Home MIGAS Harga Minyak Melejit, Brent dan WTI Naik Lebih dari 1 Persen
MIGAS

Harga Minyak Melejit, Brent dan WTI Naik Lebih dari 1 Persen

Share
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Harga minyak melesat lebih dari  1 persen, Kamis, karena rekor permintaan tersirat Amerika, penurunan stok minyak mentah dan prospek ekonomi yang optimistis dari Federal Reserve (The Fed) melampaui kekhawatiran varian Omicron virus corona yang memukul konsumsi global.

Minyak mentah dan aset berisiko lainnya seperti ekuitas juga mendapat dorongan setelah The Fed memberikan prospek ekonomi yang optimistis, mendongkrak semangat investor bahkan ketika bank sentral Amerika itu menandai berakhirnya stimulus moneter yang telah lama ditunggu-tunggu.

“Pasar takut dengan apa yang akan dilakukan The Fed, dan sekarang setelah melihat ke sekeliling dan kita tahu apa yang kita hadapi, pasar reli,” kata Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melonjak USD1,14 atau 1,5 persen, menjadi USD75,02 per barel. Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melejit USD1,51, atau 2,1 persen, menjadi menetap di posisi USD72,38 per barel. Demikian mengutip laporan Reuters,  di New York, Kamis (16/12/2021) atau Jumat (17/12/2021) pagi WIB.

Permintaan meningkat pada 2021 setelah kejatuhan tahun lalu. Rabu, Badan Informasi Energi (EIA) Amerika mengatakan produk yang dipasok oleh pengilangan–proksi untuk permintaan–melonjak pada minggu terakhir menjadi 23,2 juta barel per hari.

“Angka-angka itu menunjukkan latar belakang ekonomi yang sehat,” kata Tamas Varga, analis PVM.

“Meski pengumuman The Fed memicu lonjakan harga minyak dan ekuitas, penarikan dukungan ekonomi bersamaan dengan krisis Omicron adalah dua hambatan utama yang dihadapi pasar minyak saat ini,” papar dia.

Memberikan dukungan harga lebih lanjut, EIA juga melaporkan bahwa stok minyak mentah AS turun 4,6 juta barel, lebih dari perkiraan analis.

Di Arab Saudi, ekspor minyak mentah pada Oktober naik selama enam bulan berturut-turut ke level tertinggi sejak April 2020, menurut Joint Organisation Data Initiative (JODI), Kamis.

Membatasi kenaikan adalah kekhawatiran tentang virus dan prospek surplus pasokan tahun depan, seperti yang disebutkan oleh Badan Energi Internasional dalam laporan bulanannya minggu ini.\

Inggris dan Afrika Selatan melaporkan rekor kasus Covid-19 harian sementara banyak perusahaan di seluruh dunia meminta karyawannya untuk bekerja dari rumah, yang dapat membatasi permintaan di masa mendatang.

Kamis, AstraZeneca dan Regeneron melaporkan data yang kontras tentang efektivitas terapi antibodi Covid-19 mereka terhadap varian Omicron virus corona.

Regeneron yang berbasis di Amerika mengatakan terapi REGEN-COV-nya, juga disebut Ronapreve, kurang efektif melawan Omicron, sementara saingan Anglo-Swedia, AstraZeneca, mengatakan studi laboratorium menemukan koktail antibodi Evusheld mempertahankan aktivitas penetralan terhadap Omicron. (SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Uji Coba Biodiesel B50 Rampung Semester I 2026, Pemerintah Bidik Stop Impor Solar

Jakarta, situsenergi.com Pemerintah terus mematangkan kebijakan mandatori biodiesel sebagai strategi menekan ketergantungan...

Skor ESG Naik, Pertamina Tetap Peringkat 1 Dunia Sub Industri Integrated Oil and Gas

Jakarta, situsenergi.com Kinerja keberlanjutan PT Pertamina (Persero) terus menguat. Lembaga pemeringkat global...

Patra Jasa Group Turun Langsung! 500 Penyintas Banjir Sumatra Terima Bantuan Kemanusiaan

Jakarta, situsenergi.com Patra Jasa Group bergerak cepat membantu warga terdampak banjir bandang...

Pertamina EP Temukan Sumur Minyak Baru di Adera, Potensi 3.442 BOPD

Jakarta, Situsenergi.com PT Pertamina EP (PEP) Adera Field kembali mencatat temuan penting...