Home MIGAS Minyak Terus Melambung, Brent Sentuh Angka USD83,22 Per Barel
MIGAS

Minyak Terus Melambung, Brent Sentuh Angka USD83,22 Per Barel

Share
'Mission Impossible' Itu Adalah 2030 Tanpa Impor BBM dan LPG
Share

Jakarta, situsenergi.com

Harga minyak AS menguat untuk hari kelima, Rabu, ke level tertinggi sejak 2014 di tengah kekhawatiran global tentang pasokan energi pada tanda-tanda pengetatan di pasar minyak mentah, gas alam dan batu bara.

Harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, bertambah 0,8 persen, atau 66 sen, menjadi USD83,22 per barel, diperdagangkan mendekati level tertinggi tiga tahun yang dicapai sesi sebelumnya.  

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika Serikat, tercatat menguat 0,53 persen, atau 42 sen, menjadi USD79,35 per barel, pada pukul 13.52 WIB, demikian mengutip laporan  Reuters, di Singapura, Rabu (6/10/2021).  

Harga minyak mentah Brent juga melesat untuk hari keempat karena kekhawatiran seputar pasokan, terutama setelah Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC Plus, awal pekan ini memutuskan untuk meningkatkan output sesuai rencana ketimbang menaikkannya lebih lanjut.

Senin, OPEC Plus setuju untuk mematuhi pakta Juli guna meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari setiap bulan hingga setidaknya April 2022, mengurangi pemotongan output yang berlaku sebesar 5,8 juta barel per hari.

“Penguatan harga minyak berlanjut karena investor khawatir tentang ketatnya pasar mengingat krisis energi meningkatkan permintaan,” kata ANZ.

“Peningkatan output ( OPEC Plus) jauh di bawah ekspektasi pasar, mengingat krisis energi di seluruh dunia. Tidak mengherankan, ada spekulasi bahwa OPEC akan dipaksa untuk bergerak sebelum pertemuan berikutnya jika permintaan terus melonjak.”

Akhir bulan lalu, Joint Technical Committee (JTC) OPEC Plus memperkirakan defisit pasokan 1,1 juta barel per hari tahun ini, yang bisa berubah menjadi surplus 1,4 juta barel per hari tahun depan.

Harga minyak melonjak lebih dari 50 persen tahun ini, menambah tekanan inflasi, yang dikhawatirkan negara-negara konsumen minyak mentah seperti Amerika Serikat dan India, akan menggagalkan pemulihan dari pandemi Covid-19.

Meski ada tekanan untuk meningkatkan produksi, OPEC Plus khawatir gelombang keempat infeksi Covid-19 dapat menekan pemulihan permintaan, tutur narasumber kepada  Reuters  sebelum pertemuan Senin.(SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PHR Bongkar Kinerja 2025! Produksi Migas Tembus 157 Ribu BOEPD, Laba Nyaris USD 900 Juta

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) memamerkan sederet capaian penting sepanjang...

Sumur GNK-PD28 Lampaui Target, Pertamina Drilling Catat Produksi hingga 2.184 Barel per Hari

Jakarta, Situsenergi.com PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) mencatat capaian baru melalui...

Produksi Migas PHI Lampaui Target RKAP 2025, Catat Rekor Tertinggi dalam Lima Tahun

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) mencatat kinerja produksi minyak dan...

Iriawan Ingatkan Pertamina Waspadai Risiko Global, Ketahanan Energi Jadi Prioritas

Jakarta, Situsenergi.com Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, meminta seluruh lini...