Jakarta, situsenergi.com
Lonjakan harga LNG global menekan pasar energi dunia. Kerusakan fasilitas utama LNG di Iran dan Qatar membuat pasokan terganggu, sehingga harga acuan Japan Korea Marker (JKM) melonjak lebih yang sempat menyentuh USD22,3/MMBTU.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro menegaskan kenaikan harga LNG berdampak langsung pada biaya energi industri di berbagai negara. “Peningkatan harga LNG global memberikan dampak secara langsung terhadap meningkatnya harga gas, termasuk harga gas untuk sektor industri di tiap negara,” ujarnya, Senin (29/5/2026).
Oleh karenanya, penyesuaian tetap diperlukan karena pasokan gas PGN sebagian besar (21%) berasal dari regasifikasi LNG yang lebih mahal dibanding gas pipa. Berdasarkan Permen ESDM No.15/2022, harga LNG mencakup biaya tambahan seperti pengangkutan, penyimpanan, dan regasifikasi. Hal ini membuat harga gas industri non-HGBT naik menjadi USD21–25/MMBTU.
Untuk itu, penyesuaian regulasi agar kebijakan harga gas lebih tepat sasaran. Ia mendorong agar pasokan gas pipa ditambah untuk mengurangi ketergantungan LNG, mengevaluasi alokasi HGBT agar sesuai kebutuhan industri, serta memberikan fleksibilitas harga.

“Pemberian insentif pajak secara langsung juga mampu menjaga dan meningkatkan kinerja dan daya saing industri nasional,” kata Komaidi. (DIN/GIT)
Leave a comment