Home MIGAS Harga Minyak Anjlok, Brent Melemah 2,7 Persen, WTI 3,7 Persen
MIGAS

Harga Minyak Anjlok, Brent Melemah 2,7 Persen, WTI 3,7 Persen

Share
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Harga minyak merosot, Senin, didorong sentimen negatif melonjaknya kasus varian Omicron virus corona di Eropa dan Amerika Serikat, dimana hal ini memicu kekhawatiran investor bahwa pembatasan baru untuk memerangi penyebarannya dapat mengurangi permintaan bahan bakar.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup anjlok USD2 atau 2,7 persen, menjadi USD71,52 per barel. Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyusut USD2,63, atau 3,7 persen, menjadi menetap di posisi USD68,23 per barel. Demikian laporan  Reuters,  di New York, Senin (20/12/2021) atau Selasa (21/12/2021) pagi WIB.

Brent jatuh ke sesi terendahnya USD69,28 per barel, sementara WTI merosot ke USD66,04 per barel, keduanya merupakan level terendah sejak awal Desember.

“Ini adalah reaksi spontan terhadap proliferasi virus tersebut dan ketakutan bahwa penguncian dapat menyebar dengan cepat,” kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates di Houston.

Belanda melakukan penguncian, Minggu, dan kemungkinan lebih banyak pembatasan Covid-19 diberlakukan menjelang liburan Natal dan Tahun Baru di beberapa negara Eropa.

Pejabat kesehatan AS mendesak warga Amerika, Minggu, untuk mendapatkan suntikan penguat Covid-19, memakai masker dan berhati-hati jika mereka bepergian selama liburan musim dingin, dengan varian Omicron mengamuk di seluruh dunia dan akan mengambil alih sebagai jenis yang paling dominan di Amerika Serikat.

Harga minyak turun meski Moderna Inc, Senin, mengumumkan dosis booster vaksin Covid tampaknya melindungi terhadap Omicron dalam pengujian laboratorium.

Sementara itu, kepatuhan OPEC Plus terhadap pengurangan produksi minyak mencapai 117 persen pada November, naik 1 poin persentase dari bulan sebelumnya, dua sumber dari kelompok tersebut mengatakan kepada  Reuters,  karena produksi terus tertinggal dari target yang disepakati.

Di Amerika Serikat, perusahaan energi menambahkan rig minyak dan gas selama dua minggu berturut-turut.

Jumlah rig minyak dan gas, indikator awal produksi masa depan, naik tiga unit menjadi 579 dalam sepekan hingga 17 Desember, mewakili angka tertinggi sejak April 2020, tutur Baker Hughes Co. (SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Lelang 110 Blok Migas Dibuka, Sigma Energy Siap Garap Peluang Bisnis Baru

Jakarta, situsenergi.com Rencana lelang 110 blok migas oleh Kementerian ESDM langsung disambut...

Menata Ulang Subsidi BBM untuk Pemerataan Akses Energi Nasional

Oleh : Dina Nurul FitriaAnggota Dewan Energi Nasional Unsur Konsumen 2020–2025 Subsidi...

Pasar Murah Pertamina Dimulai dari Tuban, Paket Sembako Rp211 Ribu Dijual Rp30 Ribu

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina (Persero) menggelar program pasar murah untuk membantu masyarakat...

IRESS Desak Kejagung Kejar Dugaan Kerugian Pada AP BUMN Rp451 Miliar Terkait Perusahaan Samin Tan

Jakarta, situsenergi.com Penetapan Samin Tan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung dalam kasus...