Home MIGAS Penurunan Stok di AS Bikin Harga Minyak Kembali Menguat
MIGAS

Penurunan Stok di AS Bikin Harga Minyak Kembali Menguat

Share
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Harga minyak naik, Rabu, bangkit dari kerugian awal setelah data persediaan Amerika menunjukkan permintaan konsumen yang kuat dan Federal Reserve (The Fed) mengatakan akan mengakhiri pembelian obligasi era pandemi pada Maret untuk memperlambat lonjakan inflasi.

Harga tertekan hampir sepanjang hari karena kekhawatiran yang berkelanjutan bahwa pertumbuhan pasokan akan melebihi permintaan tahun depan, dan ketakutan vaksin Covid-19 mungkin kurang efektif terhadap penyebaran varian Omicron.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup naik 18 sen, atau 0,2 persen, menjadi USD73,88 per barel. Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menguat 14 sen menjadi USD70,87 per barel.

Demikian laporan  Reuters,  di New York, Rabu (15/12/2021) atau Kamis (16/12/2021) pagi WIB.

The Fed mengatakan akan mengakhiri pembelian obligasi era pandemi pada Maret dan mulai menaikkan suku bunga karena pengangguran tetap rendah dan inflasi meningkat. Harga minyak naik sejalan dengan aset berisiko lainnya seperti ekuitas Wall Street, yang merespons positif pernyataan The Fed.

Persediaan minyak mentah Amerika turun 4,6 juta barel pekan lalu dan stok penyulingan serta bensin juga menyusut, berdasarkan data mingguan pemerintah. Ekspor minyak mentah meningkat tajam, sementara produk yang dipasok oleh pengilangan, sinyal permintaan konsumen, mencapai rekor 23,2 juta barel per hari.

“Data EIA sangat kuat di semua elemen, rekor permintaan minyak tersirat, penarikan besar produk minyak mentah dan minyak,” kata Giovanni Staunovo, analis UBS.

Dikatakan, analis minyak mengantisipasi varian Omicron akan mengekang permintaan dalam beberapa bulan mendatang. Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bukti awal menunjukkan vaksin mungkin kurang efektif terhadap infeksi dan penularan terkait dengan varian Omicron, yang juga membawa risiko infeksi ulang lebih tinggi.

“Dengan semakin banyaknya informasi yang beredar tentang potensi penguncian atau pembatasan aktivitas perjalanan sebagai akibat dari Omicron, kita dapat melihat kemunduran dari sini,” kata Gary Cunningham, Direktur Tradition Energy.

Pejabat Amerika mengatakan kasus virus korona meningkat, tetapi kombinasi vaksin dua suntikan serta booster masih menetralkan penyakit tersebut.

Konsumen sudah mulai mengubah rencana perjalanan dan pengeluaran maskapai penerbangan menurun pada minggu lalu, riset Bank of America menunjukkan.

Selasa, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan lonjakan kasus Covid-19 akan mengurangi permintaan minyak global, sementara produksi minyak mentah akan meningkat, terutama di Amerika Serikat, dan pasokan akan melebihi permintaan setidaknya sampai akhir tahun depan. (SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PHR Bongkar Kinerja 2025! Produksi Migas Tembus 157 Ribu BOEPD, Laba Nyaris USD 900 Juta

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) memamerkan sederet capaian penting sepanjang...

Sumur GNK-PD28 Lampaui Target, Pertamina Drilling Catat Produksi hingga 2.184 Barel per Hari

Jakarta, Situsenergi.com PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) mencatat capaian baru melalui...

Produksi Migas PHI Lampaui Target RKAP 2025, Catat Rekor Tertinggi dalam Lima Tahun

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) mencatat kinerja produksi minyak dan...

Iriawan Ingatkan Pertamina Waspadai Risiko Global, Ketahanan Energi Jadi Prioritas

Jakarta, Situsenergi.com Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, meminta seluruh lini...