Home MIGAS Terbebani Ekspektasi Permintaan dan Ketersediaan Stok AS, Minyak Kembali Melemah
MIGAS

Terbebani Ekspektasi Permintaan dan Ketersediaan Stok AS, Minyak Kembali Melemah

Share
Terbebani Ekspektasi Permintaan dan Ketersediaan Stok AS, Minyak Kembali Melemah
Terbebani Ekspektasi Permintaan dan Ketersediaan Stok AS, Minyak Kembali Melemah
Share

New York, Situsenergi.com

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melemah 39 sen, atau 0,6 persen menjadi USD68 per barel.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), berkurang 20 sen, atau 0,3 persen, menjadi USD63,68 per barel. Kedua kontrak tersebut merosot lebih dari USD1 selama sesi itu. Demikian dikutip dari laporan  Reuters,  di New York, Rabu (17/3/2021) atau Kamis (18/3/2021) pagi WIB.

Minyak terkoreksi untuk hari keempat berturut-turut, karena terbebani ekspektasi permintaan yang lebih lemah di kawasan Eropa, menyusul terjadinya penundaan pelaksanaan vaksin covid-19 yang memicu peningkatan persediaan minyak di Amerika Serikat (AS).

Harga minyak jatuh menuju posisi terendah sesi setelah data pemerintah menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika naik 2,4 juta barel pekan lalu, menyusul laporan industri, Selasa yang memperkirakan penurunan 1 juta barel. Analis memperkirakan peningkatan 3 juta barel.

Persediaan minyak mentah Amerika meningkat selama empat pekan berturut-turut setelah operasi pengilangan di kawasan selatan terhambat oleh cuaca dingin yang parah bulan lalu. Perusahaan perlahan-lahan memulai kembali fasilitas dan keseimbangan diprediksi pulih selama beberapa pekan ke depan, kata analis.

“Lebih dari tiga perempat kenaikan 1,1 juta barel per hari pekan lalu terjadi di Gulf Coast. Kenaikan lain dalam aktivitas penyulingan dalam laporan minggu depan akan mengantarkan kita kembali ke tren penarikan persediaan,” kata Matt Smith, Direktur ClipperData.

Lebih lanjut menambah tekanan, Badan Energi Internasional mengatakan dalam laporan bulanannya bahwa harga minyak tidak mungkin meningkat secara dramatis dan berkelanjutan dan permintaan diperkirakan tidak akan kembali ke tingkat sebelum pandemi hingga 2023.

“Laporan IEA memicu aksi di antara pedagang minyak,” kata Naeem Aslam, analis Avatrade. “Kita melihat beberapa aksi jual.”

Minyak pulih dari posisi terendah bersejarah yang dicapai tahun lalu karena permintaan anjlok, didukung rekor pemotongan produksi minyak oleh Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) dan sekutunya. Brent mencapai USD71,38 per ounce pada 8 Maret, level tertinggi sejak 8 Januari 2020. (SNU/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Hari Lingkungan Hidup, Pertamina Trans Kontinental Perkuat Dekarbonisasi lewat Energi Bersih

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) menegaskan komitmennya mengurangi emisi karbon...

Pendanaan Internasional Rp7,8 Triliun Masuk! Tiga Proyek Panas Bumi PGE Siap Tancap Gas

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat kinerja impresif pada...

PGN Perkuat Ketahanan Bisnis, Optimalkan Infrastruktur Gas untuk Dongkrak Pertumbuhan

Jakarta, Situsenergi.com PT Perusahaan Gas Negara (PGN) terus memperkuat fondasi bisnis dengan...

PHR Bongkar Kinerja 2025! Produksi Migas Tembus 157 Ribu BOEPD, Laba Nyaris USD 900 Juta

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) memamerkan sederet capaian penting sepanjang...