Home OPINI Sofyano Zakaria: Jangan Biarkan Beban Keuangan PLN Berujung pada Beban Masyarakat
OPINI

Sofyano Zakaria: Jangan Biarkan Beban Keuangan PLN Berujung pada Beban Masyarakat

Share
Ilustrasi kondisi keuangan PLN yang mencatat kerugian Rp3,92 triliun pada semester I 2026.
Share

Jakarta, situsenergi.com

Kerugian PT PLN (Persero) sebesar Rp3,92 triliun pada semester I 2026 patut menjadi perhatian serius pemerintah.
Pasalnya, pada periode yg sama tahun lalu, PLN masih membukukan keuntungan. Kondisi ini perlu dicermati, bukan semata-mata dari sisi kinerja korporasi, melainkan juga dari dampaknya terhadap ketahanan energi nasional dan kemampuan negara menjaga keterjangkauan tarif listrik bagi masyarakat.

Pengamat Kebijakan Energi, Sofyano Zakaria, menilai perubahan kondisi keuangan PLN harus menjadi momentum untuk mengevaluasi berbagai kebijakan yang berpotensi menambah beban operasional perusahaan listrik negara tersebut.

“PLN bukan perusahaan biasa. Tugasnya menyangkut hajat hidup orang banyak. Karena itu, ketika keuangannya mengalami tekanan, pemerintah harus melihat persoalannya secara menyeluruh, termasuk kebijakan pasokan energi primer dan formula yang memengaruhi beban keuangan PLN,” ujar Sofyano yang juga Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) itu.

Berdasarkan data keuangan yang diberitakan Katadata, pendapatan usaha PLN pada semester I 2026 mencapai Rp327,15 triliun, meningkat 16,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, beban usaha justru melonjak 19,76 persen menjadi Rp300,98 triliun. Beban bahan bakar dan pelumas mencapai Rp118,33 triliun, sedangkan pembelian tenaga listrik mencapai Rp111,74 triliun. PLN masih membukukan laba usaha Rp26,17 triliun, tetapi akhirnya mencatatkan rugi periode berjalan Rp3,92 triliun.

“Angka ini menunjukkan bahwa besarnya pendapatan tidak otomatis menjamin keuntungan. Ketika beban meningkat lebih cepat daripada pendapatan, ruang keuangan perusahaan akan semakin tertekan,” kata Sofyano.

Menurutnya, salah satu persoalan yang perlu ditelusuri adalah kepastian pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Penataan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan batu bara harus benar-benar memperhitungkan kebutuhan pembangkit PLN, bukan hanya kepentingan produksi dan perdagangan komoditas.

Sofyano berpandangan, pemerintah perlu memastikan apakah penataan RKAB, pelaksanaan kewajiban pasokan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO), kontrak pengadaan, serta persoalan distribusi turut memengaruhi kelancaran pasokan batu bara di sejumlah pembangkit.

Jika pasokan batu bara terganggu, PLN berpotensi harus mengoptimalkan pembangkit lain, termasuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang menggunakan bahan bakar minyak.
Padahal, biaya pembangkitan listrik berbahan bakar solar pada umumnya jauh lebih mahal dibandingkan pembangkitan berbasis batu bara.

“Jangan sampai persoalan pasokan batu bara justru membuat PLN harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menghasilkan listrik. Kalau itu terjadi, dampaknya bukan hanya pada biaya operasional, tetapi juga pada kesehatan keuangan PLN. Karena itu, hubungan antara RKAB, pasokan batu bara, dan peningkatan penggunaan PLTD harus diperiksa dengan data operasional yang terbuka,” tegasnya.

Sofyano juga mengingatkan pentingnya menjaga arus kas PLN. Kerugian akuntansi tidak otomatis berarti perusahaan mengalami kekurangan kas, tetapi apabila penerimaan terlambat sementara biaya operasional harus dibayar tepat waktu, tekanan likuiditas dapat muncul. Dalam kondisi demikian, PLN berpotensi membutuhkan pembiayaan perbankan untuk memenuhi kewajiban operasionalnya.

Pinjaman memang dapat menjadi instrumen pengelolaan kas.
Namun, jk digunakan utk menutup kesenjangan arus kas secara berulang, biaya bunga dan kewajiban pembayaran dapat menambah tekanan keuangan perusahaan. Karena itu, pemerintah perlu memastikan kecukupan dan ketepatan waktu pembayaran subsidi maupun kompensasi listrik, sekaligus memperbaiki faktor biaya yang dapat dikendalikan.

“Saya juga mendesak Pemerintahan Presiden Prabowo untuk mengoreksi kembali formula TOP yang berlaku. Evaluasi ini perlu dilakukan secara terbuka, terukur, dan berdasarkan perhitungan biaya yang nyata agar formula tersebut tidak justru menambah beban PLN,” ujar Sofyano.

