Home MIGAS Minyak Dunia Bangkit Setelah Melemah 7 Hari Berturut-Turut
MIGAS

Minyak Dunia Bangkit Setelah Melemah 7 Hari Berturut-Turut

Share
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 60 sen, atau 0,9 persen, menjadi USD65,78 per barel pada pukul 08.58 WIB, setelah mencapai level terendah sejak 21 Mei di USD64,60 per barel pada awal sesi.  

Sementara itu minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Oktober, patokan Amerika Serikat, meningkat 53 sen, atau 0,9 persen, menjadi USD62,67 per barel, pulih dari posisi USD61,74, level terendah sejak 21 Mei, yang disentuh pada awal perdagangan Asia, demikian mengutip laporan Reuters,  di Tokyo, Senin (23/8/2021).

Harga kedua patokan minyak itu berbalik dari penurunan tujuh hari, karena investor mengambil minyak mentah pada  bargain level,  meski masih ada kekhawatiran tentang bagaimana lonjakan kasus Covid-19 global dapat mempengaruhi permintaan bahan bakar dikombinasikan dengan apresiasi dolar AS untuk membatasi kenaikan.

Kedua tolok ukur tersebut menandai kerugian mingguan terbesar mereka dalam lebih dari sembilan bulan, pekan lalu – Brent anjlok sekitar 8 persen dan WTI merosot sekitar 9 persen – ketika pasar bersiap menghadapi perlambatan permintaan bahan bakar di seluruh dunia akibat lonjakan pandemi.

“Harga minyak mengambil jeda (pada Senin) setelah turun tajam pekan lalu,” kata Kazuhiko Saito, Kepala Analis Fujitomi Securities Co Ltd.

“Kami memperkirakan lebih banyak penyesuaian pekan ini, tetapi sentimen pasar kemungkinan akan tetap  bearish  dengan meningkatnya kekhawatiran atas permintaan bahan bakar yang lebih lambat di seluruh dunia.”

Banyak negara di seluruh dunia menanggapi lonjakan tingkat infeksi virus corona, yang dipicu varian Delta, dengan menambahkan pembatasan perjalanan untuk mengekang penyebaran.

China, importir minyak mentah terbesar di dunia, memberlakukan pembatasan baru dengan kebijakan virus korona ‘tanpa toleransi’, yang mepengaruhi pengiriman dan rantai pasokan global. Amerika Serikat dan China juga saling memberlakukan pembatasan kapasitas penerbangan.

Penguatan dolar AS juga menahan antusiasme investor. Mata uang tersebut diperdagangkan mendekati level tertinggi dalam lebih dari sembilan bulan terhadap mata uang utama, Senin. Harga minyak bergerak terbalik dengan dolar, membuat minyak lebih mahal bagi pembeli asing ketika  greenback  menguat. mLonjakan pandemi mendorong Federal Reserve untuk memindahkan simposium tahunan Jackson Hole, Wyoming, ke format online yang akan diadakan Jumat ini, menimbulkan pertanyaan tentang penilaian bank sentral yang lebih luas tentang dampak ekonomi akibat varian Delta saat bergerak menuju  tapering  stimulus. (SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PHR Bongkar Kinerja 2025! Produksi Migas Tembus 157 Ribu BOEPD, Laba Nyaris USD 900 Juta

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) memamerkan sederet capaian penting sepanjang...

Sumur GNK-PD28 Lampaui Target, Pertamina Drilling Catat Produksi hingga 2.184 Barel per Hari

Jakarta, Situsenergi.com PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) mencatat capaian baru melalui...

Produksi Migas PHI Lampaui Target RKAP 2025, Catat Rekor Tertinggi dalam Lima Tahun

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) mencatat kinerja produksi minyak dan...

Iriawan Ingatkan Pertamina Waspadai Risiko Global, Ketahanan Energi Jadi Prioritas

Jakarta, Situsenergi.com Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, meminta seluruh lini...