Jakarta, situsenergi.com
Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) terus menunjukkan peran strategis sebagai penggerak ekonomi nasional dan daerah. Aktivitas sektor ini tidak hanya menyumbang penerimaan negara, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi masyarakat.
Data menunjukkan, Provinsi Riau menerima Dana Bagi Hasil (DBH) migas sebesar Rp3,6 triliun serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) migas Rp3,9 triliun pada 2023. Sementara itu, Kementerian ESDM mencatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) migas mencapai Rp105,4 triliun sepanjang 2025.
Dosen Universitas Pertamina, Rinto Pudyantoro, menegaskan kontribusi sektor ini tidak berhenti pada penerimaan fiskal saja. Ia menilai aktivitas hulu migas juga menggerakkan ekonomi lokal melalui belanja barang dan jasa, penyerapan tenaga kerja, hingga pembangunan infrastruktur.
“Multiplier effect industri hulu migas tidak berhenti pada penerimaan negara, tetapi juga menjalar ke berbagai sektor, termasuk tenaga kerja lokal dan penguatan ekonomi daerah,” ujar Rinto.
Selain itu, sektor ini turut menghadirkan manfaat melalui program tanggung jawab sosial dan pengembangan masyarakat. Namun, Rinto mengingatkan dampak ekonomi tersebut sangat bergantung pada kebijakan pemerintah daerah dalam mengelola dana yang diterima.

Di tengah tren penurunan produksi, industri hulu migas tetap menjadi pilar penting ekonomi nasional. Dengan pengelolaan yang tepat, sektor ini tidak hanya berperan sebagai penyedia energi, tetapi juga sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan di berbagai daerah. (DIN/GIT)
Leave a comment