Ia menilai koreksi TOP perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan keuangan PLN. Apabila beban perusahaan dapat ditekan secara struktural, kebutuhan dukungan subsidi dan kompensasi dari negara juga berpeluang lebih terkendali. Sebaliknya, jika tekanan biaya dibiarkan, pemerintah akan menghadapi pilihan yang semakin sulit antara menambah dukungan fiskal atau mempertimbangkan penyesuaian tarif yang dapat membebani masyarakat.

Menurut Sofyano, evaluasi TOP juga harus mempertimbangkan kaitannya dengan TDP sebagaimana dimaksud dalam skema kebijakan yang berlaku. Pemerintah perlu menghitung dampak setiap perubahan formula terhadap biaya penyediaan listrik, kebutuhan subsidi, dan kemampuan masyarakat membayar listrik.

“Yang kita harapkan bukan sekadar PLN kembali mencatatkan keuntungan, melainkan sistem kelistrikan nasional yang sehat, pasokan energi yang terjamin, dan tarif listrik yang tetap terjangkau. Pemerintah tidak perlu menunggu tekanan keuangan semakin besar untuk melakukan koreksi kebijakan,” tutup Sofyano.

Sekolah di Kupang Dapat Suntikan Baru, Pertamina NRE Benahi Sanitasi SD Alak Kupang, Situsenergi.com Fasilitas sanitasi UPTD SD Negeri Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, mendapat perhatian baru. Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menyalurkan bantuan untuk memperbaiki sarana sanitasi yang digunakan siswa dan guru. Pertamina NRE menentukan bantuan tersebut setelah melakukan rapid assessment pada 25 September 2026. Tim perusahaan bertemu pihak sekolah sekaligus melihat langsung kondisi sarana dan prasarana sebelum menentukan kebutuhan yang perlu mendapat dukungan. Berawal dari Cek Langsung ke Sekolah Penyerahan bantuan berlangsung di UPTD SD Negeri Alak pada Kamis (1/10/2026). Direktur Utama Pertamina NRE John Anis dan Corporate Secretary Pertamina NRE Sri Nur Hidayati hadir dalam kegiatan tersebut bersama Kepala Sekolah UPTD SD Negeri Alak Marlin Koreh. John mengatakan perusahaan ingin memastikan program sosial memberikan manfaat yang benar-benar terasa bagi penerima. “Kami berharap bantuan ini dapat mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang lebih layak, bersih, dan nyaman bagi siswa maupun para guru dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar,” ujar John. Menurutnya, Pertamina NRE memilih bentuk bantuan berdasarkan kebutuhan yang perusahaan temukan langsung di lapangan. Pendekatan tersebut diharapkan membuat program tanggung jawab sosial perusahaan lebih relevan dan berkelanjutan. “Kami ingin setiap program CSR Pertamina NRE hadir berdasarkan kebutuhan masyarakat, sehingga manfaat yang diberikan benar-benar dapat dirasakan secara langsung,” tambah John. Sanitasi Jadi Perhatian Sri Nur Hidayati menilai fasilitas sanitasi memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan nyaman. “Melalui bantuan ini, Pertamina NRE berupaya mendukung pemenuhan kebutuhan dasar di lingkungan sekolah, khususnya fasilitas sanitasi yang digunakan sehari-hari oleh siswa dan guru,” kata Sri. Bagi pihak sekolah, dukungan tersebut membantu meningkatkan kelayakan fasilitas yang menunjang aktivitas sehari-hari. Marlin Koreh menyampaikan apresiasi atas perhatian Pertamina NRE terhadap kondisi sarana sekolah. “Kami menyampaikan terima kasih kepada Pertamina NRE atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Perbaikan fasilitas sarana sekolah seperti ini sangat membantu sekolah dalam menyediakan sarana yang lebih layak dan nyaman bagi siswa maupun guru,” ujar Marlin. Pertamina NRE Kejar Manfaat yang Nyata Bantuan untuk SD Negeri Alak menjadi bagian dari komitmen Pertamina NRE dalam menjalankan program tanggung jawab sosial dan lingkungan berbasis kebutuhan penerima manfaa

Bagi kepentingan ketahanan energi nasional, menjaga PLN tetap sehat bukan pilihan, melainkan kebutuhan. (•)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

ANDAMAN (Andalan Masa Depan)

Oleh: Salis AprilianSenior Advisor to IGS (Indonesian Gas Society) Aceh tidak akan...

HILIR YANG TERLUPAKAN

Oleh: Salis Aprilian Senior Advisor Indonesian Gas Society (IGS) Dalam pembahasan Rancangan...

Jangan Sekadar Menyinggung Mobil Mewah, Pemerintah Harus Tegas Atur BBM Subsidi

Sofyano ZakariaPengamat Kebijakan Energi Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengenai masih adanya...

OUTRUNNING DECLINE:Berlari Lebih Cepat Dari Laju Penurunan Produksi

Oleh: Salis AprilianAnggota Dewan Kehormatan IATMI (Ikatan Ahli Perminyakan Indonesia)* Industri hulu...