Home MIGAS Kementerian ESDM Klaim RI Jadi Negara Terdepan Terapkan Pencampuran Bahan Bakar Nabati
MIGAS

Kementerian ESDM Klaim RI Jadi Negara Terdepan Terapkan Pencampuran Bahan Bakar Nabati

Share
Kementerian ESDM Klaim RI Jadi Negara Terdepan Terapkan Pencampuran Bahan Bakar Nabati
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Edi Wibowo mengatakan, Indonesia saat ini merupakan negara yang paling terdepan dalam menerapkan pencampuran bahan bakar nabati jenis biodiesel. Pasalnya, sejak 2006 lalu, Indonesia telah memulai pemanfaatan biodiesel 2,5 persen atau B2,5. Kemudian, persentase pencampurannya meningkat menjadi biodiesel 20 persen atau B20 pada tahun 2016.

Menurut Edi, pemerintah Indonesia kemudian mengimplementasikan biodiesel 30 persen atau B30 secara nasional empat tahun berselang atau tepatnya pada tahun 2020. Nilai persentase pencampuran itu diharapkan terus berlanjut ke B40, B50, bahkan B100.

“Dengan implementasi B35 yang akan kita mulai per 1 Februari 2023, sekali lagi Indonesia menjadi yang terdepan dalam pemanfaatan biodiesel,” kata Edi dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Jumat.

Lebih jauh Edi mengatakan, sebelum melaksanakan peningkatan persentase pencampuran biodiesel, pemerintah telah melakukan beberapa persiapan teknis untuk memastikan performa penggunaan campuran bahan bakar nabati.

“Misalnya dengan pengujian pengaruh penggunaan campuran biodiesel 35 persen terhadap sistem filtrasi mesin diesel dengan hasil tidak terjadi indikasi pemblokiran filter pada pengujian Filter Blocking Tendency (FBT) maupun pengujian Filter Rig Test,” tukasnya.

Rekomendasinya tidak ada pengaruh signifikan atas penggunaan B35, dimana telah dilakukan perbaikan pada spesifikasi Biodiesel yang digunakan untuk campuran tersebut.

Sementara sebagai persiapan implementasi B40, pemerintah juga telah melaksanakan uji jalan B40 pada 27 Juli 2022 lalu. Hasil uji itu digunakan sebagai dasar pertimbangan sebelum implementasi B40.

“Kementerian ESDM terus berkomitmen untuk mendukung rencana implementasi B35 maupun B40,” pungkas Edi.

Pihaknya optimis implementasi bahan bakar nabati jenis biodiesel 35 persen atau B35 ini mampu memberikan dampak positif terhadap ekonomi domestik. Ia mengatakan, pemanfaatan B35 adalah langkah strategis untuk menghemat devisa melalui penurunan impor solar.

“Untuk program B35 di tahun 2023, target penyaluran biodiesel sebesar lebih dari 13,15 juta kiloliter yang akan menghemat devisa sekitar 10,75 miliar dolar AS atau setara Rp161 triliun,” jelasnya.

Selain menghemat devisa, lanjut dia, implementasi B35 juga bertujuan meningkatkan nilai tambah minyak sawit, membuka lapangan kerja, menurunkan emisi gas rumah kaca, dan meningkatkan bauran energi terbarukan di Indonesia.

“Program B35 diproyeksikan mampu menyerap 1,65 juta tenaga kerja dan mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 34,9 juta ton ekuivalen,” pungkasnya.(Ert/SL)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PHR Bongkar Kinerja 2025! Produksi Migas Tembus 157 Ribu BOEPD, Laba Nyaris USD 900 Juta

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) memamerkan sederet capaian penting sepanjang...

Sumur GNK-PD28 Lampaui Target, Pertamina Drilling Catat Produksi hingga 2.184 Barel per Hari

Jakarta, Situsenergi.com PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) mencatat capaian baru melalui...

Produksi Migas PHI Lampaui Target RKAP 2025, Catat Rekor Tertinggi dalam Lima Tahun

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) mencatat kinerja produksi minyak dan...

Iriawan Ingatkan Pertamina Waspadai Risiko Global, Ketahanan Energi Jadi Prioritas

Jakarta, Situsenergi.com Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, meminta seluruh lini...