JAKARTA, Situsenergi.com
Pertamina membawa strategi besar menghadapi tantangan energi Indonesia ke IdeaFest 2026. Perusahaan energi nasional itu mengenalkan Dual Growth Strategy yang menggabungkan penguatan bisnis energi eksisting dan pengembangan bisnis rendah karbon.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menjelaskan strategi tersebut dalam sesi IdeaFest 2026 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026). Menurutnya, generasi muda perlu memahami tantangan energi sekaligus ikut mendorong inovasi untuk kebutuhan masa depan.
Pertamina menghadapi tantangan besar karena konsumsi energi nasional masih lebih tinggi daripada kemampuan produksi dalam negeri. Kondisi tersebut membuat Indonesia perlu mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan energi.
“Sudah lama sekali kita melakukan impor. Artinya, konsumsi kita lebih tinggi daripada produksi nasional,” ujar Arya.
Karena itu, Pertamina menjalankan dua strategi secara bersamaan. Perusahaan tetap mengoptimalkan bisnis energi yang sudah berjalan, sekaligus membangun sumber pertumbuhan baru melalui energi rendah karbon.

“Untuk memenuhi kebutuhan saat ini, kita harus menjaga ketahanan produksi agar masyarakat tetap mendapatkan BBM. Di sisi lain, kita juga membangun bisnis rendah karbon dan energi baru terbarukan,” jelas Arya.
Strategi tersebut mencakup pengembangan panas bumi, energi surya, hingga Sustainable Aviation Fuel (SAF). Pertamina juga memanfaatkan minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) sebagai salah satu bahan baku SAF.
Pertamina mengumpulkan minyak jelantah lalu mengolahnya di Kilang Pertamina Cilacap bersama bahan baku pendukung lainnya. Proses tersebut menghasilkan bahan bakar penerbangan rendah karbon.
“Minyak itu kita buat untuk bahan bakar pesawat udara. Namun jangan khawatir, ini aman karena risetnya sudah diinisiasi sejak 2015, diteliti secara ketat dan diuji coba dari 2021 hingga 2025,” kata Arya.
SAF berbasis minyak jelantah itu kemudian digunakan dalam penerbangan Pelita Air Service, anak perusahaan Pertamina, untuk rute Jakarta–Bali.
Menurut Arya, langkah tersebut memperlihatkan bahwa transisi energi dan ketahanan energi bisa berjalan bersamaan. Pertamina tetap memenuhi kebutuhan energi saat ini sembari membangun fondasi energi ramah lingkungan untuk masa depan.

“Untuk memenuhi kebutuhan kita, energi yang existing tetap dijalankan, sembari terus mengembangkan energi yang ramah lingkungan,” pungkasnya. (*)
Leave a comment