Home ENERGI Akibat Pandemi, Kinerja Krakatau Steel Loyo
ENERGI

Akibat Pandemi, Kinerja Krakatau Steel Loyo

Share
Share

Jakarta, Situsenergy.com

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) menegaskan bahwa pandemi covid-19 berdampak cukup serius terhadap kinerja bisnisnya. Meluasnya pandemi tersebut ke berbagai negara membuat permintaan baja baik domestik atau internasional mengalami penurunan yang sangat signifikan. Hal itu membuat kinerja keuangan perseroan juga mengalami pukulan telak.

Direktur Utama KRAS, Silmy Karim, berkata bahwa secara umum industri baja nasional mengalami perlambatan kinerja. Dijelaskannya bahwa permintaan terhadap produk HRC/CRC (Hot Rolled Coil/Cold Rolled Coil) mengalami penurunan sebesar 40-50 persen dengan utilisasi sebesar 15-35 persen. Untuk produk Wire Rod utilisasinya hanya 20-25 persen sedangkan baja lapis seng utilisasinya sebesar 10-20 persen. Sementara itu baja lapis aluminium seng terjadi penurunan permintaan sebesar 20-30 persen dengan tingkat utilisasi di angka 20-40 persen.

“Akibat penurunan permintaan tersebut banyak operasional industri baja nasional terpukul dan mengalami kesulitan cash flow. Dampaknya tidak hanya dirasakan perseroan tapi juga industri baja internasional. Terjadi penurunan permintaan antara 20-50 persen secara rata-rata nasional dan tingkat utilisasi 10-40 persen dari kapasitas terpasang ,” tutur Silmy dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang disiarkan secara virtual, Selasa (24/11/2020).

Dia menambahkan, apabila kondisi ini terus berlangsung secara berkepanjangan, maka terdapat risiko produsen baja hilir  dan produsen pengguna menutup lini produksinya karena rendahnya permintaan dan utilisasi produksi. Sehingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di depan mata. Jika hal itu terjadi maka industri baja nasional menghadapi masalah yang serius karena nantinya pasar domestik akan dikuasai oleh produk baja impor.

Menurutnya, apabila hal Ini sampai terjadi maka akan berdampak terhadap semakin tingginya tingkat pengangguran dan juga defisit neraca perdagangan nasional. Seperti diketahui bahwa industri logam dasar juga merupakan rumah bagi para pekerja sekitar 827,5 ribu tenaga kerja di Indonesia, dan mengalami rata-rata peningkatan ±3 persen setiap tahunnya.

“Pada kuartal II 2020 kemarin realisasi penjualan 87 ribu ton, ini turun akibat pandemi. Pada Juli – Agustus recovery dengan rata-rata penjualan 144 ribu ton  per bulan. Kita berharap dan menargetkan di tahun 2021 kondisi pulih (penjualan) seperti layaknya penjualan sebelum covid,” pungkas Silmy. (DIN/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Solusi Percepat Transisi Energi

Jakarta, situsenergi.com Pengembangan Bio-Compressed Natural Gas (Bio-CNG) berbasis limbah kelapa sawit kini...

Rig PDSI Temukan Minyak 3.176 Barel per Hari, Sumur Baru di Prabumulih Bikin Optimistis

Jakarta, situsenergi.com Kinerja pengeboran PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) kembali mencuri...

Bioenergi Disebut Mampu Pangkas 12 Juta Ton Emisi dan Ciptakan 150 Ribu Lapangan Kerja

Jakarta, situsenergi.com Pengembangan bioenergi nasional dinilai mampu memberikan manfaat ganda, mulai dari...

Selat Hormuz dan Perpres 26/2026 : Ketika Negara Belajar Membeli Minyak dalam Keadaan Darurat

Oleh : Andi N Sommeng Ada saat ketika negara tidak cukup hanya...