” pungkasnya.(Ert/SL)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Rig PDSI Temukan Minyak 3.176 Barel per Hari, Sumur Baru di Prabumulih Bikin Optimistis

Jakarta, situsenergi.com Kinerja pengeboran PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) kembali mencuri...

Bioenergi Disebut Mampu Pangkas 12 Juta Ton Emisi dan Ciptakan 150 Ribu Lapangan Kerja

Jakarta, situsenergi.com Pengembangan bioenergi nasional dinilai mampu memberikan manfaat ganda, mulai dari...

Selat Hormuz dan Perpres 26/2026 : Ketika Negara Belajar Membeli Minyak dalam Keadaan Darurat

Oleh : Andi N Sommeng Ada saat ketika negara tidak cukup hanya...

Kemenkeu-ESDM Kompak Gaspol! Purbaya dan Bahlil Siap Genjot PNBP hingga Listrik Desa

Jakarta, situsenergi.com Kementerian Keuangan dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)...