Home MINERBA Salamuddin Daeng : Larangan Ekspor Batubara Menggempur Politik Harga Diri China
MINERBA

Salamuddin Daeng : Larangan Ekspor Batubara Menggempur Politik Harga Diri China

Share
Harga Minyak Dunia Naik, Pertamina Terancam Alami Kesulitan Keuangan
Pengamat Energi AEPI, Salamuddin Daeng
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Pemerintah China resmi memutuskan untuk berhenti membeli Batubara Australia. Keputusan itu diambil setelah canberra mengeluarkan dukungan terhadap investigasi China atas wabah pandemi covid-19.

China menanggapi dengan keras dengan menghentikan secara informal impor Batu bara Australia. Meskipun, konsekuensi yang akan dihadapi krisis listrik terburuk dalam beberapa tahun.

“Australia memiliki batu bara yang dibutuhkan Beijing, tetapi ekonomi terbesar kedua di dunia itu tidak mungkin membatalkan larangan tidak resmi atas impor batu bara Australia dalam waktu dekat,” kata Peneliti Senior Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng di Jakarta, Senin (3/1/2022).

“China berhenti membeli batu bara dari Australia akhir tahun lalu, setelah Canberra mendukung seruan untuk penyelidikan internasional tentang bagaimana Beijing menangani wabah Covid-19. Ini jelas dipandang berpotensi sebagai upaya menuduh China sebagai dalang dibalik virus covid 19,” sambungnya.

Indonesia adalah eksportir Batu bara kedua setelah Australia. Data resminya sekitar 550 juta ton setahun. Angka sebenarnya bisa lebih besar dari itu.

“Telah menjadi pengetahuan umum internasional bahwa ekspor negara ini jauh lebih besar dari yang dilaporkan. Modus ekspor ilegal, ekspor yang tidak dilaporkan masih sangat marak,” ujarnya.

Menurut Daeng, kendati harga Batubara internasional telah naik pada tingkat tertinggi sepanjang sejarah, namun indonesia harus mengadu nyali.

“Tampaknya ini adalah solidaritas dengan sekutunya Australia dalam hal ekspor,” ucapnya.

Patut diingat bahwa banyak perusahaan tambang Batubara di Australia adalah milik pengusaha Indonesia. Salah satunya Adaro sebuah perusahaan tambang besar Batubara dan sangat berkuasa memiliki tambang di Australia.

“Tapi Batubara Australia tidak bisa dipasarkan ke Indonesia yang over produksi dan memiliki regulasi yang mementapkan harga di bawah pasar. Jadi perusahaan tambang Australia terancam gulung tikar,” pungkasnya. (SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

APNI Dukung Aturan Baru HPM, Harga Nikel Dinilai Makin Transparan dan Adil

Jakarta, Situsenergi.com Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menyambut positif Keputusan Menteri ESDM...

PTBA Patok Target Jumbo 49,5 Juta Ton, Siap Gebrak Pasar Spanyol Hingga Rumania

​Jakarta, Situsenergi.com Emiten pertambangan batu bara pelat merah, PT Bukit Asam Tbk...

Penjualan Batubara Dongkrak Kinerja RMK Energy 2025, Laba Tembus Rp245 Miliar

Jakarta, situsenergi.com PT RMK Energy Tbk mencatat kinerja positif sepanjang 2025 dengan...

Harga Patokan Ekspor Tembaga dan Emas Melonjak, Kemendag Ungkap Pemicu Utamanya

Jakarta, situsenergi.com Kenaikan harga komoditas tambang kembali terjadi. Kementerian Perdagangan resmi menaikkan...