Jakarta, situsenergi.com
Harga minyak mentah dunia melonjak signifikan 6,17 persen ke level USD92,19 per barel, memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global.
Kenaikan tajam ini terjadi di tengah tensi geopolitik yang semakin kompleks, termasuk serangan Houthi terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah serta ancaman blokade di Selat Bab El Mandep. Jalur vital ini menjadi rute perdagangan sekitar 12% minyak dunia, sehingga jika tertutup, dampaknya akan meluas ke pasokan energi global.
“Di tengah belum meredanya konflik di Selat Hormuz yang menjadi jalur 20% berdagangan minyak global, kini muncul lagi ancaman penutupan Selat Bab El Mandep,” kata Imam Gunadi, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas di Jakarta, Jumat (24/7/206).
Di sisi lain, komoditas emas justru terkoreksi 1,96 persen ke USD4.049,8 per troy ounce, sementara batubara melemah tipis 0,08 persen ke USD130,75 per metrik ton. Pergerakan variatif komoditas ini mencerminkan ketidakpastian pasar yang dipicu oleh kombinasi faktor geopolitik dan fundamental energi.

Ia menekankan bahwa dinamika harga minyak menjadi variabel utama yang harus dicermati investor dan pelaku pasar. Selain itu, ancaman terhadap jalur distribusi minyak di kawasan Timur Tengah menambah risiko jangka pendek. “Jika Selat Bab El Mandep benar-benar tertutup, pasokan energi global akan terganggu lebih luas. Ini bukan hanya soal harga, tapi soal suplai yang bisa memicu gejolak lebih besar,” katanya. (DIN/GIT)
Leave a comment