Jakarta, Situsenergi.com
Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 menghadapi tantangan besar menjaga produksi migas dari lapangan-lapangan yang sudah matang. Salah satu tantangan terberat datang dari Blok Rokan yang telah berproduksi sejak 1952.
Direktur Utama PHR Muhamad Arifin mengatakan Blok Rokan mengalami natural decline lebih dari 30 persen setiap tahun. Karena itu, perusahaan perlu menjalankan strategi khusus untuk mempertahankan produksi sekaligus mencari sumber pertumbuhan baru.
“Menjaga produksi dari lapangan mature membutuhkan upaya yang semakin kompleks. Karena itu kami menjalankan strategi yang tidak hanya mempertahankan baseline produksi, tetapi juga menciptakan sumber pertumbuhan baru,” ujar Arifin.
Hingga semester I 2026, PHR Regional 1 menyumbang sekitar 31 persen terhadap lifting minyak nasional atau sekitar 177 ribu barel per hari. Kontribusi tersebut juga mencakup 39 persen produksi minyak dan 27 persen produksi gas Subholding Upstream Pertamina.

Pada periode yang sama, produksi minyak PHR Regional 1 mencapai 178,03 MBOPD, sedangkan produksi gas sebesar 746,80 MMSCFD. Adapun lifting minyak tercatat 177,47 MBOPD dan lifting gas mencapai 545,25 MMSCFD.
Untuk menjaga kinerja tersebut, PHR menjalankan tiga strategi utama, yakni Energy Security, Energy Transition, serta New Business & Strengthening Enablers. Implementasinya mencakup optimalisasi teknologi recovery, eksplorasi, pengembangan gas, dekarbonisasi, digitalisasi, hingga pengembangan bisnis CCS.
Hingga Juni 2026, PHR telah menyelesaikan tiga sumur eksplorasi dan merealisasikan 163 sumur eksploitasi. Perusahaan juga menambah cadangan P1 sebesar 6,26 MMBOE serta mencatat temuan sumber daya 2C sebesar 16,49 MMBOE.
“Kami meyakini kombinasi inovasi teknologi, investasi yang berkelanjutan, serta eksplorasi agresif akan menjadi kunci menjaga produksi migas nasional di tengah tantangan lapangan mature sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia,” kata Arifin. (*)
Leave a comment