Home ENERGI Peran Perempuan Dalam Penambangan Emas Sangat Strategis Bagi Ekonomi Keluarga
ENERGI

Peran Perempuan Dalam Penambangan Emas Sangat Strategis Bagi Ekonomi Keluarga

Share
Share

Jakarta, Situsenergy.com

Pusat Studi Lingkungan Hidup (KPSLH) Universitas Riau menyatakan peran perempuan dalam aktifitas penambangan emas di Indonesia cukup strategis. Meski tidak semua bagian di dalam aktivitas penambangan emas cocok kaum hawa, namun banyak diantara perempuan Indonesia yang menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja di bidang pertambangan emas skala kecil.

Koordinator KPSLH, Riau Suwondo, mengatakan aktifitas mendulang emas merupakan tradisi masyarakat di sejumlah wilayah pertambangan rakyat yang juga banyak dilakukan oleh kaum hawa. Ini dilakukan mulai dari anak-anak hingga orang tua. Khususnya di Sungai Kuantan dan Singingi,  aktivitas mendulang emas didominasi perempuan paruh baya alias ibu rumah tangga.

Hasil mendulang sekitar dua hingga tiga buncis emas per hari. Harga per buncis sekitar Rp 43.000. Untuk menghasilkan satu gram emas murni dibutuhkan berkisar 2,5 buncis emas. Alhasil, kegiatan mendulang ini banyak membantu ibu rumah tangga untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

“Perempuan memang tetap harus dilibatkan, misalnya pada aktivitas mendulang di sungai secara langsung. Namun, memang pelibatan mereka tidak untuk keseluruhan aktivitas pertambangan,” tuturnya dalam Seminar Virtual Katadata bertajuk Partisipasi Perempuan dalam Pemberdayaan Komunitas Penambang, Jumat (17/7).

Sementara Direktur Program Indonesia Pure Earth, Co-Founder WiME Budi Susilorini mengutarakan bahwa ada banyak manfaat dari pemberdayaan perempuan penambang emas. Benefit ini dirasakan tidak hanya oleh para penambang sendiri tetapi juga pelaku usaha serta lingkungan hidup.

“Bagi penambang tentunya bekerja menjadi lebih aman, pendapatan mereka meningkat dan lebih stabil. Bagi perusahaan perhiasan, bisa kolaborasi langsung dengan penambang serta mendapat material yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, kerusakan lingkungan hidup juga bisa ditekan,” ujar Susilorini.

Pemerintah yang diwakili KLHK menyatakan dukungan terhadap aktivitas pemberdayaan komunitas perempuan penambang. Pasalnya, sekitar 30 persen peran perempuan penambang memiliki peran krusial dalam kestabilan perekonomian keluarga.  Tapi di lapangan, mereka menghadapi begitu banyak tantangan.

“Misalnya, untuk pekerjaan yang sama berat tetapi perempuan dibayar lebih murah daripada laki-laki. Padahal, dengan bekerja di pertambangan yang masih menggunakan merkuri, risiko bagi perempuan usia subuh begitu tinggi, terlebih bagi perempuan hamil. Perempuan penambang juga multi beban dan bekerja lebih panjang daripada laki-laki,” kata Direktur Pengelolaan B3 KLHK Yn Insiani.

Kesetaraan gender merupakan salah satu isu di dalam SDG yang selayaknya mendapatkan perhatian berbagai pihak. Pemberdayaan terhadap komunitas perempuan penambang emas adalah salah satu isu terkait gender equality yang perlu diperjuangkan, termasuk di Indonesia. (DIN/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Solusi Percepat Transisi Energi

Jakarta, situsenergi.com Pengembangan Bio-Compressed Natural Gas (Bio-CNG) berbasis limbah kelapa sawit kini...

Rig PDSI Temukan Minyak 3.176 Barel per Hari, Sumur Baru di Prabumulih Bikin Optimistis

Jakarta, situsenergi.com Kinerja pengeboran PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) kembali mencuri...

Bioenergi Disebut Mampu Pangkas 12 Juta Ton Emisi dan Ciptakan 150 Ribu Lapangan Kerja

Jakarta, situsenergi.com Pengembangan bioenergi nasional dinilai mampu memberikan manfaat ganda, mulai dari...

Selat Hormuz dan Perpres 26/2026 : Ketika Negara Belajar Membeli Minyak dalam Keadaan Darurat

Oleh : Andi N Sommeng Ada saat ketika negara tidak cukup hanya...